Sunday, 15 Zulhijjah 1442 / 25 July 2021

Sunday, 15 Zulhijjah 1442 / 25 July 2021

Ponpes di Banyuwangi yang Jadi Klaster Covid-19 Diisolasi

Selasa 01 Sep 2020 13:24 WIB

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Ratna Puspita

Kordinator Tim Tracing Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Jawa Timur dr. Kohar Hari Santoso

Kordinator Tim Tracing Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Jawa Timur dr. Kohar Hari Santoso

Foto: Dadang Kurnia / Republika
Satgas mengisolasi area Pondok Pesantren Darussalam selama 14 hari.

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Kordinator Tim Tracing Satuan Tugas (Satgas) Covid-19 Jawa Timur dr. Kohar Hari Santoso mengaku terus bergerak menangani penyebaran Covid-19 di Pondok Pesantren Darussalam, Dusun Blokagung, Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari, Kabupaten Banyuwangi. Salah satu langkah yang diambil adalah dengan mengisolasi area pesantren, yang diberlakukan selama 14 hari.

"Karena awal presentasi positivity rate-nya tinggi harus dilakukan isolasi blokade selama 14 hari," ujar Kohar di Surabaya, Selasa (1/9).

Baca Juga

Kohar menegaskan, langkah ini diambil untuk mencegah penularan Covid-19 kepada masyarakat di luar area pondok pesantren. Selama isolasi, kata Kohar, kebutuhan logistik disediakan pemerintah.

"Kemarin Pak Sekdaprov (Heru Tjahjono) sudah ke sana melakukan koordinasi tentang dapur umum, blokade, dan pemeriksaan sudah dilakukan pada seluruh warga pondok," ujarnya. 

Sejauh ini, ia menyebut, sekitar 4.800 santri telah dites swab atau polymerase chain reaction (PCR). Hasilnya diprediksi baru keluar dua hingga tiga hari ke depan. Sembari menunggu hasilnya keluar, Tim Satgas Covid-19 Jatim telah menyediakan ruang khusus isolasi untuk memisahkan santri yang positif.

Seperti berita sebelumnya, sekitar 539 santri di PP Darussalam, Banyuwangi terkonfirmasi positif Covid-19. Jumlah tersebut didapat setelah hasil swab yang dilakukan Sabtu, 29 Agustus 2020, mendeteksi adanya 340 santri yang terpapar Covid-19. 

Kohar menyampaikan, pihaknya juga sudah melakukan evaluasi. Dimana yang punya komorbit atau penyakit bawaan dipisahkan. Sedangkan santri relatif muda, yakni jenjang SMA dan SMK yang positif tanpa gejala disediakan ruang sendiri.

Kohar menegaskan, seluruhnya saat ini diisolasi dengan pemantauan kesehatan secara ketat. Tentunya dengan menyediakan makanan dan vitamin penunjang untuk memulihkan kondisinya. 

"Mereka dilakukan isolasi dengan pemantauan kesehatan. Apakah gejalanya tampak atau tidak. Semuanya didukung makanan dan vitamin," kata dia. 

BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA