Saturday, 11 Safar 1443 / 18 September 2021

Saturday, 11 Safar 1443 / 18 September 2021

Teori Konspirasi 9/11: Mossad Israel-M-16 Inggris Terlibat?

Selasa 08 Sep 2020 09:47 WIB

Red: Nashih Nashrullah

Teori konspirasi serangan 9/11 belum bisa dibuktikan hingga sekarang. Peristiwa menara kembar World Trade Center

Teori konspirasi serangan 9/11 belum bisa dibuktikan hingga sekarang. Peristiwa menara kembar World Trade Center

Foto: AP
Teori konspirasi serangan 9/11 belum bisa dibuktikan hingga sekarang.

REPUBLIKA.CO.ID, Tidak dapat dimungkiri peristiwa peristiwa 11 September 2001 (9/11), masih menjadi magnet tersendiri bagi banyak pihak, tak terkecuali para penganut teori konspirasi. Pasalnya di mata mereka ada banyak hal yang menarik untuk dikaji.

Di antaranya, sangat tidak masuk di akal bagaimana pesawat yang dikemudikan para pelaku bisa menabrak World Trade Center tanpa ada satu pun pesawat militer yang mencegatnya. Begitu pula dengan reaksi presiden Goerge W Bush ketika itu yang tetap tenang dan mendengarkan cerita anak-anak ketika diberi tahu kejadian itu.

Baca Juga

''Bagi saya laporan mengenai peristiwa itu ibarat sebuah film kartun karena di sana keterlibatan masif unsur pemerintah,'' kata David Ray Griffin, seorang filsuf dan teolog liberal terkemuka Amerika Serikat.

Dia membaca laporan itu dengan kemarahan yang amat sangat. ''Ada banyak alasan untuk menerima teori konspirasi daripada menerima teori alternatifnya,'' lanjut pendiri Center for a Postmodern World di Claremont University ini.

Griffin memang tak henti mempelajari dan mengutak-utik peristiwa itu. Bersama setidaknya 75 akademisi AS, Griffin adalah anggota 9/11 Scholars for Truth yang dipimpin Steven E Jones, profesor kimia di Brigham Young University, Utah.

Jones beberapa waktu lalu mempelajari runtuhan menara kembar dan berkesimpulan runtuhnya bangunan itu disebabkan oleh ledakan yang terkontrol yang dipercepat ribuan pon bahan peledak jenis termite berkualitas prima. Jones juga yakin bahwa peristiwa itu hasil pekerjaan 'orang dalam'.

''Kami tidak yakin bahwa ke-19 pembajak dan beberapa orang lain yang selama ini tinggal di gua-gua Afghanistan melakukan aksi itu sendiri. Oleh karena itu kami menantang teori yang selama ini ada dan kami akan membuktikan teori kami,'' kata Jones.

Tokoh lain yang percaya pada campur tangan pemerintah adalah Morgan O Reynolds. Ia be,rpendapat, peristiwa yang menewaskan hampir tiga ribu orang itu merupakan hasil karya tiga pihak, yakni sebuah elemen di Washington, M-16, dan Mossad. Semuanya itu membuka jalan bagi pemerintah Bush untuk hadir di Irak.

Hal yang sama sebelumnya juga disebut Jones. Jones mengatakan sebuah kelompok neokonservatif yang tergabung dalam Project for a New American Century mendesak serangan 9/11 untuk membenarkan pengerahan kekuatan militer Amerika Serikat di Afghanistan dan Irak.

Pandangan para penganut teori konspirasi ini mengundang banyak kritik. Sejumlah media massa Amerika Serikat dan Komisi 9/11 kerap mengabaikan pernyataan mereka. Padahal Komisi 9/11 sejauh ini gagal menghadirkan bukti meyakinkan yang mendukung klaim mereka bahwa 19 warga Muslim Arab yang melakukan serangan bunuh diri.

Seperti dikatakan Chip Berlet, peneliti senior dari Political Research Associates yang bermarkas di Boston, dia termasuk orang yang kehilangan kesabaran terhadap kubu penganut teori konspirasi.

Menurut dia, mereka tak lebih sebagai ilmuwan palsu yang tidak menghasilkan kajian ilmiah bermutu. Begitu juga dengan Christopher Pyle, pakar hukum konstitusi di Mount Holyoake College, Massachusetts. Menurutnya, terlalu banyak teori konspirasi yang muncul pascaperistiwa 9/11 untuk membodohi publik.

Namun, menarik pula menyimak argumen yang dilontarkan Griffin dan teman-temannya. Mereka mencomot sebagian isi laporan Komisi 9/11 yang dibentuk Kongres Amerika Serikat yang menyebutkan sejumlah indikasi bakal terjadinya peristiwa itu. Di dalamnya termasuk peringatan yang diberikan ke menteri luar negeri ketika itu, Condoleezza Rice bahwa ada sel teroris di wilayah Amerika Serikat..

Begitu pula dengan pernyataan kepala Badan Intelijen AS saat itu, George Tenet bahwa 'sistem tengah berwarna merah'. Begitu juga dengan buletin kepresidenan pada 6 Agustus yang berjudul Bin Laden Memutuskan untuk Menyerang di Wilayah Amerika Serikat.. Bush diketahui tidak pernah membahas hal ini dengan Tenet sebelum peristiwa itu terjadi.

Belum lagi dengan pengakuan mantan menteri transportasi, Norman Mineta kepada Komisi 9/11 bahwa hari itu ia tiba di pusat operasional kepresidenan pada pukul 09.20 dan bertemu dengan wakil presiden ketika itu, Dick Cheney. Namun, Cheney kemudian membantah bahwa dia berada di ruangan yang sama dengan Mineta sampai pesawat keempat menubruk Pentagon.

Sayangnya Komisi tidak pernah mempertentangkan pernyataan keduanya. Para penganut teori konspirasi juga yakin perkataan Cheney 'perintah tetap berlaku' yang didengar dan diterjemahkan Mineta sebagai perintah untuk menembak pesawat, berarti 'jangan tembak pesawat itu'.

 

 

*Naskah ini diterbitkan Harian Republika pada 2006 lalu.

sumber : Harian Republika
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA