Ahad 20 Sep 2020 07:25 WIB

Bangkitkan Pariwisata, Lombok Mulai Terapkan Protokol CHSE 

Salah satu pencegahan penyebaran Covid-19 adalah dengan menjaga kebersihan.

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Friska Yolandha
Foto udara kawasan destinasi wisata pantai Senggigi di Kecamatan Batulayar, Lombok Barat, NTB, Rabu (15/7/2020). Pulau Lombok dan Bali masuk sepuluh pulau terbaik Asia dalam ajang
Foto: ANTARA/AHMAD SUBAIDI
Foto udara kawasan destinasi wisata pantai Senggigi di Kecamatan Batulayar, Lombok Barat, NTB, Rabu (15/7/2020). Pulau Lombok dan Bali masuk sepuluh pulau terbaik Asia dalam ajang

REPUBLIKA.CO.ID, LOMBOK -- Lombok sebagai salah satu destinasi super prioritas mulai menerapkan protokol kesehatan berbasis CHSE (Cleanliness, Health, Safety, and Environmental Sustainability) sebagai upaya untuk mewujudkan pariwisaya berkelanjutan sekaligus mendorong destinasi wisata di dalamnya dapat bangkit kembali. Deputi Bidang Produk Wisata dan Penyelenggara Kegiatan (Event) Kemenparekraf, Rizki Handayani, mengatakan, ketika tidak ada wisatawan yang datang berkunjung akibat pandemi maka ini merupakan waktu yang tepat untuk menghidupkan kembali sekaligus membersihkan alam Indonesia.

“Karena yang bisa mencegah penyebaran Covid-19 ini di antaranya dengan menjaga kebersihan. Masalah kebersihan ini bukan hanya melibatkan diri sendiri, tetapi juga kebersihan lingkungan yang ada di sekitar kita,” kata Rizki dalam keterangannya, Ahad (20/9).

Lebih lanjut, mengingat pola wisatawan yang telah berubah dari mass tourism ke quality tourism maka lebih banyak wisatawan akan mencari destinasi wisata yang mengedepankan hygiene sekaligus memberikan rasa aman dan nyaman dalam berwisata. Oleh karena itu, kata dia, pemerintah hadir untuk mewujudkan aspek kebersihan, kesehatan, dan kelestarian lingkungan guna membangun pariwisata berkelanjutan.

Rizki Handayani berharap melalui revitalisasi bumi ini dapat meningkatkan citra pariwisata Indonesia. Khususnya, kepada wisatawan mancanegara bahwa Indonesia sedang bersiap untuk menerima wisatawan kembali.

Analis Kebijakan Kemenparekraf, Noviendi Makalam, mengatakan salah satu yang harus tetap dipertahankan di masa pandemi dan setelah pandemi berakhir adalah penerapan protokol kesehatan berbasis CHSE. Hal ini dapat menjadikan destinasi pariwisata dan ekonomi kreatif di Indonesia untuk berkembang dengan baik dan berkelanjutan.

“Pandemi ini memberikan pelajaran yang berharga bahwa kita sebagai manusia harus menjaga dan merawat bumi ini dengan sebaik-baiknya,” kata Noviendi.

Sementara itu, Founder & Executive Director of Divers Clean Action, Swietenia Puspa Lestari, menjelaskan kegiatan revitalisasi bumi bukan hanya sekadar bersih-bersih pantai tetapi memberikan insight mengenai langkah-langkah yang harus diterapkan untuk mewujudkan CHSE di setiap titik destinasi.

Salah satu masalah yang dihadapi di setiap titiknya ialah mengenai kebersihan.

“Hal ini tercermin dari data-data hasil pembersihan sampah yang kita lakukan bersama lebih dari 1.600 pekerja wisata bahari di 16 titik yang tersebar di Bali dan Lombok. Dari sampah yang dikumpulkan di area Bali dan Lombok, sekitar 3,11 ton berhasil ditangani,” ujar Swietenia.

Swietenia berharap revitalisasi bumi ini tidak hanya sebagai seremonial saja, tetapi langkah awal untuk menentukan langkah selanjutnya guna melestarikan lingkungan alam Indonesia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement