Saturday, 9 Zulqaidah 1442 / 19 June 2021

Saturday, 9 Zulqaidah 1442 / 19 June 2021

Cerita tentang Koran Pertama di Hindia Belanda

Senin 07 Sep 2020 08:31 WIB

Red: Karta Raharja Ucu

Halaman pertama Bataviase Nouvelles edisi 12 Oktober 1744.

Foto:
Selama tak ada koran, bagaimana orang-orang Eropa di Hindia Timur dapat informasi?

Di Amsterdam, Tjeert Bliek menyimpan 35 edisi Batavia Nouvelles yang ia terima dari Kees Bliek. Iklan di Haerlemsche Courant edisi 2 Agustus 1746 menyebut Tjeert Bliek lalu menyalin ringkas untuk diterbitkan ulang di Oostindische Nouvelles sampai 19 Oktober 1745. Informasinya ia susun ulang secara geografis.

Penerbitan ulang ini berakibat fatal bagi keberlangsungannya di Batavia. De Heeren Zeventien membacanya, lalu pada 20 November 1745 mengeluarkan perintah kepada van Imhoff untuk menyetop pencetakan dan penerbitannya di Batavia.

"Pencetakan dan penerbitan surat kabar di Batavia, konsekuensi yang merugikan telah dirasakan di sini, di negeri ini (Belanda)." Demikian salah satu isi surat itu seperti dikutip Soerabaijasch Handesblad edisi 13 November 1888.

Surat itu tiba di Batavia jauh di kemudian hari, sehingga van Imhoff baru menjalankan perintah “segera setelah menerima surat ini, pencetakan dan pendistribusian surat kabar itu dilarang” pada Juni 1746:. Bataviase Nouvelles disebut Soerabaijasch Handelsblad edisi 24 Oktober 1936 terbit terakhir pada 20 Juni 1746.

Tak ada keterangan detail soal alasan penerbitannya telah merugikan di Belanda. Beberapa analisis menyebutkan karena publisitas berbahaya bagi monopoli bisnis VOC di Hindia Belanda, seperti tergambar di De Hollandsche Reveu (1921) dan De Krant door Alle Tijden (1938).

Di Belanda, “koran” sudah menjadi bagian masyarakat sejak awal abad ke-17. Coen Europeesche pada 1615 memulainya, dengan menyalin berita untuk disebarkan. Belanda mulai rutin menyalin berita untuk diterbitkan secara berkala sejak 1619 di Amsterdam.  Ada pula yang menyalin dalam bahasa Inggris kemudian dikirim ke London, sehingga menjadi perintis koran di Inggris.

Namun,  VOC “membiarkan” Hindia Timur tanpa koran. De Heeren Zeventien  melihat publisitas membayakan perusahaan, sehingga tak mengizinkan adanya koran di Hindia Timur. Sebelum ada larangan itu, Gubernur Jenderal Jan Pieterszoon Coen telah memerintahkan penyalinan berita. Yang melakukan adalah staf sekretariat jenderal di bawah pengawasan kerani pertama.

Salinan berita-berita itu kemudian disebar ke berbagai pabrik terpencil milik VOC. Berita-berita yang disalin itu berasal dari koran-koran di Belanda dan kota-kota negara lain seperti London, Frankfurt, Milan yang dimintakan kepada kapal yang datang di Batavia. “Kadang selebaran ini disebut Memorie der Nouvelles,” tulis Oud Batavia.

Pada 1644, seperti dicatat di Oud Batavia, pemerintah di Ambon masih rutin menerima kiriman selebaran tertulis salinan berita itu dari Batavia. Pada 1668, pernah ada upaya mencetak salinan berita itu di Hindia Timur. De Heeren Zeventien menentangkan dan pada 1672 keluar larangan pencetakan. Oud Batavia melaporkan, selebaran tertulis untuk staf resmi, tetap dibolehkan.

Lebih dari 70 tahun kemudian, yaitu pada 1744, masyarakat Eropa di Hindia Timur bisa menikmati berita mirip sajian Memorie der Nouvelles, tetapi lebih padat dan menarik. Namanya Bataviase Nouvelles en Politique Raisonnementen, dalam bentuk kertas folio dengan dua kolom. Di bagian atas ada logo Batavia diapit dua singa yang berdiri mengacungkan pedang dan memegang anak panak.

Atas persetujuan dari Gubernur Jenderal Baron van Imhoff, Jan Erdman Jordens, melakukan uji coba penerbitan Bataviase Nouvelles pada Jumat, 7 Agustus 1744. Edisi perdana yang diterbitkan saudagar muda --juga kerani pertama di sekretariat jenderal kegubernurjenderalan-- itu pada Senin 10 Agustus 1744 yang kemudian menjadi rutin terbit tiap Senin.

Pimpinan VOC di Belanda tidak hu ada rintisan penerbitan di Batavia ini. “Awalnya disebut pembuktian, namun ketika Jordens berhasil, ia diizinkan melanjutkan pekerjaannya. Ia diberi hak paten selama tiga tahun untuk pencetakan dan penerbitan Bataviase Nouvelles en Politique Raisonnementen,” tulis De Hollandsche Revue (1921). Hak paten itu dikeluarkan pada 9 Februari 1675.

Setelah Bataviase Nouvelles tak terbit, perlu waktu sekitar 90 tahun untuk terbit koran baru. Menurut catatan Dr K Baschwitz di De Krant door Alle Tijden pada 1837 terbitlah koran swasta, Soerabaya Courant, yang kemudian disusul koran-koran lain.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA