Monday, 17 Rajab 1442 / 01 March 2021

Monday, 17 Rajab 1442 / 01 March 2021

Rasa Kuatir Orang Tua Saat Sekolah di Wuhan Dibuka Kembali

Kamis 03 Sep 2020 15:45 WIB

Red: Indira Rezkisari

Murid-murid mengikuti upacara memulai tahun ajaran baru di sebuah SMA di Wuhan, Hubei, China, (Selasa (1/9). Sekolah dan universitas di Wuhan mulai belajar tatap muka secara reguler setelah tidak adanya kasus transmisi lokal Covid-19 selama dua pekan di China.

Murid-murid mengikuti upacara memulai tahun ajaran baru di sebuah SMA di Wuhan, Hubei, China, (Selasa (1/9). Sekolah dan universitas di Wuhan mulai belajar tatap muka secara reguler setelah tidak adanya kasus transmisi lokal Covid-19 selama dua pekan di China.

Foto: Chinatopix via AP
Murid sekolah dan mahasiswa Wuhan belajar dari rumah tujuh bulan lamanya.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Indira Rezkisari, Antara

Air mata dan kegembiraan dari para siswa menyapa para guru di Kota Wuhan, China, pada hari pertama sekolah tatap muka. Murid dan guru di Wuhan sudah menjalankan proses belajar mengajar pendidikan tujuh bulan tanpa kelas tatap muka.

Namun orang tua dan guru tetap memperingatkan meskipun virus corona telah mereda, tidak ada yang bisa lengah. Kota di China tengah itu, tempat pandemi virus corona global dimulai, telah mengizinkan lebih dari 2.800 lembaga pendidikan memulai semester baru mereka pada Selasa (1/9). Wuhan membuka pintu bagi hampir 1,4 juta siswa untuk pertama kalinya sejak Januari.

Di luar sekolah dasar Wuluo Road, kehidupan telah kembali menyerupai normal, dengan seorang murid baru yang enggan berteriak pada ayahnya untuk membawanya pulang. Kendaraan memenuhi jalan dan makroekonomi sekolah dari gerai penyedia sarapan dan toko serba ada kembali bermunculan.

"Selama epidemi, anak-anak berada di rumah selama lebih dari setengah tahun dan dalam semua aspek tidak dapat belajar sebaik seperti berada di sekolah," kata Wei Fanling, yang sedang sarapan dengan putranya yang berusia 12 tahun.

Dia berkata bahwa dia lega putranya sekarang dapat kembali ke kelas.Ia  menyamakannya dengan "monster yang dikeluarkan dari kandangnya".

Fanling namun mengaku akan tetap waspada. "Meski epidemi ini sudah berakhir, kami tetap tidak bisa santai," katanya.

Kompleks perumahan terdekat melaporkan sekitar 40 kasus virus corona yang dikonfirmasi, kata orang tua. Jumlah korban tewas di Wuhan yang dilaporkan berjumlah 3.869 menyumbang lebih dari 80 persen dari total jumlah korban tewas di China, namun kota itu belum melaporkan satu pun transmisi lokal sejak pertengahan Mei.

Sementara lembaga pendidikan Wuhan mencoba untuk melupakan tahun yang penuh gejolak, mereka masih melakukan tindakan pencegahan khusus, dengan anak-anak harus menjalani tes suhu secara teratur.

Pemerintah telah menyarankan para orang tua untuk sebisa mungkin menghindari transportasi umum. Bus setengah kosong, dengan siswa diantar ke kelas dengan mobil pribadi atau dengan skuter listrik.

photo
Mahasiswa Huazhong University of Science and Technology di Wuhan mencuci tangannya, Sabtu (29/8). Setelah 8 bulan, mahasiswa dan pelajar di Wuhan, China, kembali ke bangku kampus dan sekolah. - (EPA-EFE/STR CHINA OUT)

Kewaspadaan juga diterapkan di kampus-kampus. Universitas Wuhan, meskipun aktif dan beroperasi selama lebih dari seminggu dan bersiap untuk menerima kelompok siswa baru, telah menutup kampusnya untuk mencegah orang luar yang tidak berwenang masuk.

Semua mahasiswa akan diuji corona sebelum diizinkan kembali. Mereka yang kembali dari luar negeri akan dikarantina di penginapan kampus selama 14 hari.

Qiao Qiong, seorang guru universitas berusia 40 tahun yang putranya belajar di sekolah Wuluo Road, mengatakan dia senang bahwa sekolah di rumah yang berlangsung berbulan-bulan sekarang telah berakhir. Keadaan normal, katanya, tapi masih jauh.

“Virus itu bukan hal kecil, jadi saya yakin kita masih butuh waktu,” ujarnya. "Mungkin akan ada beberapa situasi darurat tapi kami sangat siap untuk itu," sambung dia, dikutip dari Reuters.

Saat 1,4 juta pelajar di Wuhan kembali ke sekolah, Kementerian Keamanan Publik China (MPS) memperketat pengamanan dengan membangun 150 ribu unit pos pengamanan (pospam) di sekitar sekolahan dan kampus. MPS, yang bertanggung jawab atas keamanan publik di China dengan tugas yang sama dengan kepolisian, memperketat pengaman di sekitar kampus pada saat musim kembali ke sekolah pascawabah.

Pemerintah daerah dan sekolahan diinstruksikan mendirikan pos-pos keamanan untuk menjamin keamanan pelajar, terutama pada jam-jam sibuk, kata juru bicara MPS, Zhang Ming. "Hotel, rumah sewa, dan kafe internet di sekitar kampus harus bersih dari potensi bahaya dan berbagai persoalan terkait sekolah harus segera diselesaikan," ujarnya.



Kehidupan di Wuhan boleh dibilang telah berjalan kembali setelah karantina ketat. Dikutip dari laman Itv, Kamis (3/9), di pasar malam Wuhan tidak tampak penduduk Wuhan yang membatasi jarak dengan orang lain.

Masker memang dikenakan oleh mayoritas orang di Wuhan, tapi kebanyakan hanya menjadi aksesoris. Maskernya digunakan, namun tidak menutup mulut dan hidung melainkan bertengger melorot di dagu.

Kebebasan tersebut terjadi karena hampir semua orang di Wuhan telah melalui karantina, menjalani pengetesan, dan dimonitor kesehatan serta pergerakannya secara rutin. Seorang pedagang di pasar bahkan menyebut Wuhan sebagai kota paling aman di China, bahkan mungkin di dunia dari Covid-19.

Meski kehidupan berjalan sudah seperti biasa, duka dan amarah masih tetap ada. Yang Min adalah salah satu warga Wuhan yang kehilangan putrinya akibat virus corona. Dia percaya kematian putrinya dan ribuan orang lainnya bisa dicegah.

Putri Yang Min, Yu Xi, terinfeksi beberapa hari sebelum Wuhan dikarantina total. Gadis berusia 24 tahun itu meninggal tak lama setelah itu pada 6 Februari 2020.

Min menuntut keadilan bagi kematian anaknya. Dia percaya ada pejabat di Wuhan yang seharusnya dihukum karena menutupi kebenaran tentang pandemi. Dia minta sosok tersebut diperiksa kepolisian dan dihukum jika terbukti salah.

"Dia sangat tinggi. Dia 172 cm, dia sangat cantik," tutur Min berulang-ulang tentang putrinya.

Yang Min juga kehilangan saudara iparnya karena Covid-19. Ia pun sempat dirawat berbulan-bulan di rumah sakit. Min terpapar Covid-19 hanya beberapa hari setelah putrinya didiagnosa positif. Ketika putrinya meninggal di ICU, Min sedang menjalani perawatan di rumah sakit.

Baca Juga

photo
China mengolok AS hadapi Covid-19 - (Republika)


BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA