Sunday, 29 Sya'ban 1442 / 11 April 2021

Sunday, 29 Sya'ban 1442 / 11 April 2021

Buka Pengenalan Maba, Wapres Ingatkan Sosok BJ Habibie

Senin 07 Sep 2020 12:42 WIB

Rep: Fauziah Mursid/ Red: Agus Yulianto

Wakil Presiden KH Ma

Wakil Presiden KH Ma

Foto: Istimewa
BJ Habibie selalu dijuluki "otak Jerman, tapi berhati Makkah.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Wakil Presiden Ma'ruf Amin berpesan kepada seluruh mahasiswa untuk tetap menjunjung identitas diri sebagai bangsa Indonesia. Ma'ruf mengatakan, meski saat ini semua generasi muda dituntut mampu berkompetisi global, tapi identitas lokal tidak boleh dilupakan.

Hal itu disampaikan Ma'ruf saat memberi sambutan di acara Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Universitas Negeri Surabaya (Unesa) tahun akademik 2020/2021. "Saya mengharapkan anda semua dapat mewujudkan semangat nasionalisme tersebut sehingga sekalipun kita memiliki keunggulan kompetitif secara global kita selayaknya tetap berpijak pada ideologi dan kearifan lokal," ujar Ma'ruf melalui virtual, Senin (7/9).

Ma'ruf pun mencontohkan kepada mahasiswa sosok pelajar sukses yang tetap menjunjung nasionalisme hingga akhir hayatnya yakni Presiden Indonesia Ke-3 Bapak Prof Dr BJ Habibie. Sosok Habibie, kata Ma'ruf, adalah generasi yang sukses, namun tidak meninggalkan keindonesiaannya.

Karena itu, Ma'ruf berharap, BJ Habibie menjadi sosok panutan bagi generasi-generasi muda selanjutnya. "BJ Habibie yang selalu dijuluki "otak Jerman, tapi berhati Makkah." Julukan tersebut mengandung arti bahwa otak kita, atau kemampuan kita bisa melanglangbuana dan bersaing di era global ini, tapi hati kita atau jati diri kita tetap harus melekat sesuai dengan identitas dan akhlak sebagai insan nusantara," kata Ma'ruf.

Ma'ruf mengingatkan, generasi muda yang bisa melanjutkan pendidikan hingga di perguruan tinggi bagian dari kelompok elit dalan struktur masyarakat Indonesia. Karena itu, itu perlu disyukuri karena tidak semua orang dapat mengenyam pendidikan tinggi.

Dari 137,91 juta penduduk usia 15 tahun ke atas yang bekerja, berdasarkan data Survei Angkatan Kerja Nasional (SAKERNAS-BPS) Februari 2020, hanya sekitar 14,2 juta atau hanya 10,3 persen yang berkesempatan menikmati pendidikan tinggi.

"Sebagai kelompok elite dalam struktur masyarakat Indonesia, anda semua harus menjadi agen perubahan. Jadilah agen yang konsisten untuk terus menyuarakan nilai-nilai nasionalisme, cinta tanah air, patriotisme, dan toleransi. Masa depan negara ini, seluruhnya berada di pundak kalian," kata Ma'ruf.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA