Thursday, 7 Zulqaidah 1442 / 17 June 2021

Thursday, 7 Zulqaidah 1442 / 17 June 2021

Mengapa Pria Cenderung Lebih Rentan Kena Covid-19?

Sabtu 12 Sep 2020 01:52 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Reiny Dwinanda

 Petugas kesehatan memindahkan pasien yang diduga terinfeksi Covid-19 ke Rumah Sakit HRAN khusus perawatan kasus baru virus corona, di Brasilia, Brasil, Senin, 3 Agustus 2020.

Petugas kesehatan memindahkan pasien yang diduga terinfeksi Covid-19 ke Rumah Sakit HRAN khusus perawatan kasus baru virus corona, di Brasilia, Brasil, Senin, 3 Agustus 2020.

Foto: AP/Eraldo Peres
Ada tiga teori yang menjelaskan alasan pria cenderung lebih rentan kena Covid-19.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Masih banyak hal tentang virus corona yang  belum terungkap, termasuk kasus kematian berbasis gender. Apakah Covid-19 memengaruhi pria dan wanita secara berbeda? Lalu, apakah gender memiliki peran dalam cara tubuh bereaksi terhadap virus?

Dr Rahul Pandit, Direktur-Perawatan Kritis, Rumah Sakit Fortis, India, mengatakan bahwa sejak awal pandemi, pria diketahui cenderung lebih rentan terhadap infeksi. Tingkat keparahan penyakitnya juga jauh lebih parah.  Meskipun banyak penelitian belum lama ini menunjukkan bahwa wanita terinfeksi sesering pria, tingkat keparahan penyakit pada pria membingungkan.

“Secara umum diketahui bahwa pria memiliki insiden penyakit penyerta yang lebih tinggi, seperti hipertensi, diabetes dan penyakit jantung. Selain itu, ada kecenderungan meningkat ke arah merokok, juga mungkin pria cenderung malas berobat dibandingkan dengan wanita," kata Dr Pandit dilansir Indian Express, Jumat (11/9).

Pengamatan umum ini memang membantu dalam memahami kejadian infeksi, tetapi tidak menjelaskan tingkat keparahannya. Data dari India juga menunjukkan bahwa ada rasio disparitas angka kematian hampir 65:35 persen (pria: wanita) akibat Covid-19.

Dr Pandit menjelaskan bahwa secara medis ada berbagai teori yang telah dibahas. Tiga teori teratas adalah reseptor Angiotensin Converting Enzyme-2 (ACE-2), estrogen atau testosteron yang mempengaruhi sistem kekebalan, dan predisposisi genetik.

- Reseptor ACE-2
Sekarang dipahami dengan jelas bahwa 'protein lonjakan' alias spike protein pada virus corona seperti Covid-19, SARS (sindrom pernapasan akut parah), MERS (sindrom pernapasan Timur Tengah) memiliki afinitas untuk reseptor ACE-2. Bisa diibaratkan, reseptor ACE-2 adalah pintu gerbang untuk virus ini.

Konsentrasi reseptor ACE-2 lebih banyak ditemukan pada pria dibandingkan dengan wanita. Mereka ditemukan dalam konsentrasi tinggi di paru-paru, jantung, usus, dan gonad.

- Hubungan estrogen dan testosteron
Wanita lebih kuat dalam hal respons kekebalan dan ketahanan. Hormon estrogen menstimulasi respons imun dengan cepat dan juga menekan replikasi virus corona.

Sedangkan hormon testosteron laki-laki menghambat respons imun tubuh sendiri, sehingga membuat laki-laki lebih rentan terhadap infeksi yang parah. Kualitas estrogen ini tidak hanya terlihat pada kasus Covid-19, tetapi juga pada penyakit virus lain, seperti influenza.

- Kecenderungan genetik
Kemungkinan alasan ketiga untuk fenomena ini adalah bahwa gen yang bertanggung jawab untuk mengidentifikasi patogen dalam tubuh dan memberikan tanggapan terhadapnya, ada pada kromosom X.  Karena wanita memiliki 2 kromosom X, mereka lebih cenderung memiliki respons imun yang cepat terhadap patogen dan menawarkan perlindungan yang lebih baik.

"Di sisi lain, karena estrogen dan respons cepat terhadap sistem kekebalan, wanita cenderung memiliki lebih banyak masalah autoimun dibandingkan pria," jelas Dr Pandit.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA