Sunday, 10 Zulqaidah 1442 / 20 June 2021

Sunday, 10 Zulqaidah 1442 / 20 June 2021

PKS Resmi Abstain di Pilkada Solo

Sabtu 29 Aug 2020 14:36 WIB

Rep: Febrianto Adi Saputro, Arif Satrio Nugroho, Binti Sholikah/ Red: Agus raharjo

Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Muhammad Sohibul Iman usai bertemu pengurus Partai Demokrat di kantor DPP PKS, Jakarta, Jumat (24/7).

Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Muhammad Sohibul Iman usai bertemu pengurus Partai Demokrat di kantor DPP PKS, Jakarta, Jumat (24/7).

Foto: Republika/Nawir Arsyad Akbar
Kemenangan Gibran-Teguh dinilai menjadi kemenangan yang tidak membanggakan.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA--Partai Keadilan Sejahtera (PKS) akhirnya memutuskan untuk tidak menentukan dukungannya (abstain) pada pilkada Solo 2020 mendatang. Presiden PKS Sohibul Iman mengatakan suasana kebatinan yang tidak sesuai dengan DPD PKS Solo menjadi alasan PKS untuk abstain di pilkada Solo.

"Persoalannya tergantung pada suasana kebatinan teman-teman di daerah tersebut dalam komunikasi dengan partai-partai lain. Jadi, misalnya kenapa di Tangsel (Tangerang Selatan) PKS dengan Putrinya Pak Ma'ruf Amin, ya suasana kebatinan yang terbentuk itu lebih ini ke Nur Azizah, jadi itu saja sebetulnya, termasuk di Solo juga," kata Sohibul di Kantor DPP PKS, TB Simatupang, Jakarta, Sabtu (29/8).

Menurutnya DPD PKS Kota Solo cenderung menginginkan agar PKS abstain. Sohibul menambahkan, PKS sebenarnya ingin menghadirkan lawan yang seimbang untuk pasangan calon Gibran Rakabuming Raka dan Teguh Prakosa, namun karena PKS tidak memiliki cukup kursi dan mayoritas partai juga telah mendukung Gibran maka PKS memutuskan untuk abstain.

"Sekarang memang ada independen, ya kalau independen kan memang tidak perlu usungan dan dukungan partai kan, karena itu PKS ya sudah teman-teman di Solo menginginkan abstain," ujarnya.

Wakil Ketua Tim Pemenangan Pemilu Al Muzzammil Yusuf mengaku dari 270 daerah yang menggelar pilkada serentak 2020, PKS hanya memiliki kursi di 215 daerah. Sementara di dua daerah sisanya PKS menyatakan abstain, salah satunya di pilkada Solo.

"Di 15 daerah yang tidak ada kursi PKS, PKS tetap mengusung calon kepala daerah sehingga total sebanyak 230 daerah yang diusung oleh PKS," tuturnya.  

Sebelumnya Ketua DPD PKS Solo, Abdul Ghofar Ismail. Ghofar mengatakan, sejak awal PKS ingin bisa menciptakan demokrasi yang sehat di Solo sebagai tanggung jawab partai politik. Sebelum adanya rekomendasi pasangan PDIP, PKS berharap bisa memunculkan lawan tanding dalam Pilkada Solo dengan membentuk koalisi.

"Tetapi, perkembangan politik saat ini semua partai non-PKS sudah menjadi satu koalisi besar. PKS inginnya ada dua calon," kata Ghofar kepada Republika.co.id, Kamis (13/8) lalu. Dengan abstainnya PKS di Pilkada Solo, hanya ada dua pasangan calon yang akan berkontestasi. Yakni, pasangan calon Gibran Rakabuming Raka-Teguh Prakosa yang diusung koalisi partai selain PKS, dan pasangan calon perseorangan Bagyo Wahyono-F.X Supardjo (Bajo).

Pengamat politik Universitas Al Azhar Indonesia Ujang Komarudin menilai, tidak turunnya dukungan PKS untuk Bajo lantaran pasangan tersebut dinilai tak sesuai dengan rencana dan harapan PKS. "Karena Bajo bukan bagian dari skenario PKS," kata Ujang saat dihubungi Republika.co.id, Selasa (25/8).

Lima kursi yang dimiliki PKS di DPRD Solo masih belum mampu mengusung calon kepala daerah dari partai sendiri karena minimum memiliki 9 kursi di DPRD. Sedangkan, fraksi parpol lainnya sudah memberikan dukungan ke anak Presiden Joko Widodo (Jokowi) Gibran-Teguh Prakosa.

Bahkan Ujang menduga, kemunculan Bajo bisa saja merupakan bagian dari skenario pihak Gibran. Keadaan ini, dinilai Ujang semakin membuat PKS gamang. "PKS sedang gamang. Tak cukup kursi tuk mengusung calon. Punya kursi 5 di DPRD Solo. Kurang 4 kursi lagi. Semua partai lain sudah diborong Gibran. Jadi pilihannya hanya dukung Bajo," kata Direktur Eksekutif Indonesia Political Review (IPR) itu.

 
Kemunculan Bajo bisa saja merupakan bagian dari skenario pihak Gibran. (Ujang Komaruddin, pengamat politik Universitas Al Azhar)
Saat menerima surat rekomendasi dari Partai Amanat Nasional (PAN) di Jakarta, Gibran memang optimistis dirinya tidak akan melawan kotak kosong pada Pilkada 2020 nanti. Ia mengaku, saat ini masih ada calon dari independen yang tengah berjuang untuk maju dan meramaikan perebutan kursi wali kota Solo.

"Kotak kosong, teman-teman media coba ke Solo nanti kalau terbukti tidak ada kotak kosong gimana?" kata Gibran usai menemui Ketua Umum PAN, Zulkifli Hasan di Jakarta, Rabu (12/8) lalu.

Dengan kondisi seperti ini, pakar politik dari Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), Muhammad Da'i, menilai, Pilkada Solo pada Desember 2020 nanti bukan kompetisi yang imbang. Sebab, jika melihat kekuatan yang sudah ada, maka dipastikan pasangan Gibran-Teguh secara hitungan matematis akan mudah untuk memenangkan Pilkada Solo 2020.

"Tentu ini menjadi semacam peristiwa politik yang sebetulnya kalaupun toh menang, menangnya mungkin kurang membanggakan, karena kompetisi yang dihadapi bukan kompetisi yang terlalu sulit. Hal ini juga menimbulkan keprihatinan dari berbagai pihak," tutur Da'i saat dihubungi Republika.co.id, Senin (24/8).

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA