Saturday, 11 Safar 1443 / 18 September 2021

Saturday, 11 Safar 1443 / 18 September 2021

Jerman Ancam Jatuhkan Sanksi kepada Rusia atas Kasus Navalny

Senin 07 Sep 2020 00:03 WIB

Rep: Kamran Dikarma/Rizki Jaramaya/ Red: Nur Aini

Tokoh oposisi Rusia, Alexei Navalny. Ia diduga sengaja diracun dan kini dalam kondisi koma di sebuah rumah sakit di Jerman.

Tokoh oposisi Rusia, Alexei Navalny. Ia diduga sengaja diracun dan kini dalam kondisi koma di sebuah rumah sakit di Jerman.

Foto: AP
Jerman menekan Rusia untuk mengklarifikasi kasus peracunan terhadap Alexei Navalny

REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN -- Pemerintah Jerman akan membahas kemungkinan menjatuhkan sanksi kepada Rusia terkait peracunan tokoh oposisi negara tersebut, Alexei Navalny. Jerman saat ini sedang menjadi ketua Uni Eropa.

"Jika dalam beberapa hari mendatang Rusia tidak membantu mengklarifikasi apa yang terjadi, kami akan dipaksa untuk membahas respons dengan sekutu kami," kata Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas kepada surat kabar Jerman Bild pada Ahad (6/9), dikutip laman the Guardian.

Baca Juga

Menurut dia, ada beberapa indikasi yang memperlihatkan Rusia terlibat dalam aksi peracunan Navalny. Satu di antaranya adalah racun yang digunakan untuk menyerang tokoh oposisi tersebut, yakni agen saraf Novichok era Uni Soviet. "Hanya sejumlah kecil orang yang memiliki akses ke Novichok dan racun ini digunakan oleh dinas rahasia Rusia dalam serangan terhadap mantan agen Sergei Skripal," katanya, merujuk pada serangan 2018 di kota Salisbury, Inggris.

Pemerintah Rusia telah membantah rumor keterlibatan Presiden Vladimir Putin dalam kasus peracunan Navalny. "Kami tidak bisa menanggapi tuduhan ini (keterlibatan Putin dalam peracunan Navalny) dengan serius. Begini, tuduhan yang sama sekali tidak mungkin benar dengan cara apa pun adalah kebisingan kosong. Kami tidak bermaksud untuk menganggapnya serius," kata juru bicara Kremlin Dmitry Peskov kepada awak media di Moskow pada 25 Agustus lalu, dikutip laman NBC News.

Menurut dia, tim dokter yang menangani Navalny di Berlin terlalu cepat mengambil kesimpulan. Peskov mengatakan penting untuk menganalisis dengan tenang apa yang dikatakan dan ditulis. "Kami belum mempelajari hal baru di sini. Sayangnya, substansinya tidak dapat diidentifikasi. Analisis yang dilakukan oleh dokter kami dan dokter Jerman sama, tapi kesimpulannya berbeda," ujarnya.

Navalny menjalani perawatan di Berlin’s Charite Hospital. Tim dokter telah melakukan pemeriksaan secara mendetail sejak Navalny tiba di sana pada 22 Agustus lalu. "Temuan klinis menunjukkan keracunan dengan zat dari kelompok penghambat kolinesterase. Zat spesifik yang terlibat masih belum diketahui, dan serangkaian pengujian komprehensif lebih lanjut telah dimulai," kata Berlin’s Charite Hospital dalam sebuah pernyataan.

Penghambat kolinesterase adalah sekelompok senyawa kimia yang digunakan untuk berbagai hal, mulai dari senjata kimia hingga pestisida. Senyawa itu turut dipakai untuk memproduksi obat meringankan gejala Alzheimer dan jenis demensia lainnya. Gas saraf Novichok juga merupakan penghambat kolinesterase.

Menurut dokter yang merawatnya kini, meski kondisinya serius, nyawa Navalny tidak terancam akibat keracunan. Namun, efek jangka panjang, terutama pada sistem saraf, tidak dapat dikesampingkan. Navalny diduga diracun di pesawat saat melakukan perjalanan ke Siberia. Dia pingsan setelah meminum teh yang disajikan kepadanya. Sebelum dibawa ke Berlin, Navalny sempat menjalani perawatan selama dua hari di kota Omsk di Siberia. Dia koma dan harus menggunakan ventilator. Kala itu dokter yang menanganinya menyebut Navalny dalam keadaan kritis.

Keluarga serta rekan-rekannya kemudian melakukan lobi agar Navalny diterbangkan dan menjalani perawatan di Jerman. Dokter di Omsk sempat bersikeras bahwa Navalny tidak dalam kondisi yang baik untuk bepergian. Namun rekan-rekan Navalny menuding pihak berwenang sengaja mengulur waktu agar racun dalam sistem tubuh Navalnya menghilang. Meski alot, Navalny akhirnya dirujuk ke Berlin.

Navalny merupakan tokoh oposisi terkemuka di Rusia. Dia adalah kritikus utama Presiden Vladimir Putin. Selama satu dekade terakhir, Navalny tekun merilis video di Youtube yang menjabarkan praktik korupsi di semua tingkatan pemerintahan. Hal itu telah membuatnya mendapatkan banyak musuh di Rusia. Navalny telah berulang kali ditahan karena mengatur pertemuan publik dan demonstrasi anti-pemerintah. Dia dilarang mencalonkan diri dalam pemilihan presiden pada 2018. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA