Senin 14 Sep 2020 15:28 WIB

Yoshihide Suga akan Lanjutkan Kebijakan Shinzo Abe di Jepang

Yoshihide Suga menang dalam pemilihan partai berkuasa di Jepang

Rep: Fergi Nadira/ Red: Nur Aini
Yoshihide Suga diprediksi kuat akan menjadi perdana menteri Jepang yang baru. Ilustrasi.
Foto: EPA
Yoshihide Suga diprediksi kuat akan menjadi perdana menteri Jepang yang baru. Ilustrasi.

REPUBLIKA.CO.ID, TOKYO -- Kepala Sekretaris Kabinet Jepang Yoshihide Suga dan sekaligus seorang ajudan setia Perdana Menteri Shinzo Abe, menang telak dalam pemilihan pemimpin partai yang berkuasa Senin (14/9). Kemenangannya membuka jalan baginya untuk menggantikan Abe pada pekan ini. Dia berjanji melanjutkan kebijakan Shinzo Abe jika nanti menjadi perdana menteri Jepang.

Suga (71 tahun) memenangkan 377 suara dari 534 suara yang diberikan, dan 535 kemungkinan suara dalam pemilihan Partai Demokrat Liberal (LDP) oleh anggota parlemen partai dan perwakilan 47 suara lokal. Saingannya Shigeru Ishiba, mantan menteri pertahanan, memenangkan 68 suara dan mantan menteri luar negeri Fumio Kishida mendapat 89 suara.

Baca Juga

Suga hampir pasti akan terpilih sebagai perdana menteri dalam pemungutan suara parlemen pada Rabu (16/9) menadatang karena mayoritas LDP di majelis rendah. Dia akan menjalani masa jabatan Abe sebagai pemimpin partai hingga September 2021.

Suga kemudian berterima kasih kepada Abe dan berjanji untuk terus maju dengan reformasi. Abe, perdana menteri terlama di Jepang memutuskan untuk mengundurkan diri karena kesehatan yang buruk. Dia mengakhiri hampir delapan tahun masa jabatannya.

"Saya lahir sebagai anak tertua dari seorang petani di Akita," kata Suga. "Tanpa pengetahuan atau hubungan darah, saya terjun ke dunia politik, mulai dari nol dan telah mampu menjadi pemimpin LDP, dengan semua tradisi dan sejarahnya," ujarnya menambahkan.

"Saya akan mengabdikan diri saya untuk bekerja untuk Jepang dan warganya," ujarnya. Suga juga mengatakan, akan melanjutkan strategi khas Abe "Abenomics" dari kebijakan moneter yang sangat mudah, pengeluaran pemerintah, dan reformasi sambil mengatasi masalah Covid-19 dan ekonomi yang merosot, hingga menghadapi masalah jangka panjang seperti populasi Jepang yang menua dan rata-rata kelahiran rendah.

Survei Reuters menunjukkan manufaktur Jepang tetap pesimistis selama 14 bulan berturut-turut. Hal itu menggarisbawahi tantangan besar yang dihadapi pemimpin berikutnya.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement