Monday, 11 Zulqaidah 1442 / 21 June 2021

Monday, 11 Zulqaidah 1442 / 21 June 2021

10 Hal yang akan Berbeda Jika Harry Potter Dibuat Saat Ini

Kamis 10 Sep 2020 16:45 WIB

Rep: Gumanti Awaliyah/ Red: Qommarria Rostanti

Harry Potter, Ron, dan Hermione dalam film Harry Potter and the Sorcerer

Harry Potter, Ron, dan Hermione dalam film Harry Potter and the Sorcerer

Foto: Warner Bros Pictures.
Film Harry Potter populer, bahkan hampir 10 tahun setelah bagian terakhir.

REPUBLIKA.CO.ID, LONDON -- Selain teknologi, set piece, dan kostum, ada banyak hal yang mungkin berbeda jika film Harry Potter digarap saat ini. Bahkan setelah rilis masing-masing, dari 2001 hingga 2011, para Potterhead dengan cepat mengomentari dan mempertanyakan beberapa hal dalam film.

Film Harry Potter begitu populer bahkan hampir 10tahun  setelah bagian terakhir ditayangkan. Banyak yang bisa diapresiasi karena itu termasuk film adaptasi terbaik yang pernah ada.

Namun, seiring berjalannya waktu, beberapa detail dalam film mungkin terasa sangat usang jika dilihat saat ini. Nah apa saja itu? Berikut uraiannya seperti dilansir di laman Screenrant pada Kamis (10/9).

1. Plot hole

Semua Potterhead pasti tahu bahwa di film Harry Potter terjadi plot hole atau tidak konsistennya suatu alur cerita maupun film yang biasanya melawan arus logika dan tidak relevan. Misalnya ketika Vernon memberi tahu Hagrid bahwa mereka tidak akan membayar Harry untuk bersekolah di Hogwarts, namun topik tentang apakah sekolah memungut biaya sekolah tidak pernah disebutkan atau diklarifikasi lagi. Ada banyak pertanyaan lain, terutama tentang hal-hal seperti Time Turner atau Animagus dari Hermione, tetapi mereka tetap tidak terjawab.

2. Penyihir mungkin menguasai dunia

Berbicara tentang kekuasaan, para penyihir dari dunia sihir memiliki kekuatan untuk melakukan apa saja yang mereka inginkan. Sementara bagi Muggle, mereka yang tidak mempunyai kemampuan sihir untuk melakukan sihir.

Dalam dua film pertama, Hermione memilih untuk memperbaiki kacamata Harry dibandingkan penglihatannya, meski pasti ada mantra yang bisa melakukannya. Dalam skala yang lebih besar, Menteri Sihir mengeklaim memiliki koneksi dengan Perdana Menteri Inggris, tetapi dunia mereka berbeda.

3. Dumbledore

Mengingat keadaan politik dunia saat ini, mungkin Dumbledore bukanlah pilihan pemimpin terbaik untuk Hogwarts. Dia memegang semua kekuatan di tangannya dan melakukan apapun yang dia suka, kapanpun dia mau.

Ini terlalu mencerminkan jenis pemerintahan dan pemimpin yang saat ini ditolak oleh masyarakat. Dumbledore jelas bias, mulai dari mencari alasan untuk membiarkan Gryffindor memenangkan House Cup atas Slytherin, hingga hubungannya dengan Harry. Dumbledore juga merupakan karakter yang sangat berbeda dari buku. Dia digambarkan sebagai pemimpin yang keras, penuh curiga, dan agresif.

4. Crabbe dan Goyle

Crabbe dan Goyle memiliki peran yang kecil dalam keseluruhan cerita. Pada kenyataannya, peran mereka sangat tidak penting meskipun keberadaan mereka ada dimana-mana sehingga Crabbe diganti dalam film Harry Potter and the Deathly Hallows.

5. Guru Hogwarts

Sehubungan dengan Quirrell, sebuah topik penting diangkat pada akhir film pertama. Dumbledore menjelaskan mengapa Quirrell ragu-ragu untuk menyentuhnya. Pada masa sekarang, penonton mungkin mempertanyakan mengapa siswa dan guru saling menyentuh.

Mungkin karena Hogwarts adalah sekolah berasrama, para staf dan siswanya mengembangkan ikatan yang lebih erat, tetapi tetap saja, hubungan mereka tidak sepenuhnya profesional.

6. Turban Quirrell

Film Harry Potter and the Sorceres's Stone dirilis pada 4 November 2001, beberapa bulan setelah serangan 11 September. Penjahat utama di film digambarkan mengenakan sorban.

Yang lebih mengkhawatirkan adalah dia menggunakan sorban untuk menyembunyikan kejahatan yang lebih besar, Lord Voldemort. Quirrell mengklaim telah mendapatkan sorban saat libur panjang sebagai kompensasi untuk membunuh zombi, yang berarti sorban tidak memiliki nilai spiritual atau simbolis baginya.

7. Keragaman

Film-film Harry Potter jelas didominasi laki-laki dan karakternya didominasi kulit putih. Film-film selanjutnya mencoba memperkenalkan karakter dari latar belakang yang lebih beragam, tetapi sebagai anggota kelompok minoritas, karakter mereka tetap menjadi minoritas. Misalnya, Dean Thomas hampir tidak memiliki dialog, si kembar Parvati dikesampingkan, dan peran Cho Chang sangat minim meskipun dia adalah pacar pertama Harry.

Beberapa karakter wanita yang memegang otoritas juga sering diejek, seperti Umbridge, Trelawney, bahkan Hermione. Meskipun JK Rowling bersikeras bahwa Dumbledore adalah gay, penggemar tidak yakin karena tidak ada petunjuk tentang ini.

8. Fat Shaming

Saat ini, dunia jauh lebih positif bagi berbagai bentuk tubuh. Tetapi secara historis, budaya pop memanfaatkan karakter bertubuh gemuk untuk humor murahan. Film Charlie and the Chocolate Factory adalah contoh terang-terangan tentang hal ini. Dalam film Harry Potter, banyak karakter jahat yang digambarkan terlalu memanjakan dan dihukum karena ini.

Crabbe dan Goyle terpikat oleh dua cupcake yang disihir di film kedua. Sementara Dudley diberi ekor babi oleh Hagrid di film pertama. Tentu saja, inflasi Bibi Marge yang terkenal itu adalah contoh nyata lainnya. Namun, karakter seperti Ron terbukti terobsesi dengan makanan (dan diri mereka sendiri) tetapi mereka diizinkan lolos begitu saja. Lelucon murahan ini mengorbankan karakter dan aktornya.

9. Kostum pelahap maut

Para Potterhead dengan cepat menunjukkan bahwa kostum Pelahap Maut dalam film Harry Potter and Goblet of Fire sangat mirip dengan seragam KKK. Ku Klux Klan adalah kelompok kebencian supremasi kulit putih Amerika yang awalnya dibentuk di Selatan pada 1860-an.

10. Boggart dari Neville

Dalam Harry Potter and the Prisoner of Azkaban, Remus Lupin datang untuk mengambil alih sebagai guru pertahanan terhadap ilmu hitam. Para siswa juga menyukai metode pengajaran langsungnya kecuali Malfoy dan teman-temannya.

Saat Lupin mengajarkan para siswa cara mengalahkan Boggart, Neville mengubah Snape menjadi neneknya atau lebih tepatnya berpakaian seperti neneknya. Semua siswa tertawa melihat itu, tetapi jika film dibuat saat ini transformasi itu tidak akan diperolok.

 

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA