Jumat 28 Aug 2020 18:09 WIB

Angin Kencang Buat Lion Air Batal Mendarat di Kupang

Lion Air mengalihkan rute penerbangan jadi ke Denpasar-Makassar

Sejumlah penumpang pesawat menggunakan payung berjalan menuju pesawat di Bandara El Tari Kupang, NTT Kamis, (28/12/18).
Foto: Antara/Kornelis Kaha
Sejumlah penumpang pesawat menggunakan payung berjalan menuju pesawat di Bandara El Tari Kupang, NTT Kamis, (28/12/18).

REPUBLIKA.CO.ID, KUPANG  - Pesawat Lion Air dengan nomor penerbangan JT924 rute Denpasar - Kupang batal mendarat di bandara El Tari Kupang karena kencangnya angin di wilayah tersebut.

"Pesawat Lion Air tujuan Kupang dari Denpasar batal mendarat di Kupang karena kencangnya angin," kata Manager Humas Angkasa Pura I Bandara El Tari Kupang Dadang Jaka Ruliawan, Jumat (28/8).

Ia mengatakan seharusnya pesawat Lion Air itu tiba di Kupang pukul 12.14 WITA namun karena angin kencang di Kota Kupang dengan kecepatan berkisar dari 30-40 kilometer per jam mengakibatkan pesawat itu gagal mendarat. Manajemen Lion Air pun mengalihkan rute penerbangan dari sebelumnya Denpasar-Kupang menjadi Denpasar-Makassar.

"Tetapi jika cuaca sudah memungkin maka pesawat tersebut akan kembali ke Kupang," tutur dia.

Ia menambahkan selain Lion Air, kejadian yang sama juga terjadi pada maskapai penerbangan Garuda Indonesia pada Kamis (27/8) kemarin dengan rute yang sama.

"Kalau kemarin garuda dengan nomor penerbangan GA438 Denpasar - Kupang juga dialihkan penerbangannya ke Makassar. Tetapi sore harinya kembali lagi ke Kupang setelah anginnya reda," ujar dia.

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Stasiun Meteorologi El Tari menyebutkan angin kencang yang melanda wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) saat ini dipicu perbedaan tekanan udara di wilayah Australia.

Kepala BMKG Stasiun Meteorologi El Tari, Agung Sudiono Abadi dihubungi secar terpisah mengatakan bahwa kecepatan angin yang terjadi di beberapa wilayah di NTT saat ini berkisar 20-45 knot.

"Untuk kondisi cuaca yang khususnya angin kencang dengan kekuatan berkisar 20-45 knot yang terjadi beberapa hari ini, disebabkan karena perbedaan tekanan udara di wilayah Australia yang mencapai 1031 hpa dan wilayah Asia 1001 hpa," katanya.

sumber : Antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement