Friday, 10 Safar 1443 / 17 September 2021

Friday, 10 Safar 1443 / 17 September 2021

Kremlin: Dokter Rusia Lebih Transparan dari Jerman

Ahad 06 Sep 2020 07:10 WIB

Rep: Dwina Agustin/ Red: Christiyaningsih

Tokoh oposisi Rusia, Alexei Navalny. Ia diduga sengaja diracun dan kini dalam kondisi koma di sebuah rumah sakit di Jerman.

Tokoh oposisi Rusia, Alexei Navalny. Ia diduga sengaja diracun dan kini dalam kondisi koma di sebuah rumah sakit di Jerman.

Foto: AP
Kremlin sebut dokter Rusia lebih transparan dari Jerman pada kasus Navalny

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Kremlin menginginkan dialog dengan Jerman atas kasus politisi oposisi, Alexei Navalny. Rusia menyatakan dokter Rusia yang merawatnya pada awal kejadian jauh lebih transparan daripada dokter Jerman yang merawatnya sekarang.

Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan Moskow masih ingin mencari tahu dari Jerman zat yang menyebabkan Navalny jatuh sakit di Siberia bulan lalu. Rusia percaya kalau kondisi Navalny bukan karena keracunan, merujuk hasil laporan dokter pertama kali.

"Para spesialis Jerman berhasil menemukan sejenis zat beracun. Kami mengandalkan dialog dengan kolega Jerman kami," ujar Peskov.

Jerman menjadi negara tempat Navalny dirawat di rumah sakit. Dalam menanggapi kasus penyakit tokoh oposisi Rusia ini, Jerman mengatakan kalau itu karena racun zat saraf Novichok ala Soviet.

Penemuan tersebut membuat Jerman meminta pelaku yang melakukan kejahatan tersebut dimintai pertanggungjawaban. Rusia hingga kini belum membuka penyelidikan kriminal dan mengatakan belum ada bukti kejahatan.

Peskov menyatakan investigasi sedang dilakukan oleh spesialis Rusia. "Jika ada konfirmasi adanya zat beracun dalam bahan biologis pasien (Navalny), maka tentu saja konsekuensi hukum akan menyusul. Kami meminta semua orang untuk mengandalkan fakta," katanya.

Navalny adalah lawan paling populer dan menonjol dari Presiden Vladimir Putin. Pengumuman Jerman tentang kondisinya yang diracun telah meningkatkan kemungkinan sanksi Barat lebih lanjut terhadap Moskow.

Secara terpisah, pengadilan Rusia mengatakan telah menolak pengaduan yang diajukan oleh sekutu Navalny. Aduan itu menuduh badan penegak hukum tidak bertindak atas klaim percobaan pembunuhannya.

Salah satu sekutu Navalny menuduh Komite Investigasi yang menangani penyelidikan atas kejahatan besar tidak bertindak atas pengajuan pada 20 Agustus. Dia menuntut penyelidikan kriminal dibuka atas percobaan pembunuhan Navalny.

Pengadilan mengatakan Komite Investigasi telah menyampaikan pernyataan pendukung Navalny ke salah satu cabang regionalnya di Siberia dan memintanya untuk ditinjau. Juru bicara Navalny, Kira Yarmysh, mengatakan pengadilan mengatakan pernyataan mereka telah diperlakukan sebagai banding warga negara, sebuah hukum yang menurutnya bisa memakan waktu hingga 30 hari untuk diperiksa.

"Apa pun agar mereka tidak perlu memulai penyelidikan," tulis Yarmysh di Twitter.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA