Friday, 2 Syawwal 1442 / 14 May 2021

Friday, 2 Syawwal 1442 / 14 May 2021

Pasien Covid-19 Kian Bertambah di Gaza

Senin 07 Sep 2020 14:56 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Teguh Firmansyah

Seorang petugas medis Palestina memakai masker saat melewati petugas polisi Hamas yang menjaga pintu masuk Rumah Sakit Shifa setelah kasus virus corona ditemukan di rumah sakit, di Kota Gaza, Rabu, 26 Agustus 2020. Pejabat kesehatan Gaza telah melaporkan kematian pertama. dari COVID-19 sejak pihak berwenang mendeteksi kasus lokal pertama virus korona awal pekan ini.

Seorang petugas medis Palestina memakai masker saat melewati petugas polisi Hamas yang menjaga pintu masuk Rumah Sakit Shifa setelah kasus virus corona ditemukan di rumah sakit, di Kota Gaza, Rabu, 26 Agustus 2020. Pejabat kesehatan Gaza telah melaporkan kematian pertama. dari COVID-19 sejak pihak berwenang mendeteksi kasus lokal pertama virus korona awal pekan ini.

Foto: AP / Khalil Hamra
Pada Ahad kemarin tercati 162 kasus virus Corona di Jalur Gaza.

REPUBLIKA.CO.ID, GAZA -- Wabah Covid-19 di Jalur Gaza semakin meluas. Wilayah yang diblokade itu melaporkan 162 kasus baru virus Corona pada Ahad (6/9).

Kementerian Kesehatan Gaza mengungkapkan, saat ini wilayah tersebut memiliki 969 kasus terkonfirmasi, termasuk tujuh kematian, dan 89 pasien pulih. "Jumlah kasus aktif di Gaza naik menjadi 873," katanya, dikutip laman Middle East Monitor.

Kementerian Kesehatan Gaza menyerukan warga untuk tetap mematuhi protokol kesehatan. Sebab hanya dengan menerapkan hal tersebut penyebaran kasus dapat dibendung.

Situasi di Gaza memanas belum lama ini akibat pertempuran Israel dengan Hamas. Hal itu dipicu oleh balon api yang diterbangkan dari Gaza ke wilayah Israel.

Balon-balon tersebut telah menyebabkan lebih dari 400 kebakaran di wilayah Israel selatan. Tak hanya menyerang situs-situs Hamas, Israel pun memperketat blokade terhadap Gaza, termasuk menyetop pengiriman bahan bakar minyak. Akibatnya satu-satunya pembangkit listrik di Gaza berhenti beroperasi. Situasi tersebut disorot oleh PBB karena aliran listrik sangat dibutuhkan, terutama untuk pelayanan kesehatan.

Koordinator Khusus PBB untuk Perdamaian Timur Tengah Nikolay Mladenov menyambut keputusan Hamas dan Israel yang akhirnya bersedia menyepakati gencatan senjata. "Saya menyambut kesepakatan untuk meredakan ketegangan di dan sekitar Gaza. Mengakhiri peluncuran perangkat pembakar dan proyektil, memulihkan listrik akan memungkinkan PBB untuk fokus menangani krisis Covid-19," kata Mladenov melalui akun Twitter pribadinya pada Selasa (2/9) pekan lalu, dikutip laman UN News.

Pelapor khusus PBB untuk situasi hak asasi manusia (HAM) di Palestina Michael Lynk telah memperingatkan tentang bahaya penyebaran Covid-19 di Gaza. "Sementara komunitas internasional telah menyediakan pasokan medis untuk menangani pandemi, Gaza kekurangan infrastruktur perawatan kesehatan, terutama mengenai kapasitas rumah sakit dan jumlah tenaga kesehatan, alat penguji dan peralatan pernapasan - untuk menangani wabah yang meluas,” katanya.

Warga Palestina di Gaza telah hidup di bawah blokade Israel selama 13 tahun. Hal itu menjadi penyebab terjadinya krisis kemanusiaan di wilayah tersebut. Sebagian besar warga hidup dalam kemiskinan, tingkat pengangguran tinggi, dan akses terhadap layanan kesehatan terbatas.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA