Senin 07 Sep 2020 21:42 WIB

Lonjakan Covid-19 di Kotim Berasal dari Klaster Keluarga

Warga Kotawaringin Timur yang terjangkit Covid-19 sebanyak 151 orang.

Petugas medis menangani pasien diduga terjangkit corona (ilustrasi).
Foto: Antara/Oky Lukmansyah
Petugas medis menangani pasien diduga terjangkit corona (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID, SAMPIT -- Jumlah penderita Covid-19 di Kabupaten Kotawaringin Timur, Kalimantan Tengah, terus melonjak. Sebagian di antaranya dari kluster keluarga yang penularannya diduga terjadi di rumah.

"Ini mulai merambah pada kluster terkecil yaitu kluster keluarga. Kita lihat dari umur pasien ada yang dua tahun, 10 tahun dan lainnya. Itu mengisyaratkan bahwa anak-anak juga bisa tertular. Kemungkinan besar terjadinya pada saat berkumpul di keluarga," kata Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Kotawaringin Timur (Kotim) Multazam di Sampit, Senin (7/9).

Hingga Senin siang, jumlah warga Kotawaringin Timur yang terjangkit Covid-19 sebanyak 151 orang, terdiri dari 79 orang sudah sembuh, 67 orang masih dirawat dan 5 orang meninggal dunia. Dari jumlah kumulatif tersebut, diantaranya termasuk hari ini tercatat jumlah penderita bertambah sebanyak 14 orang.

Multazam meminta masyarakat untuk menyadari bahwa pandemi virus mematikan ini masih terjadi. Warga jangan menganggap remeh karena fakta di lapangan menunjukkan kembali terjadi lonjakan penularan secara signifikan, terbanyak di Kecamatan Mentawa Baru Ketapang.

Pemerintah daerah memang membuka keran bagi masyarakat untuk kembali beraktivitas untuk memulihkan ekonomi. Namun, masyarakat juga harus sadar bahwa setiap orang memiliki kewajiban menjalankan protokol kesehatan agar tidak terjangkit Covid-19.

Multazam menilai masyarakat salah dalam memahami new normalatau normal baru. Era ini menjadi awal bagi masyarakat untuk memulai kembali rutinitas meski di tengah pandemi, namun bukan berarti mengabaikan ancaman penularan virus tersebut.

Saat ini rendahnya tingkat kedisiplinan menjadi masalah utama saat itu yaitu abai dalam kewajiban memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan dan lainnya. Masyarakat banyak yang tidak menjalankan protokol kesehatan dengan baik padahal itu sebagai proteksi untuk mencegah penularan maupun menularkan.

"Dimungkinkan sudah terjadi transmisi lokal. Kita harus waspada, terutama di ruang terbuka seperti saat menghadiri undangan hajatan. Ada orang tua berusia 67 tahun juga terpapar. Beliau mungkin tidak keluar rumah, tetapi bisa saja terjangkit dari anggota keluarga lainnya," kata Multazam.

Pekan depan Satuan Tugas Penanganan Covid-19 mulai mensosialisasikan peraturan bupati tentang penerapan protokol kesehatan. Selanjutnya, operasi dimulai, termasuk memberi peringatan maupun sanksi kepada warga yang melanggar aturan protokol kesehatan.

"Sanksi diutamakan sanksi sosial. Sanksi administratif tetap ada dalam peraturan bupati, tetapi kami berharap itu tidak sampai diterapkan, kecuali kalau dilakukan berulang-ulang. Kita tidak ingin masyarakat dikenakan sanksi administratif, makanya kami berharap kesadaran masyarakat," ucapMultazam.

Saat ini ruang isolasi perawatan Covid-19 di RSUD dr Murjani Sampit dan Klinik Islamic Center sudah terisi 67 orang, dari 98 tempat tidur yang tersedia. Jumlah tersebut belum termasuk pasien rujukan dari kabupaten tetangga.

"Mudah-mudahan pasien tidak terus bertambah. Saat ini kondisi 67 orang yang dirawat tersebut rata-rata stabil atau tanpa gejala. Memang ada yang dengan penyakit penyerta. Mudah-mudahan semuanya segera sembuh," demikian Multazam.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement