Ahad 20 Sep 2020 17:39 WIB

IDI: Pakai Scuba dan Buff Sama Seperti tak Pakai Masker

Masker kain harus penuhi dua unsur, yakni jenis pori-porinya dan menempel di kulit.

Rep: Rr Laeny Sulistyawati/ Red: Ratna Puspita
Masker scuba. Anggota Bidang Protokol Tim Mitigasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Eka Ginanjar mengatakan mengenakan masker scuba dan buff sama seperti tidak mengenakan masker yang seharusnya berfungsi melindungi pernafasan dari droplet dan mikrodroplet.
Foto: Wihdan Hidayat / Republika
Masker scuba. Anggota Bidang Protokol Tim Mitigasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Eka Ginanjar mengatakan mengenakan masker scuba dan buff sama seperti tidak mengenakan masker yang seharusnya berfungsi melindungi pernafasan dari droplet dan mikrodroplet.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Anggota Bidang Protokol Tim Mitigasi Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Eka Ginanjar mengatakan, mengenakan masker scuba dan buff sama seperti tidak mengenakan masker yang seharusnya berfungsi melindungi pernapasan dari droplet dan mikrodroplet. Jenis bahan yang berpori besar membuat pemakaiannya tidak efektif melindungi diri dari penularan virus corona SARS-CoV2 (Covid-19). 

"Perlindungan buff dan scuba hanya 5 persen, jadi kasarnya ya sama seperti tidak memakai masker," kata dia saat dihubungi Republika.co.id, Ahad (20/9).

Baca Juga

Eka mengatakan, masker kain harus memenuhi dua unsur, yakni jenis pori-porinya dan bisa menempel di kulit. Scuba dan buff tidak memenuhi unsur-unsur tersebut sehingga perlindungannya sangat tidak diefektif ketika dikenakan.

Eka menerangkan, bahan scuba fleksibel dan elastis sehingga rongga kainnya membesar ketika ditarik. Sementara Buff, dia melanjutkan, memiliki pori-pori besar, dan terbuat dari jenis kain yang tidak bisa menempel di muka sehingga udara masih memungkinkan keluar masuk lewat celah itu. 

Ia mengatakan, memakai masker kain yang baik adalah yang terdiri dari tiga lapisan dan bahan utamanya adalah katun. "Kalau pakai masker kain yang ideal tiga lapis saja perlindungannya bisa 70 sampai 80 persen," katanya.

Ia menyebutkan, lapisan pertama atau terluar adalah katun anti air yang tidak menyerap air untuk menahan cipratan droplet dari luar. Kemudian, lapisan kedua atau bagian tengah adalah katun yang bisa menapis. 

Terakhir adalah lapisan ketiga yang terdiri dari katun yang menyerap air karena bisa menyerap cipratan droplet pemakainya. Ia menambahkan, sebenarnya masyarakat bisa membuat sendiri masker ini atau meski hanya dua lapis kemudian dimodifikasi dengan tisu. 

"Ini masker ideal ya. Tetapi masyarakat memodifikasinya dengan macam-macam, misalnya memakai kain katun motif batik tetapi hanya satu lapis atau scuba atau buff. Padahal itu tidak efektif," katanya 

Sebab, ia menambahkan, ada syarat yang harus dipenuhi, yaitu pertama jenis kain dan kedua bisa menempel di wajah. Tetapi faktanya, dia melanjutkan, seringkali masker kain ini terlihat tembus pandang karena pori-porinya terlalu besar. 

Selain memakai masker dengan benar, ia meminta masyarakat juga menerapkan protokol kesehatan lainnya yaitu menjaga jarak dan mencuci tangan dengan sabun. "Semua harus dijalankan seiring sejalan karena masker hanya salah satu dari protokol kesehatan 3M," katanya. 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement