Sunday, 22 Zulhijjah 1442 / 01 August 2021

Sunday, 22 Zulhijjah 1442 / 01 August 2021

Pertumbuhan Ekspor China Melesat, Impor Melemah

Selasa 08 Sep 2020 09:13 WIB

Rep: Adinda Pryanka/ Red: Friska Yolandha

Barisan kontainer tersusun di Pelabuhan Qingdao di Provinsi Shandong, China, Selasa (1/9). Pertumbuhan ekspor China terakselerasi pada Agustus, sementara impor turun tipis.

Barisan kontainer tersusun di Pelabuhan Qingdao di Provinsi Shandong, China, Selasa (1/9). Pertumbuhan ekspor China terakselerasi pada Agustus, sementara impor turun tipis.

Foto: Chinatopix via AP
Ekspor China ke Amerika Serikat meningkat hingga 20 persen.

REPUBLIKA.CO.ID, BEIJING -- Pertumbuhan ekspor China terakselerasi pada Agustus, sementara impor turun tipis. Pemulihan ekonomi terbesar kedua di dunia tersebut dari pandemi virus corona (Covid-19) tampak lebih panjang.

Seperti dilansir AP News, Senin (7/9), kinerja ekspor naik 9,5 persen dibandingkan tahun sebelumnya menjadi 235,2 miliar dolar AS. Tren pertumbuhan ini berlanjut dari Juli yang sudah tumbuh positif 7,2 persen. Impor turun 2,1 persen menjadi 176,3 miliar dolar AS, kontraksi lebih dalam dibandingkan pertumbuhan Juli yang negatif 1,4 persen.

Pertumbuhan ekspor, salah satunya, terjadi ke Amerika Serikat yang naik 20 persen menjadi 44,8 miliar dolar AS. Kenaikan ini terjadi meskipun ada kenaikan tarif yang diberlakukan pemerintahan Donald Trump di tengah perselisihan dengan Beijing atas ambisi teknologi dan surplus perdagangannya. Sementara itu, impor barang-barang Amerika juga naik tipis dua persen, menjadi 10,5 miliar dolar AS.

Ekspor ke 27 negara Uni Eropa, pasar luar negeri terbesar China, turun 20,1 persen dibandingkan tahun sebelumnya menjadi 35,7 miliar dolar AS. Impor barang-barang Eropa juga turun 29,7 persen menjadi 22,5 miliar dolar AS.

Julian Evans-Pritchard dari Capital Economics mengatakan, tren kinerja ekspor ini sebagian besar disebabkan oleh harga yang lebih rendah dan perbandingan dengan ekspor yang relatif lemah pada Agustus lalu. Ia memperkirakan, volume barang yang diekspor naik 9,7 persen dibandingkan tahun sebelumnya dan impor juga naik 9,5 persen.

Eksportir China mendapatkan keuntungan dari pembukaan kembali aktivitas ekonomi yang lebih awal dibandingkan banyak negara. Mereka masih harus fokus mengendalikan penyebaran virus yang mengganggu sektor bisnis.

Beberapa komoditas yang berkontribusi pada pertumbuhan ekspor adalah integrated circuits, ponsel, pemroses data otomatis dan peralatan rumah tangga. Iris Pang dari ING mengatakan, dominasi komoditas ini menunjukkan, China masih memiliki beberapa mitra dagang yang bersedia mengimpor teknologi mereka, meskipun ada ketegangan dengan Washington.

Tapi, Pang memperingatkan eksportir China barang-barang berteknologi tinggi mungkin akan menghadapi masalah. Sebab, Washington memperketat pembatasan akses ke komponen Amerika dalam perseteruan dengan Beijing mengenai teknologi dan keamanan.

Washington telah memutus pasokan komponen Amerika untuk beberapa perusahaan, termasuk perusahaan teknologi terkemuka di China, Huawei Technologies Ltd. Administrasi Trump sedang melobi Eropa dan sekutu lainnya untuk menghindari teknologi China. 

"Ini bisa mempengaruhi ekspor produk dan jasa teknologi dalam beberapa bulan mendatang," tutur Pang.

Di sisi lain, eksportir negara-negara lain juga sudah mendapatkan keuntungan dari peningkatan permintaan China terhadap barang-barang mereka. Khususnya setelah pertumbuhan ekonomi China pulih menjadi 3,2 persen pada kuartal kedua dibandingkan tahun sebelumnya. Pada kuartal sebelumnya, ekonomi China mengalami kontraksi 6,8 persen, menjadi penurunan terdalam sejak pertengahan 1960-an.

Importir China kini juga mendulang keuntungan dari penurunan harga minyak global dan banyak barang lain. Permintaan yang lemah akibat banyak negara lockdown menjadi penyebab utamanya.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA