Tuesday, 14 Safar 1443 / 21 September 2021

Tuesday, 14 Safar 1443 / 21 September 2021

Jerman Pertimbangkan Beri Sanksi untuk Rusia

Senin 07 Sep 2020 04:07 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Christiyaningsih

Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas. Jerman akan membahas kemungkinan pemberian sanksi kepada Rusia atas insiden Navalny. Ilustrasi.

Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas. Jerman akan membahas kemungkinan pemberian sanksi kepada Rusia atas insiden Navalny. Ilustrasi.

Foto: Philipp Guelland/EPA
Jerman akan membahas kemungkinan pemberian sanksi kepada Rusia atas insiden Navalny

REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN -- Jerman akan membahas kemungkinan pemberian sanksi kepada Rusia atas insiden keracunan yang dialami oleh kritikus Kremlin, Alexei Navalny. Sanksi tersebut akan diberikan jika Rusia tidak segera memberikan penjelasan terkait Navalny.

Pekan lalu, Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan pihaknya memiliki bukti bahwa Navalny telah diracun dengan menggunakan racun Novichok. Hal ini berdasarkan temuan para tim dokter yang melakukan pemeriksaan terhadap sampel dari tubuh Navalny.

"Jika dalam beberapa hari mendatang Rusia tidak membantu mengklarifikasi apa yang terjadi, kami akan dipaksa untuk membahas tanggapan dengan sekutu kami," ujar Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas kepada harian Jerman Bild pada Ahad (6/9).

Maas mengatakan sanksi apa pun yang diberikan kepada Rusia harus ditargetkan secara spesifik. Sanksi tersebut tidak mengesampingkan pipa Nord Stream 2 yang disengketakan. Pipa senilai 11 miliar dolar AS itu digunakan untuk mengirimkan gas Rusia ke Eropa.

Namun, proyek tersebut mendapatkan kecaman keras dari Amerika Serikat. Maas menambahkan, konsekuensi dari potensi pembatalan proyek pipa juga perlu dipertimbangkan.

"Saya berharap Rusia tidak memaksa kami untuk mengubah posisi kami di Nord Stream," kata Maas.

Tim dokter rumah sakit Charite, Berlin mengatakan Navalny berada dalam kondisi serius dan dirawat di unit perawatan intensif. Navalny menjalani perawatan dengan menggunakan ventilator untuk membantu pernafasannya. Tim dokter menerangkan keracunan yang dialami oleh Navalny dapat menimbulkan konsekuensi jangka panjang terhadap masalah kesehatannya.

Navalny diterbangkan ke Jerman bulan lalu setelah pingsan dalam penerbangan kembali ke Moskow dari Siberia. Dia diduga mengalami keracunan setelah meminum secangkir teh yang diracun selama penerbangan. Maas mendesak Rusia untuk menyelidiki keracunan Navalny setelah uji klinis menunjukkan bahwa ia telah diserang dengan racun saraf.

"Ini membuat semakin mendesak bahwa mereka yang bertanggung jawab di Rusia diidentifikasi dan dimintai pertanggungjawaban. Kami mengutuk serangan ini dengan sangat kuat," ujar Maas.

Juru bicara pemerintah Jerman, Steffen Seibert, mengatakan berdasarkan hasil tes yang dilakukan di laboratorium militer Jerman telah menunjukkan bukti tegas bahwa racun Novichok digunakan untuk meracuni Navalny. Sebelumnya, racun Novichok juga digunakan untuk menyerang mantan agen mata-mata Rusia, Sergei Skripal dan putrinya di kota Salisbury, Inggris pada 2018.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA