Friday, 10 Safar 1443 / 17 September 2021

Friday, 10 Safar 1443 / 17 September 2021

Racun Novichok Ditemukan di Tubuh Alexei Navalny

Kamis 03 Sep 2020 08:54 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Christiyaningsih

Tokoh oposisi Rusia, Alexei Navalny. Ia diduga sengaja diracun dan kini dalam kondisi koma di sebuah rumah sakit di Jerman.

Tokoh oposisi Rusia, Alexei Navalny. Ia diduga sengaja diracun dan kini dalam kondisi koma di sebuah rumah sakit di Jerman.

Foto: AP
Racun Novichok ditemukan di dalam tubuh pemimpin oposisi Rusia Alexei Navalny

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW --- Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan racun saraf Novichok ditemukan di dalam tubuh pemimpin oposisi Rusia Alexei Navalny pada Rabu (2/9). Racun tersebut ditemukan setelah pihak rumah sakit Charite, Berlin melakukan tes pada sampel yang diambil dari tubuh Navalny.

Merkel meminta Rusia untuk melakukan penyelidikan terhadap insiden keracunan yang dialami oleh Navalny. Selain itu, Jerman juga akan berkonsultasi dengan negara-negara NATO untuk meningkatkan prospek sanksi negara-negara Barat terhadap Rusia.

Sebelumnya Rusia sudah berada di bawah sanksi Barat setelah aneksasi Krimea dari Ukraina enam tahun lalu. Kebuntuan lain dengan negara-negara Eropa atau Amerika Serikat dapat semakin merugikan ekonomi Rusia.

"Ini mengganggu informasi tentang percobaan pembunuhan melalui peracunan terhadap tokoh oposisi terkemuka Rusia," ujar Merkel.

Tim dokter rumah sakit Charite mengatakan Navalny berada dalam kondisi serius dan dirawat di unit perawatan intensif. Navalny menjalani perawatan dengan menggunakan ventilator untuk membantu pernafasannya. Tim dokter menyebut keracunan yang dialami oleh Navalny dapat menimbulkan konsekuensi jangka panjang terhadap masalah kesehatannya.

Navalny diterbangkan ke Jerman pada bulan lalu setelah pingsan dalam penerbangan kembali ke Moskow dari Siberia. Dia diduga mengalami keracunan setelah meminum secangkir teh yang diracun selama penerbangan. Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas mendesak Rusia untuk menyelidiki keracunan Navalny setelah uji klinis menunjukkan bahwa ia telah diserang dengan racun saraf.

"Ini membuat semakin mendesak bahwa mereka yang bertanggung jawab di Rusia diidentifikasi dan dimintai pertanggungjawaban. Kami mengutuk serangan ini dengan sangat kuat," ujar Maas.

Juru bicara pemerintah Jerman, Steffen Seibert, mengatakan hasil tes yang dilakukan di laboratorium militer Jerman telah menunjukkan bukti tegas bahwa racun Novichok digunakan untuk meracuni Navalny. Sebelumnya, racun Novichok juga digunakan untuk menyerang mantan agen mata-mata Rusia Sergei Skripal dan putrinya di kota Salisbury, Inggris pada 2018.

Racun Novichok adalah jenis racun yang mematikan dan dikembangkan oleh militer Soviet pada 1970-an dan 1980-an. Dilansir BBC, senjata kimia generasi keempat itu dikembangkan secara rahasia dan diberi kode program "Foliant". Pada 1999, pejabat Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (AS) terbang ke Uzbekistan untuk membantu pelucutan fasilitas uji coba senjata kimia terbesar milik Soviet.

Pejabat Kementerian Luar Negeri AS mengatakan Soviet menggunakan fasilitas itu untuk melakukan uji coba Novichok dalam skala kecil. Racun tersebut didesain untuk mengelabuhi deteksi yang dilakukan oleh NATO.

Insiden keracunan yang dialami oleh Navalny mendapatkan perhatian dari sejumlah negara. Sumber pemerintah AS yang mengatakan penggunaan racun Novichok menunjukkan bahwa Presiden Rusia Vladimir Putin sangat "berani" menargetkan individu yang kerap membuatnya kesal. Sementara, Inggris dan Uni Eropa mengutuk penggunaan Novichok dan mendesak semua pihak yang terlibat harus diadili.

Kremlin menegaskan mereka tidak terlibat dalam insiden keracunan Navalny. Kremlin mengatakan pihaknya menginginkan pertukaran informasi dan kerja sama antara Rusia dan Jerman. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Rusia Maria Zakharova mengatakan kepada TV pemerintah bahwa langkah Jerman tampak seperti kampanye informasi bebas fakta yang melawan Rusia.

Baca Juga

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA