Monday, 23 Zulhijjah 1442 / 02 August 2021

Monday, 23 Zulhijjah 1442 / 02 August 2021

Presiden Macron: Prancis Ingin Hubungan Baik dengan Turki

Jumat 11 Sep 2020 14:28 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Teguh Firmansyah

 Reaksi Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Reaksi Presiden Prancis Emmanuel Macron.

Foto: AP/Gonzalo Fuentes/Reuters Pool
Kemenlu Turki mengecam Macron karena menyudutkan Erdogan.

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Presiden Prancis Emmanuel Macron menyatakan, Prancis ingin membuka kembali hubungan dengan Turki. Macron membuat pernyataan itu setelah melakukan pertemuan puncak bersama dengan tujuh pemimpin European Union Mediterranean di Corsica.

"Kami tidak naif, tetapi kami ingin berhubungan kembali dengan Turki dengan iktikad baik. Dengan memulihkan hubungan normal yang memungkinkan stabilitas di kawasan dengan Turki, dan mengakhiri tindakan sepihak," ujar Macron dilansir Daily Sabah, Jumat (11/9).

Sebelumnya, Turki mengecam pernyataan Macron yang menyudutkan Turki dan Presiden Recep Tayyip Erdogan. Kementerian Luar Negeri Turki mengatakan, Macron telah membuat pernyataan arogan yang mencerminkan kolonialis lama. Selain itu, Macron telah membahayakan kepentingan Uni Eropa dengan sikap individual dan nasionalisnya.

"Faktanya, pernyataan Macron adalah manifestasi dari ketidakmampuan dan keputusasaannya sendiri. Macron, yang memiliki rencana kebijakan luar negeri yang licik menyerang Turki dan presiden kamidengan dendam," ujar pernyataan Kementerian Luar Negeri Turki.

Pada Kamis (10/9), Macron mendesak Uni Eropa untuk menunjukkan persatuan melawan sikap Turki terkait sengketa di Laut Mediterania. Dalam beberapa pekan terakhir, militer Yunani dan Turki saling berhadapan satu sama lain karena kapal survei dan kapal bor Turki terus mencari cadangan gas di perairan yang juga diklaim oleh Yunani dan Siprus. Kedua negara mengklaim bahwa mereka memiliki hak ekonomi eksklusif di sana.

Angkatan bersenjata Yunani dan Turki telah melakukan latihan militer di kawasan itu untuk menunjukkan kekuatan. Yunani dan Siprus menuduh Turki melanggar hukum internasional dan menggunakan diplomasi kapal perang. Turki mengatakan sumber energi di dekat Siprus harus dibagi secara adil antara Republik Turki Siprus Utara (TRNC) dan pemerintahan Siprus Yunani.

Dalam hal ini, Prancis memberikan dukungan kepada Yunani. Media Yunani mengatakan, penjualan jet tempur Rafale oleh Prancis kemungkinan besar akan terwujud sebagai tanda aliansi yang semakin kuat antara Paris dan Athena. Sumber pertahanan Yunani mengumumkan latihan militer gabungan dengan Prancis di Mediterania Timur.


BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA