Friday, 15 Zulqaidah 1442 / 25 June 2021

Friday, 15 Zulqaidah 1442 / 25 June 2021

AS Berhadapan dengan 3 Tantangan Pengendalian Covid-19

Rabu 23 Sep 2020 09:12 WIB

Rep: Santi Sopia/ Red: Reiny Dwinanda

Ilustrasi pandemi Covid-19. Musim flu, musim dingin, dan pembukaan sekolah menjadi tantangan bagi pengendalian Covid-19.

Ilustrasi pandemi Covid-19. Musim flu, musim dingin, dan pembukaan sekolah menjadi tantangan bagi pengendalian Covid-19.

Foto: Pixabay
Para pakar menyerukan agar laju penularan Covid-19 dikendalikan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Di tengah kasus pandemi Covid-19 yang terus naik-turun, para peneliti menilai laju infeksi virus SARS-CoV-2 harus dikendalikan karena dunia akan segera menghadapi beberapa tantangan secara bersamaan. Tantangan pertama adalah musim flu.

Musim flu yang akan segera datang dapat membebani atau memaksimalkan kapasitas rumah sakit, karena ratusan ribu orang Amerika Serikat (AS) yang terkena flu biasanya dirawat di rumah sakit. Secara medis, jika memiliki salah satu dari dua virus, maka dapat membuat lebih rentan tertular virus lainnya.

"Anda akan meminta semua pasien ini datang ke rumah sakit dan dokter dengan gejala virus corona atau flu biasa," kata ahli epidemiologi Dr. Celine Gounder, dikutip CNN.

Orang dengan flu biasa juga ditangani atau dicurigai sebagai gejala Covid-19. Jadi itu situasi yang sangat berbahaya dan menakutkan.

Selain musim flu, cuaca dingin juga akan segera tiba. Situasi ini akan membuat orang lebih banyak berkumpul di dalam ruangan sehingga risiko penyebaran virus lebih tinggi dibandingkan dengan pertemuan di luar ruangan.

Tantangan berikutnya datang dari sekolah. Dari segi akademis, jutaan siswa bergulat dengan pembelajaran daring, namun juga banyak sekolah yang membawa siswa kembali ke kelas. Athens-Clarke County, Georgia untuk Universitas Georgia, misalnya. Namun kegiatan yang dibuka kembali malah  berdampak pada "lonjakan dramatis" dalam kasus-kasus Covid-19.

Baca Juga

"Padahal sebelumnya jumlah kasus lebih rendah maupun jumlah kematian sepanjang musim panas. Jelas, ini karena kembalinya sejumlah besar mahasiswa yang tidak ada di sini selama musim panas," kata Walikota Kelly Girtz.

Apa kabar vaksin Covid-19?
Para ahli kesehatan banyak menekankan bahwa vaksin Covid-19 mungkin tidak tersedia untuk umum hingga 2021. Meski begitu, ada tanda-tanda yang tampaknya cukup menjanjikan di antara beberapa vaksin yang saat ini sedang dalam uji coba Fase 3.

CEO Pfizer Albert Bourla mengatakan kepada CBS "Face the Nation", bahwa ada peluang yang cukup baik. Para peneliti akan segera mendapat hasil pada akhir Oktober terkait vaksin eksperimental yang diciptakan.

"Kalau begitu, tentu saja tugas regulator untuk mengeluarkan lisensi atau tidak," kata Bourla.

Sementara itu, University of Oxford sempat menunda pengujian akibat salah satu sukarelawannya menderita penyakit yang tidak dapat dijelaskan. Para ahli mengeklaim hal seperti itu bukan hal aneh dalam proses ujicoba.

Pembuat vaksin melaporkan kemajuan dengan merekrut peserta uji coba minoritas, yang telah diupayakan dalam beberapa pekan terakhir. Uji coba vaksin Covid-19 cukup lambat dalam merekrut relawan minoritas dan itu bisa menunda pemberian vaksin.

"Saya pikir kita harus berusaha untuk memiliki populasi yang lebih beragam," kata Bourla kepada CBS.

Bourla menekankan pentingnya memiliki kelompok sukarelawan yang beragam mengingat meningkatnya dampak Covid-19 terhadap komunitas kulit berwarna. Saat ini, sebenarnya populasi yang secara global hanya 60 persen Kaukasia, sisanya minoritas 40 persen.

Moderna, yang juga sedang dalam pengujian fase 3 untuk vaksinnya, mengeklaim pendaftaran relawan dari kelompok minoritas meningkat.  Sekitar 59 persen peserta berkulit putih, 22 persen Hispanik, 11 persen berkulit hitam, lima persen Asia, dan tiga persen dari populasi lain.

Diperlukan waktu bertahun-tahun untuk memvaksinasi semua orang di seluruh dunia. Produsen vaksin terbesar di dunia mengeklaim jika vaksin Covid-19 membutuhkan dua dosis, mungkin pada 2024 semua orang dapat tervaksinasi.

Adar Poonawalla, chief executive officer dari Serum Institute of India, mengatakan kepada Financial Times bahwa jika vaksin tersebut membutuhkan dua dosis untuk bekerja, dunia akan membutuhkan sekitar 15 miliar dosis. Diprediksi butuh waktu empat sampai lima tahun sampai semua orang di dunia mendapatkan vaksin.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA