Sunday, 19 Safar 1443 / 26 September 2021

Sunday, 19 Safar 1443 / 26 September 2021

Apakah Pelupa Berarti Sudah Pikun?

Selasa 15 Sep 2020 01:20 WIB

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Reiny Dwinanda

Anak dan neneknya. Lupa dan pikun adalah suatu kondisi yang berbeda.

Anak dan neneknya. Lupa dan pikun adalah suatu kondisi yang berbeda.

Foto: pixabay
Baik tua maupun muda pasti pernah lupa sesuatu.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA – Lupa adalah kondisi yang wajar dialami setiap orang. Baik tua maupun muda semua pasti pernah mengalami kondisi tersebut.

Lalu apa bedanya pelupa dan pikun? Apakah jika sesekali lupa menyimpan kunci atau dompet kita lantas disebut pikun?

Ketua Studi Neurobehavior Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia (Perdossi) dr Astuti menjelaskan, lupa dan pikun adalah suatu kondisi yang berbeda. Lupa biasanya terkait dengan gangguan atensi yang sifatnya sementara, sementara pikun disebabkan oleh penurunan fungsi kognitif yang menyebabkan seseorang lupa dalam waktu sangat lama dan terus menerus.

“Lupa yang normal itu hanya butuh beberapa jam atau hari untuk ingat lagi, kalau pikun atau demensia Alzheimer enggak akan ingat sampai kapan pun,” kata dr Astuti dalam sebuah diskusi virtual tentang Demensia Alzheimer pada Senin (14/9).

Dokter spesialis saraf dr Pukovisa Prawiroharjo menjelaskan, intensitas lupa seorang dengan gejala demensia Alzheimer atau pikun umumnya terus mengalami peningkatan dari bulan ke bulan hingga tahun ke tahun. Semakin hari, ia akan semakin susah mengingat di mana barang disimpan, semakin sering ketinggalan barang, sering lupa menepati janji, bahkan lupa nama sekolahnya dulu.

“Jadi kalau lupa nama mantan saja bukan berarti pikun ya. Itu lupa saja. Kalau pikun itu yang lebih parah lagi, bahkan bisa sampai lupa sama nama suami atau istri, lupa nama sendiri, begitu,” kata dr Pukovisa.

Dr Pukovisa mengatakan, jika seseorang sudah menunjukkan gejala pikun atau demensia Alzheimer sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter agar bisa ditangani lebih dini. Andaikan memiliki faktor genetik, misalnya, orang tua yang pikun, maka tingkat kewaspadaannya harus lebih ditingkatkan.

"Jangan sampai datang ke dokter itu pas udah kencing sembarangan. Udah repot itu. Susah juga ditanganinya. Deteksi dini, periksakan dengan segera adalah opsi terbaik," tutur dia.

Selain berdampak buruk pada kesehatan penderita, telat mengobati pasien pikun juga bisa berbahaya bagi lingkungan sekitar. Misalnya, ketika penderita lupa mematikan kompor gas sehingga bisa menyebabkan kebakaran, penderita pergi meninggalkan rumah karena dia kebingungan dengan lokasi keberadaannya, dan masalah-masalah lain.

Baca Juga

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA