Sunday, 27 Ramadhan 1442 / 09 May 2021

Sunday, 27 Ramadhan 1442 / 09 May 2021

Wiku dan IDI Sebut RS Mulai Penuh, Kemenkes Klaim Masih Aman

Selasa 01 Sep 2020 12:39 WIB

Red: Andri Saubani

Seorang tenaga kesehatan menggunakan alat pelindung diri lengkap saat jam pertukaran shift di rumah sakit rujukan Covid-19 RSUD Kabupaten Tangerang, Banten. (ilustrasi)

Seorang tenaga kesehatan menggunakan alat pelindung diri lengkap saat jam pertukaran shift di rumah sakit rujukan Covid-19 RSUD Kabupaten Tangerang, Banten. (ilustrasi)

Foto: FAUZAN/ANTARA FOTO
Kemenkes menyebut, angka okupansi RS rujukan Covid-19 baru mencapai 42,3 persen.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Mimi Kartika, Nugroho Habibi, Antara

Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Jenderal Pelayanan Kesehatan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Abdul Kadir mengeklaim, kapasitas rumah sakit (RS) dalam penanganan Covid-19 masih cukup untuk menampung pasien. Ia menyebutkan, tingkat keterisian tempat tidur atau bed occupancy rate (BOR) rumah sakit Covid-19 mencapai 42,3 persen.

"Kapasitas ini untuk sementara dianggap cukup dan angka okupansi atau bed occupancy rate sampai sekarang ini di rumah sakit baru mencapai 42,3 persen," ujar Abdul dalam webinar, Selasa (1/9).

Ia memerinci, saat ini, dari 2.900 rumah sakit di Indonesia, sudah tercatat 839 rumah sakit telah melayani pasien Covid-19. Jumlah itu terdiri dari 132 rumah sakit rujukan nasional dan 707 rumah sakit rujukan daerah dalam penanganan Covid-19.

Abdul membantah pernyataan pihak lain yang menyatakan seluruh rumah sakit Covid-19 terisi penuh. "Sehingga dengan demikian tidak benar institusi yang mengatakan bahwa rumah sakit semuanya penuh. Itu semua adalah hoaks sebenarnya," kata dia.

Menurut Abdul, dengan tingkat okupansi 42,3 persen, Kemenkes mengeklaim kapasitas rumah sakit masih mencukupi. "Kenapa? Karena data yang masuk ke kami setiap harinya sebagai Plt Dirjen Pelayanan Kesehatan adalah bahwa tingkat okupansi rumah sakit dengan pasien Covid-19 ini baru mencapai 42,3 persen," lanjut dia.

Sebelumnya, Satuan Tugas Penanganan Covid-19 mencatat, tingkat keterisian tempat tidur di unit perawatan intensif (ICU) rumah sakit DKI Jakarta dilaporkan tembus pada angka 77 persen. Angka ini jauh di atas batas ideal tingkat keterisian tempat tidur (BOR) rumah sakit di level 60 persen. Sementara, angka BOR untuk ruang isolasi mencapai 69 persen.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan, kenaikan secara signifikan tingkat keterisian RS di DKI Jakarta mulai terjadi dalam beberapa pekan belakangan. Apalagi saat ini seluruh wilayah di Ibu Kota, kecuali Kabupaten Kepulauan Seribu, masuk dalam zona merah atau memiliki risiko penularan Covid-19 yang tinggi.

"Kondisi ini memang tidak ideal dan pemerintah sedang mendorong menurunkan angka keterpakaian tempat tidur ini untuk bisa di bawah 60 persen sehingga beban untuk tenaga kesehatan di RS tersebut bisa berkurang," ujar Wiku dalam keterangan pers, Senin (31/8).

Di sisi lain, Ketua Satuan Tugas Covid-19 Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Zubairi Djoerban mengatakan, saat ini keterisian rumah sakit oleh pasien terpapar Covid-19 rata-rata mencapai 70 persen. Ia memperingatkan pemerintah terhadap beban rumah sakit rujukan untuk merawat pasien Covid-19 pada bulan depan yang semakin serius.

"Kapasitas rumah sakit sekarang mulai penuh, tetapi akan menjadi lebih serius lagi untuk sebulan lagi," ujar Zubairi saat dihubungi Republika, Senin (31/8).

Ia mengatakan, 70 persen itu ada yang benar-benar masih tersedia 30 persen atau bahkan kapasitas rumah sakit juga sudah terisi hingga 90 persen. Hal itu juga terlihat dari beberapa pasien yang mendapat rujukan, tetapi pasien harus menunggu cukup lama hingga mendapatkan tempat tidur di rumah sakit.

Menurut dia, ketersediaan informasi terhadap keterisian rumah sakit masih minimal. Bahkan tak jarang, pasien harus beberapa kali dirujuk ke rumah sakit yang berbeda untuk mencari tempat tidur kosong di unit perawatan intensif (ICU).

Baca Juga

Kondisi di daerah

Tingginya tingkat keterisian RS rujukan pasien Covid-19 tidaknya hanya terjadi di DKI Jakarta. Di Bekasi, Pemkab Bekasi, Jawa Barat mengonfirmasi tempat untuk isolasi pasien Covid-19 di wilayahnya sudah penuh terhitung hari ini, Senin (31/8).

Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 Kabupaten Bekasi Alamsyah mengatakan, kondisi itu disebabkan melonjaknya kasus terkonfirmasi positif dari klaster kawasan industri selama sepekan terakhir.

"Betul hari ini sudah penuh. Dari kemarin kita menampung pasien kasus positif kluster industri," kata Alamsyah di Cikarang, Senin.

Pemkab Bekasi sebenarnya telah menyiapkan dua tempat isolasi masing-masing di Balai Pelatihan Kesehatan Cikarang Utara serta Wisma Mahasiswa President University yang juga berlokasi di Kecamatan Cikarang Utara. "Total ada 130 kasur (bed) lebih di dua lokasi itu," kata Alamsyah.

Kondisi itu memaksa pihaknya mengalihkan tempat isolasi pasien yakni isolasi mandiri di kediaman masing-masing bagi pasien positif tanpa gejala serta rumah sakit rujukan bagi pasien dengan gejala. Alamsyah mengatakankasus terkonfirmasi positif Covid-19 di wilayahnya melonjak cukup tajam dalam sepekan terakhir.

Data yang diunggah di situs pikokabsi.bekasikab.go.id mencatat kasus kumulatif positif mencapai 1.016. Dalam sepekan terakhir saja tercatat penambahan kasus positif mencapai 400 lebih kasus yang disumbang klaster kawasan industri.

RSUD Kota Bogor juga mulai mengantisipasi lonjakan pasien positif Covid-19. RSUD berencana memindahkan orang tanpa gejala (OTG) atau kasus konfirmasi tanpa gejala ke Wisma Atlet.

Direktur RSUD Kota Bogor Ilham Chaidir menjelaskan, telah melakukan koordinasi dengan Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor. Ilham mengatakan, pihaknya akan berkonsentrasi untuk menangani pasien positif Covid-19 berat.

"Kita ini perlu meng-upgrade lagi. Kalo OTG ini sekarang masih di kita, jadi nanti mungkin akan di Wisma (Atlet). Sehingga turn off pasien itu bisa kita pakai untuk pasien berat," jelas Ilham di Kota Bogor, Senin (31/8).

Saat ini, Ilham menjelaskan, terdapat 82 pasein yang dirawat di RSUD Kota Bogor. Sementara, kapasitas untuk pasien Covid-19 hanya berjumlah 120 kasur.

Dengan tingginya penambah pasien, Ilham menyatakan, akan kembali menambah kapasitas untuk merawat pasein Covid-19. "Kita menyiapkan kasur sebanyak 100 untuk jaga-jaga," jelas Ilham.

Selain itu, pihaknya juga menambah jumlah tenaga medis untuk menangani Covid-19. Ilham mengatakan, RSUD Kota Bogor telah menarik tenga medis dari layanan rawat inap dan ICU yang sebelumnya tidak menangani Covid-19.

Di RSUD Kota Bogor telah ada 400 tenga medis untuk menangani Covid-19. Jika terus memburuk, Ilham menjelaskan, pihaknya juga siap untuk kembali merekrut tenga medis yang dipekerjakan dengan sistem kontrak.

"Jadi kami menarik pegawai kontrak. Sehingga jika kondisi memburuk kami sudah siapkan pegawai ini," jelasnya.

Kasus positif Covid-19 di Kota Bogor kembali mencatatkan rekor baru dengan jumlah 30 kasus pada Senin (31/8). Demikian, total telah ada 627 orang positif Covid-19.

"Meninggal bertambah satu menjadi 31 orang, 235 masih dirawat, dan 361 orang telah selsai isolasi," ucap Kepala Dinkes Kota Bogor Sri Nowo Retno.

photo
Klaster Pabrik - (Republika)

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA