Wednesday, 19 Rajab 1442 / 03 March 2021

Wednesday, 19 Rajab 1442 / 03 March 2021

Arab Saudi-Pakistan Harus Kerja Sama untuk Persatuan Islam

Rabu 02 Sep 2020 17:18 WIB

Rep: Rossi Handayani/ Red: Muhammad Hafil

Arab Saudi-Pakistan Harus Kerja Sama untuk Persatuan Islam. Foto ilustrasi: Ka'bah

Arab Saudi-Pakistan Harus Kerja Sama untuk Persatuan Islam. Foto ilustrasi: Ka'bah

Foto: Reuters
Persatuan Islam harus menjadi kerja sama Arab Saudi - Pakistan.

REPUBLIKA.CO.ID, RIYADH --  Saudi dan Pakitsan harus bekerja bersama untuk persatuan muslim, dan menepis spekulasi hubungan buruk antar kedua negara.

"Kepemimpinan Pakistan telah berhasil dengan baik dengan secara tegas menolak spekulasi media tentang perbedaan dalam hubungannya dengan Arab Saudi," kata Mantan diplomat senior Saudi, yang menjabat sebagai duta besar Kerajaan Arab Saudi untuk Pakistan dari 2001 hingga 2009, Dr. Ali Awadh Asseri, dilansir dari laman Arab News, Rabu (2/9).

"Dalam hal ini, klarifikasi Menteri Luar Negeri Shah Mahmood Qureshi atas pernyataan publiknya yang kontroversial dan dukungannya oleh Perdana Menteri Imran Khan, ditambah dengan kunjungan Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Jenderal Qamar Javed Bajwa ke Riyadh untuk tujuan militer, telah memperkuat fakta bahwa ikatan erat antara kedua negara cukup tangguh untuk menyerap guncangan kritis semacam itu," lanjutnya.

Dia mengatakan, sekarang cukup jelas bahwa ada upaya terorganisir oleh kekuatan musuh untuk menciptakan gesekan dalam hubungan Saudi-Pakistan. Ini dimulai ketika pernyataan publik Qureshi, yang mengkritik peran Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) di Kashmir ditambahkan secara berlebihan untuk menunjukkan bahwa Riyadh dan Islamabad telah berpisah.

Kemudian dari sebuah gagasan Saudi menolak untuk mempertahankan dukungan ekonominya ke Pakistan, disebarkan sebagai pembenaran tambahan. Lewat kunjungan Bajwa yang sebelumnya dijadwalkan ke Arab Saudi secara keliru digambarkan sebagai tawaran pengendalian kerusakan.

"Oleh karena itu cukup meyakinkan bahwa Qureshi sendiri yang memimpin untuk menegaskan kembali bahwa tidak ada perubahan dalam posisi Arab Saudi dalam sengketa Kashmir, atau bahwa mereka telah meminta Pakistan untuk membayar kembali pinjaman atau menghentikan pasokan minyaknya. Itu semua spekulasi. Tidak ada keputusan yang diambil, katanya pekan lalu, menambahkan bahwa Pakistan dan Arab Saudi memiliki hubungan dari hati ke hati dengan tujuan perdamaian bersama," papar Asseri.

Dia melanjutkan, pada hari yang sama, Kementerian Luar Negeri Pakistan dengan keras mengutuk serangan rudal dan pesawat tak berawak baru-baru ini terhadap Kerajaan Saudi oleh milisi Houthi. Lalu menyerukan penghentian segera serangan semacam itu.

Sebelumnya, Qureshi berada di Beijing untuk berpartisipasi dalam putaran kedua dialog strategis Cina-Pakistan yang sudah dijadwalkan. Namun beberapa media berspekulasi seolah-olah Cina datang untuk menyelamatkan ekonomi Pakistan setelah Saudi menolak untuk membantu.

Menurut Asseri, merupakan tindakan tepat dari pihak Khan untuk menolak rumor keretakan dalam hubungan Pakistan-Saudi sebagai hal yang sama sekali tidak berdasar. Terakhir, Wakil Menteri Pertahanan Arab Saudi Pangeran Khalid bin Salman, juga menegur para pembuat desas-desus, dia menyampaikan lewat tweet, "Bertemu hari ini dengan saudara laki-laki saya, H.E. Jenderal Qamar Bajwa, Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan. Kami membahas hubungan bilateral, kerja sama militer, dan visi bersama kami untuk menjaga keamanan regional".

Arab Saudi dan Pakistan memiliki hubungan pertahanan jangka panjang, yang diatur oleh perjanjian kerjasama keamanan bilateral yang ditandatangani pada 1982. Di mana Pakistan membantu Saudi dalam pelatihan militer dan kemampuan produksi pertahanan.

Pasukan Pakistan juga ditempatkan di Arab Saudi dalam peran pelatihan dan penasehat. Keberadaan mantan Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Jenderal Raheel Sharif memimpin 41 anggota Aliansi Penanggulangan Terorisme Militer Islam yang berkantor pusat di Riyadh merupakan cerminan dari kerja sama militer mereka yang erat. Kunjungan Bajwa juga menegaskan kembali upaya bersama kedua negara untuk lebih memperkuat kerja sama keamanan mereka.

Dia mengungkapkan, seperti halnya dalam hubungan militer ke militer, tidak ada masalah dalam hubungan orang-orang antara Saudi dan Pakistan. Jutaan orang Pakistan bekerja di Saudi, dan jutaan dari mereka memberi penghormatan ke Makkah dan Madinah setiap tahun.

"Setelah bertugas di Pakistan selama hampir satu dekade sebagai duta besar Saudi, saya dengan bangga dapat mengklaim bahwa cinta dan kasih sayang orang-orang Pakistan terhadap Arab Saudi dan Umat Muslim tidak tertandingi. Oleh karena itu, jika ada satu pelajaran yang dapat diambil dari konspirasi terbaru untuk menyabotase hubungan bersejarah Saudi-Pakistan, kita harus mengatur ulang struktur politiknya dengan cara yang sesuai dengan aspirasi publik bersama dan kerja sama pertahanan yang berkelanjutan" ucapnya.

Asseri mengatakan, kerja sama politik yang ditingkatkan antara Saudi, dan Pakistan akan membutuhkan koordinasi erat atas kebijakan serta strategi bilateral dan regional.  

"Pakistan adalah negara Muslim yang sangat penting di mata Arab Saudi. Saya mengatakannya sebagai warga negara Saudi, setelah pensiun dari layanan diplomatik hampir setengah dekade yang lalu, serta berdasarkan pengetahuan saya yang sederhana tentang bekerja di Pakistan. Kerajaan berubah untuk selamanya, menawarkan kesempatan baru bagi pemuda dan pemuda terpelajar, yang harus disadari oleh orang Pakistan" kata dia.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA