Friday, 2 Syawwal 1442 / 14 May 2021

Friday, 2 Syawwal 1442 / 14 May 2021

Sekjen MUI Desak Pembentukan Tim Investigasi Independen

Senin 14 Sep 2020 18:49 WIB

Rep: Febryan A/ Red: Hasanul Rizqa

Sekjen MUI Anwar Abbas.

Sekjen MUI Anwar Abbas.

Foto: darmawan / republika
Pembentukan tim investigasi independen bukan berarti tak percaya kerja kepolisian

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Penyerangan terhadap seorang mubaligh nasional, Syekh Ali Jaber, di Bandar Lampung, Lampung, kemarin, mengingatkan sebagian pihak pada kasus-kasus serupa yang pernah terjadi di Tanah Air beberapa waktu lalu.

Sekretaris Jenderal (Sekjen) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Buya Anwar Abbas mengimbau pemerintah untuk membentuk tim investigasi yang independen guna mengungkap fakta di balik banyaknya kasus penyerangan terhadap ulama.

Sebab, selain sudah terjadi berulang kali, pelakunya juga kerap diklaim mengidap gangguan jiwa.

Baca Juga

"Saya rasa supaya masyarakat tidak resah, maka bagi saya kehadiran tim investigasi independen dan atau tim pencari fakta independen harus diterjunkan," kata Buya Anwar kepada Republika, Senin (14/9).

Syekh Ali Jeber dilaporkan mengalami luka cukup parah karena ditusuk orang tak bertanggung jawab di halaman Masjid Falahuddin, Bandar Lampung, pada Ahad (13/9). Pelaku penusukan itu merupakan seorang pemuda berinisial AA. Orang tua AA kepada polisi sudah mengatakan, putranya itu mengidap gangguan jiwa.

Kapolda Lampung Irjen Pol Purwadi Arianto menyebut pihaknya tak akan begitu saja menerima klaim tersebut. Pihaknya bakal mengecek kejiwaan pelaku dengan meminta bantuan dokter dari rumah sakit jiwa.

Bagi Buya Anwar, klaim 'gangguan jiwa' dari orang tua AA itu cukup mengherankan. Hal ini mengingatkannya pada sejumlah kasus penusukan ulama yang terjadi sebelumnya. Sebab, para pelakunya diklaim polisi mengidap 'gangguan jiwa'.

"Ada apa ini? Kok bisa ya orang gila dan sakit jiwa di negeri ini musuh utama mereka adalah ulama, para dai dan atau penceramah?," ujar dia.

"Apakah di negeri ini ada persatuan orang gila atau persatuan orang sakit jiwa di mana pimpinan tertingginya sudah memutuskan bahwa musuh mereka adalah ulama, para dai dan para penceramah yang harus mereka bunuh atau lukai?" sambung tokoh Muhammadiyah itu.

Agar tak lagi muncul kegaduhan di tengah masyarakat, ia pun menyarankan sebaiknya tim investigasi independen segera dibentuk.

Bukan tak percaya

Pembentukan tim investigasi independen ini, lanjut Buya Anwar, bukan berarti tidak mempercayai kerja investigasi yang dilakukan pihak kepolisian. Hasil investigasi tim independen nantinya dapat digunakan sebagai pembanding terhadap investigasi polisi.

"Saya melihat bisa saja kesimpulan polisi itu benar tapi supaya tidak muncul analisis dan pandangan yang macam-macam, maka bangsa ini sangat memerlukan kehadiran tim investigasi independen dan atau tim pencari fakta independen agar hukum, kebenaran dan keadilan bisa tegak. Sehingga semua orang dapat menerimanya," tutur Anwar.

Sementara itu, Syaikh Ali Jaber sudah bisa keluar dari rumah sakit. Dalam konferensipersnya, hari ini, ulama asak Madinah itu menyebut pelaku penusukannya adalah orang terlatih dan tidak mengidap gangguan jiwa.

"Kekuatan dan keberaniannya, mohon maaf, dia bukan orang yang gangguan jiwa. Dia sangat sadar dan sangat berani bahkan sangat terlatih. Kalau kata terlatih, berarti ada orang di belakang, siapa? Wallahua’lam,” kata Syekh Ali Jaber.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA