Sabtu 12 Sep 2020 00:50 WIB

Partai Amien Rais Sulit Berkembang tanpa Simpati Publik

Partai baru Amien Rais harus membuat diferensiasi agar berbeda.

Tangkapan layar video Amien Rais yang mengungkapkan bahwa dirinya ingin mendirikan partai baru, Kamis (10/9).
Foto: Tangkapan layar
Tangkapan layar video Amien Rais yang mengungkapkan bahwa dirinya ingin mendirikan partai baru, Kamis (10/9).

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengamat politik dari Indonesian Public Institute (IPI) Karyono Wibowo menilai partai baru yang akan didirikan politikus senior Amien Rais akan sulit berkembang atau maju bila gagal membangun diferensiasi yang dapat menarik simpati publik. Apalagi basis pemilih Muhammadiyah sudah tersebar ke sejumlah partai.

"Perlu membuat diferensiasi yang membedakan dari yang lain. Jika gagal membangun diferensiasi yang dapat menarik simpati, sulit bagi Amien Rais dan koleganya meloloskan partainya ke Senayan," kata Karyono dalam keterangan tertulis di Jakarta, Jumat (11/9).

Baca Juga

Diketahui, Amien Rais telah mengumumkan bahwa dirinya dan beberapa sahabatnya berencana mendirikan sebuah partai politik baru berasaskan partai Islam rahmatan lil'alamin atau Islam sebagai rahmat bagi semesta alam. Karyono menilai Islam rahmatan lil'alamin yang dipilih sebagai asas partai seolah-olah ingin menunjukkan bahwa identitas parpol baru yang didirikan Amien adalah partai Islam yang moderat.

Jika demikian, kata dia, partai anyar bentukan Amien itu akan sulit untuk berkembang lebih besar karena nantinya akan saling berebut ceruk pemilih Islam dan bersaing dengan partai berhaluan Islam lainnya. Karyono menduga langkah Amien membentuk partai berasaskan Islam adalah untuk merebut suara signifikan dari basis Muhammadiyah dan golongan umat Islam lainnya.

"Akan tetapi, tampaknya tidak semudah membalikkan telapak tangan," katanya.

Pasalnya, lanjut Karyono, basis pemilih Muhammadiyah telah menyebar ke sejumlah partai. Sebagian preferensi pemilih Muhammadiyah menyalurkan aspirasinya ke PAN, sebagian lagi ke partai lain yang juga mengakomodir tokoh-tokoh Muhammadiyah.

"Pun demikian umat Islam yang tergabung dalam Nahdlatul Ulama, Persis, LDII, dan lain-lain telah menjadi rebutan sejumlah partai, tidak hanya partai Islam, tetapi juga partai nasionalis," katanya.

Oleh karena itu, Karyono berpandangan partai baru besutan Amien Rais itu harus bekerja keras untuk merebut ceruk pemilih yang sudah 'terkavling' tersebut, salah satunya dengan membuat diferensiasi yang membedakan dari partai lain.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement