Thursday, 24 Ramadhan 1442 / 06 May 2021

Thursday, 24 Ramadhan 1442 / 06 May 2021

Masa Pandemi, Cegah DBD dengan Menurunkan Vektor Nyamuk

Senin 31 Aug 2020 19:45 WIB

Red: Reiny Dwinanda

Nyamuk demam berdarah. Saat ini kasus sebaran DBD sudah meluas seiring dengan kasus pandemi Covid-19.

Nyamuk demam berdarah. Saat ini kasus sebaran DBD sudah meluas seiring dengan kasus pandemi Covid-19.

Foto: AP
Covid-19 dan DBD memiliki gejala yang hampir sama.

REPUBLIKA.CO.ID, MAKASSAR -- Guru Besar Kesehatan Lingkungan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga Prof Dr drh Ririh Yudhastuti MSc mengatakan, ancaman demam berdarah dengue (DBD) di tengah pandemi Covid-19 bisa dicegah. Caranya ialah dengan menurunkan populasi vektor nyamuk pada tingkat yang tidak membahayakan kesehatan masyarakat.

Selain itu, Ririh menyebut, dibutuhkan peran serta masyarakat dalam mengendalikan DBD, terutama tempat umum dan institusi yang ditinggalkan karena kebijakan kerja dari rumah, pembatasan sosial berskala besar (PSBB), dan beberapa kebijakan lainnya selama masa pandemi. Ia pun menyerukan agar masyarakat selalu menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat.

"Lakukan pula prediksi kasus DBD selama musim hujan dan manajemen yang baik walau ada pandemi Covid-19," kata Ririh saat tampil sebagai narasumber dalam webinar nasional seri dua dengan tema "Pencegahan dan Pengendalian Penyakit DBD di Masa Pandemi Covid-19" yang digelar FKM Unhas, Senin.

Ririh menyebut, Indonesia sebagai negara kepulauan tropis terpadat di Asia Tenggara merupakan negara endemik DBD. Penularan penyakitnya terjadi secara terus menerus setiap tahunnya.

Hingga Juni 2020, kasus sebaran DBD di Indonesia pada masa pandemi Covid-19 berjumlah 68.753 kasus, dengan kasus kematian 500 orang. Wilayah dengan banyak kasus DBD merupakan wilayah dengan kasus Covid-19 yang tinggi pula seperti Jawa Barat, Jawa Timur, Bali, NTT, dan beberapa kabupaten/kota di Indonesia.

"Mobilitas, kondisi iklim, dan urbanisasi merupakan faktor yang diketahui mendorong penyebaran penyakit secara geografis dari daerah endemik ke seluruh daerah non endemik, sehingga menyebabkan peningkatan resiko penyebaran," jelas Ririh.

Dekan FKM Unhas Dr Aminuddin Syam MKes MMed Ed menjelaskan, saat ini kasus sebaran DBD sudah meluas seiring dengan kasus pandemi Covid-19. Sementara itu, gejala dari dua kasus ini hampir sama.

"Jadi agak sulit untuk membedakan," ujarnya.

Baca Juga

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA