Wednesday, 13 Zulqaidah 1442 / 23 June 2021

Wednesday, 13 Zulqaidah 1442 / 23 June 2021

Butuh 8.000 Boeing untuk Pengiriman Vaksin di Seluruh Dunia

Kamis 10 Sep 2020 15:16 WIB

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Dwi Murdaningsih

Boeing 747-400 MAS

Boeing 747-400 MAS

Pengiriman vaksin Covid-19 dengan aman akan menjadi misi abad ini bagi industri kargo

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Pengiriman vaksin virus corona ke seluruh dunia akan menjadi tantangan transportasi terbesar. Menurut Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA), dalam pengiriman dibutuhkan setara dengan 8.000 Boeing 747.

Meskipun belum ada vaksin Covid-19, tetapi IATA sudah bekerja sama dengan maskapai penerbangan, bandara, badan kesehatan global, dan perusahaan obat dalam rencana pengangkutan udara global. Program distribusi mengasumsikan hanya satu dosis yang dibutuhkan per orang.

"Pengiriman vaksin Covid-19 dengan aman akan menjadi misi abad ini bagi industri kargo udara global. Tetapi itu tidak akan terjadi tanpa perencanaan sebelumnya yang cermat, dan sekaranglah waktunya," kata kepala eksekutif IATA Alexandre de Juniac dilansir di BBC, Kamis (10/9).

Maskapai penerbangan telah mengalihkan fokus mereka ke pengiriman kargo selama penurunan parah dalam penerbangan penumpang. Namun, pengiriman vaksin jauh lebih kompleks.

Tidak semua pesawat cocok untuk mengirimkan vaksin. Sebab, diperlukan kisaran suhu antara 2° dan 8°C untuk mengangkut obat.

"Kami tahu prosedurnya dengan baik. Yang perlu kami lakukan adalah meningkatkannya ke besaran yang diperlukan," tambah Glyn Hughes, kepala kargo badan industri.

Penerbangan ke beberapa bagian dunia, termasuk beberapa daerah di Asia Tenggara, akan menjadi penting karena kurangnya kemampuan produksi vaksin.

Menurut IATA, mendistribusikan vaksin ke seluruh Afrika akan menjadi tidak mungkin saat ini, mengingat kurangnya kapasitas kargo, ukuran wilayah dan kompleksitas penyeberangan perbatasan.

Sekitar 140 vaksin sedang dalam pengembangan awal. Sekitar dua puluh sekarang sedang diuji coba pada orang-orang dalam uji klinis.

Salah satunya sedang dikembangkan oleh Universitas Oxford yang sudah dalam tahap pengujian lanjutan.

IATA telah mendesak pemerintah untuk memulai perencanaan yang cermat sekarang untuk memastikan mereka sepenuhnya siap setelah vaksin disetujui dan tersedia untuk didistribusikan.

"Vaksin akan menjadi komoditas yang sangat berharga. Pengaturan harus dilakukan untuk memastikan bahwa pengiriman tetap aman dari gangguan dan pencurian," tambah IATA.

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA