Senin 07 Sep 2020 21:09 WIB

Pandemi Belum Usai, UMKM Harus Bersiap Ubah Rencana Bisnis

Pandemi Belum Usai, UMKM Harus Bersiap Ubah Rencana Bisnis

Rep: wartaekonomi.co.id/ Red: wartaekonomi.co.id
Pandemi Belum Usai, UMKM Harus Bersiap Ubah Rencana Bisnis. (FOTO: Boyke P. Siregar)
Pandemi Belum Usai, UMKM Harus Bersiap Ubah Rencana Bisnis. (FOTO: Boyke P. Siregar)

Warta Ekonomi.co.id, Jakarta

Wabah Covid-19 memaksa usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) terkena dampak yang tidak kecil. Tokoh pengusaha Sandiaga Uno mendorong UMKM untuk terus melakukan inovasi, salah satunya dengan melakukan perubahan rencana bisnis.

"Kita ubah strategi dan model bisnis kita. Dengan melakukan itu, misalnya mengubah sistem penjualan menjadi pre-order. Dengan begitu, UMKM akan menerima uang tunai terlebih dahulu. Konsep itu disebutnya sebagai cash is king," kata Sandiaga pada akhir pekan lalu.

Baca Juga: Realisasi Penyaluran Dana Begulir PEN Via LPDB-KUMKM Capai 67%

Kemudian, uang yang telah diterima tersebut dikelola secara ketat dengan mengatur pengeluaran. "Dengan pengelolaan keuangan yang ketat ini, risikonya juga turun, akhirnya ongkosnya juga turun, harga jualnya juga bisa turun sehingga mudah-mudahan bisa mendapatkan kesetiaan pelanggan," paparnya.

Sandi pun menyarankan UMKM membangun jejaring komunitas untuk dapat bertahan. Terlebih lagi, terdapat tren yang sedang berkembang mengenai kebanggaan dalam menggunakan produk lokal. Tren itu dapat menjadi peluang pasar baru bagi UMKM.

"Ini ada big emerging trend dan punya satu komoditas sendiri, ini yang disebut sebagai ekosistem. Akhirnya, kita bisa bertahan karena ekosistem ini yang menjadi pasar kita," ujarnya.

Mantan Wakil Gubernur DKI Jakarta itu juga menyoroti betapa pentingnya UMKM melakukan kolaborasi dalam bisnis. Dengan demikian, berbagai manfaat bisa didapatkan dari kolaborasi seperti menumbuhkan inovasi, membangun network, memangkas biaya bisnis, dan menyelesaikan masalah.

"Dari kolaborasi juga bisa belajar banyak hal baru dari mitra yang bisa meningkatkan kemampuan usaha kita menyampaikan value," tegasnya.

Sementara itu, Anggota Komisi XI dari Fraksi Gerindra yang juga sebagai Founder Kahmipreneur Kamrussamad menjelaskan, selama pandemi ini ada 300 ribu laporan dari para pelaku UMKM yang terdampak pandemi Covid-19. Dari Survei Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melalui Pusat Penlitian Ekonomi (P2E) menunjukkan adanya mengalami penurunan penjualan usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) akibat Covid-19.

Berangkat dari data tersebut, dia mengharapkan pemerintah bisa memberikan jalan untuk pemulihan kembali. Ia menjelaskan, pemerintah saat ini telah mendorong bantuan produktif untuk usaha mikro melalui program PEN.

"Program PEN dengan total nilai sebanyak Rp123,46 triliun ini fase pengembangan UMKM, selanjutnya, yaitu regrowth, agar bisnis yang dijalankan oleh UMKM itu bisa sustain atau dapat berkelanjutan," ujarnya.

Dia pun berharap PEN yang disalurkan pemerintah bisa tepat sasaran dan diterima bagi mereka yang memang pantas menerimanya. Kamrussamad juga mendorong masyarakat bisa memanfaatkan ekonomi digital agar bisnis lebih efisien dan juga memperkuat sektor bisnis yang mampu tumbuh positif di tengah pandemi.

"Namun, ada juga tantangan seperti gelombang kedua virus corona, ketidakmerataan kebijakan PSBB. Ada juga masalah geopolitik dan perang dagang, peningkatan utang melalui penerbitan surat berharga, serta kesiapan SDM," pungkasnya.

Disclaimer: Berita ini merupakan kerja sama Republika.co.id dengan Warta Ekonomi. Hal yang terkait dengan tulisan, foto, grafis, video, dan keseluruhan isi berita menjadi tanggung jawab Warta Ekonomi.
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement