Rabu 09 Sep 2020 00:31 WIB

Kebakaran di Jakarta Masih Didominasi Korsleting Listrik

Namun, jumlah kasus kebakaran menurun dari tahun sebelumnya. 

Rep: Amri Amrullah / Red: Agus Yulianto
Foto udara gedung utama Kejaksaan Agung yang terbakar di Jakarta, Minggu (23/8)
Foto: ADITYA PRADANA PUTRA/ANTARA
Foto udara gedung utama Kejaksaan Agung yang terbakar di Jakarta, Minggu (23/8)

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Korsleting listrik dan arus pendek, masih jadi banyak penyebab kebakaran di Jakarta. Hal ini juga yang banyak terjadi di Jakarta Selatan selama Agustus 2020. Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan (Gulkarmat) Jakarta Selatan mencatat, telah terjadi 21 kasus kebakaran selama Agustus 2020.

Kasudin Gulkarmat Jakarta Selatan, Herbert Plider Lumban Gaol mengatakan, dari 21 kasus kebakaran yang terjadi, 12 kasus di antaranya dipicu arus pendek listrik. Sisanya dipicu oleh ledakan gas, lilin dan pembakaran sampah.

"Korsleting listrik masih mendominasi dugaan penyebab kebakaran, yaitu 12 kasus," ujarnya, Selasa (8/9).

Sementara, untuk lokasi kejadian paling banyak di wilayah Kecamatan Pasar Minggu sebanyak enam kasus kebakaran. Total luas area kebakaran selama Agustus 246 meter persegi dengan taksiran kerugian mencapai Rp 664.750.000

"Tidak ada korban jiwa maupun luka dalam peristiwa kebakaran dalam kurun waktu itu. Tapi selama delapan bulan (Januari - Agustus) total kebakaran di Jakarta Selatan sebanyak 258 kasus," ujarnya.

Sementara itu di Jakarta utara, walaupun sejak Januari - Agustus jumlah kasus kebakaran menurun dari tahun sebelumnya. Namun arus pendek dan korsleting listrik masih jadi penyebab banyak kebakaran di wilayah ini.

Kepala Suku Dinas Penanggulangan Kebakaran dan Penyelamatan Jakarta Utara dan Kepulauan Seribu, Rahmat Kristantio mengatakan, dari total 190 kasus kebakaran selama periode Januari hingga Agustus 2020, obyek yang terbakar masih didominasi rumah tinggal sebanyak 58 kasus disusul gardu atau kabel listrik sebanyak 43 kasus.

Sudin Gulkarmat Jakarta Utara mencatat di periode yang sama tahun lalu, jumlah kebakaran mencapai 217 kasus. Sedangkan tahun ini hanya 190 kasus atau turun 13 persen.

"Paling sedikit kejadian kebakaran gudang atau pabrik sebanyak tujuh kasus," katanya, Selasa (8/9).

Rahmat mengatakan, selama periode ini, selain akibat listrik, penyebab kebakaran masih didominasi akibat bakar sampah sebanyak 22 kasus. Sisanya kebakaran dipicu karena rokok sebanyak tiga kasus dan kompor sebanyak dua kasus.

"Selain mematuhi protokol kesehatan, kita berharap masyarakat tetap waspada terhadap bahaya kebakaran," ujarnya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement