Thursday, 1 Syawwal 1442 / 13 May 2021

Thursday, 1 Syawwal 1442 / 13 May 2021

Perhimpunan Dokter Paru: Diare Salah Satu Gejala Covid-19

Senin 07 Sep 2020 19:35 WIB

Red: Ratna Puspita

Ilustrasi Sakit Perut atau Diare. Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Dr Erlang Samoedro mengatakan beberapa waktu terakhir orang yang terinfeksi virus corona atau Covid-19 salah satunya menunjukkan adanya gejala diare.

Ilustrasi Sakit Perut atau Diare. Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Dr Erlang Samoedro mengatakan beberapa waktu terakhir orang yang terinfeksi virus corona atau Covid-19 salah satunya menunjukkan adanya gejala diare.

Foto: Mgrol100
Orang dari zona merah dengan gejala demam, dan diare sebaiknya lakukan tes usap.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Sekretaris Jenderal Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Paru Indonesia Dr Erlang Samoedro mengatakan beberapa waktu terakhir orang yang terinfeksi virus corona atau Covid-19 salah satunya menunjukkan adanya gejala diare. "Biasanya, gejalanya demam, batuk, pilek dan sekarang mulai ada gejala sakit perut atau diare," kata dia saat konferensi video di Graha BNPB yang dipantau di Jakarta, Senin (7/9).

Ia mengatakan orang-orang yang menunjukkan gejala-gejala tersebut, apalagi memiliki riwayat perjalanan ke zona merah, disarankan segera melakukan tes usap guna memastikan kondisi kesehatan. "Intinya adalah gejala seringan apapun, kita harus tetap ke layanan kesehatan supaya diperiksa," ujar Dr Erlang.

Pada kesempatan itu, ia mengatakan saat ini kluster keluarga juga cukup memprihatinkan. Apalagi, dalam rumah tersebut terdapat, bayi, anak-anak dan orang lanjut usia yang rentan terpapar virus.

Baca Juga

Kluster keluarga tersebut pada dasarnya terjadi karena adanya salah seorang atau beberapa anggota keluarga yang berpergian keluar rumah dan terpapar virus. Saat kembali ke rumah, orang yang terpapar tadi tidak menerapkan protokol kesehatan dengan baik seperti yang dianjurkan yakni mandi, mencuci pakaian yang baru saja dikenakan dan lainnya.

Akibatnya, terjadi transmisi virus kepada anggota keluarga yang lain. Kluster keluarga terjadi karena adanya relaksasi pembatasan sosial sehingga orang-orang bebas beraktivitas. "Yang parahnya, terkadang dia tidak sadar telah terinfeksi dari lingkungan sekitar dan membawa virus ke rumah," ujar dia.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA