Monday, 7 Rabiul Awwal 1444 / 03 October 2022

PPNI: Kebijakan Pemerintah Soal Covid Bertolak Belakang

Senin 31 Aug 2020 18:07 WIB

Rep: Mimi Kartika/ Red: Esthi Maharani

Petugas memakamkan jenazah COVID-19

Petugas memakamkan jenazah COVID-19

Foto: FACHRURROZI/ANTARA FOTO
PPNI menilai kebijakan pemerintah soal Covid-19 kadang bertolak belakang

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Umum Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI), Harif Fadillah mengkritisi rencana pemerintah membuka bioskop di DKI Jakarta hingga konser musik tatap muka di Jawa Timur. Rencana tersebut dianggap bisa memicu persepsi masyarakat bahwa bahaya Covid-19 tak serius.

"Pemerintah juga, kadang-kadang bertolak belakang. Kita harus menjaga jarak, menghindari kerumunan, tapi di sisi lain stimulasi-stimulasi ke sana (menciptakan kerumunan), sehingga masyarakat sendiri merasa bahwa oh tidak terlalu seriuslah Covid ini, sehingga ya mempengaruhi persepsi masyarakat," ujar Harif saat dihubungi Republika, Senin (31/8).

Ia mempertanyakan urgensi pemerintah membuka bioskop dan menggelar konser musik di tengah pandemi Covid-19. Walaupun ditata dengan protokol kesehatan tetapi pemerintah tidak bisa menjamin setiap masyarakat patuh menjalankan protokol kesehatan tersebut.

"Jadi menurut saya kita memang harus ada gerakan untuk mengatakan bahwa corona ini, Covid ini berbahaya, nah itu dengan semua gerakan yang searah," kata Harif.

Pemerintah seharusnya menggencarkan protokol kesehatan seperti menggunakan masker, menjaga jarak, dan mencuci tangan (3M). Menurut Harif, standar protokol kesehatan itu belum menjadi gerakan masif, karena masih terlihat warga di tempat umum yang tidak menggunakan masker. Apalagi, kata dia, kini muncul klaster kantor, perusahaan, atau pabrik seperti LG dan Suzuki.

Ia mengingatkan peningkatan penambahan kasus harian positif Covid-19 akan memengaruhi beban kerja para petugas kesehatan. Apalagi tenaga medis yang meninggal karena Covid-19 pun terus bertambah. Harif menyebutkan, setidaknya ada 70 perawat telah meninggal dunia selama pandemi Covid-19 hingga Senin (31/8). Sebelumnya, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) juga melaporkan 100 dokter gugur dalam penanganan Covid-19.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA