Wednesday, 19 Rajab 1442 / 03 March 2021

Wednesday, 19 Rajab 1442 / 03 March 2021

Ini Upaya ByteDance untuk Hindari Penjualan TikTok Amerika

Kamis 10 Sep 2020 22:59 WIB

Red: Ichsan Emrald Alamsyah

 Presiden AS Donald Trump terlihat di pos aplikasi TikTok di sebuah bangku di Shanghai, Cina, 03 Agustus 2020. Menurut laporan media, Microsoft sedang dalam pembicaraan untuk membeli operasi AS dari aplikasi video pendek TikTok milik Cina yang milik orang China perusahaan Bytedance. Perkembangan ini terjadi ketika Presiden AS Donald Trump mengumumkan dia ingin melarang Tiktok, aplikasi yang sangat populer di kalangan anak muda dan dikatakan menghitung sekitar satu miliar pengguna di seluruh dunia, termasuk sekitar 100 juta di AS. Sekretaris Negara AS Mike Pompeo mengatakan bahwa AS Presiden Donald Trump akan menindak aplikasi perangkat lunak Cina seperti TikTok Bytedance dalam beberapa hari mendatang.

Presiden AS Donald Trump terlihat di pos aplikasi TikTok di sebuah bangku di Shanghai, Cina, 03 Agustus 2020. Menurut laporan media, Microsoft sedang dalam pembicaraan untuk membeli operasi AS dari aplikasi video pendek TikTok milik Cina yang milik orang China perusahaan Bytedance. Perkembangan ini terjadi ketika Presiden AS Donald Trump mengumumkan dia ingin melarang Tiktok, aplikasi yang sangat populer di kalangan anak muda dan dikatakan menghitung sekitar satu miliar pengguna di seluruh dunia, termasuk sekitar 100 juta di AS. Sekretaris Negara AS Mike Pompeo mengatakan bahwa AS Presiden Donald Trump akan menindak aplikasi perangkat lunak Cina seperti TikTok Bytedance dalam beberapa hari mendatang.

Foto: EPA-EFE/ALEX PLAVEVSKI
ByteDance Diskusi dengan AS Hindari Penjualan TikTok

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Raksasa internet asal China, ByteDance, sedang dalam pembicaraan dengan Amerika Serikat tentang tindakan yang dapat dilakukan untuk menghindari penjualan operasi TikTok di wilayah tersebut, AFP melaporkan, Kamis (10/9).

TikTok menjadi pusat "badai" diplomatik antara Washington dan Beijing, dan Presiden Donald Trump memberi tenggat waktu untuk berhenti menjalin bisnis dengan perusahaan induk TikTok asal China, ByteDance yang didorong untuk menjual operasi aplikasi tersebut ke perusahaan AS.

Walmart telah bergabung dengan Microsoft dalam negosiasi untuk membeli TikTok. Oracle juga dikabarkan tertarik dengan TikTok.

TikTok, yang telah diunduh 175 juta kali di AS dan lebih dari satu miliar kali di seluruh dunia, telah mengajukan gugatan yang menentang tindakan keras dari pemerintah AS tersebut.

Gugatan tersebut menyatakan bahwa perintah Trump melakukan penyalahan Undang-Undang karena platform tersebut bukan "ancaman yang tidak biasa dan luar biasa.

Sementara itu, Trump mengklaim TikTok dapat digunakan oleh China untuk melacak lokasi karyawan pemerintah, membuat dokumen pemerasan, dan melakukan spionase perusahaan.

TikTok, yang digunakan oleh lebih dari satu miliar orang di seluruh dunia untuk membuat video unik berdurasi pendek di ponsel mereka, telah berulang kali membantah tudingan berbagi data dengan Beijing.

Menurut laporan The Journal, pembicaraan antara ByteDance dan AS telah berlangsung selama berbulan-bulan, namun semakin mendesak karena tenggat waktu yang ditetapkan oleh Trump semakin dekat.

Salah satu investor utama TikTok menjadi bagian dari grup yang baru-baru ini bertemu dengan perwakilan dari Central Intelligence Agency untuk membahas keamanan data.

Trump pekan lalu kembali menegaskan permintaannya untuk penjualan TikTok di AS.

"Yah, saya memberi tahu mereka bahwa mereka memiliki waktu hingga 15 September untuk membuat kesepakatan; setelah itu, kami menutupnya di negara ini," kata Trump.

"Dan saya mengatakan bahwa Amerika Serikat harus diberi kompensasi - kompensasi yang layak -- karena kami adalah orang-orang yang membuat ini semua dapat terjadi, jadi kami harus diberi kompensasi."

Para kritikus mengecam seruan Trump kepada pemerintah AS untuk mengambil kompensasi dari kesepakatan itu, dengan alasan bahwa itu tampak tidak konstitusional dan mirip dengan pemerasan.Sementara itu, ByteDance telah berjanji untuk "secara ketat mematuhi" aturan ekspor baru di China yang berpotensi mempersulit penjualan bisnis seperti yang diminta oleh Trump

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA