Jumat 28 Aug 2020 01:23 WIB

Cara Antisipasi Risiko Finansial di Tengah Pandemi

Perlu ada perubahan pola hidup yang berkaitan dengan keuangan.

Rep: Shelbi Asrianti/ Red: Muhammad Fakhruddin
Cara Antisipasi Risiko Finansial di Tengah Pandemi (ilustrasi).
Foto: istimewa
Cara Antisipasi Risiko Finansial di Tengah Pandemi (ilustrasi).

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Akibat pandemi, sejumlah perusahaan melakukan PHK, begitu pula terhambatnya perputaran usaha di kalangan UMKM. Walaupun Indonesia secara teori ekonomi belum dikategorikan masuk ke kondisi krisis, antisipasi tetap perlu dilakukan.

Advisor & Co-Founder platform penasihat keuangan digital Halofina, Eko P Pratomo, membagikan cara mengantisipasi risiko finansial di tengah pandemi. Pertama, dengan tidak menganggap enteng kondisi pandemi yang bisa saja berlanjut lama.

Risiko finansial utama yang mungkin terjadi adalah berkurangnya penghasilan atau bahkan hilangnya pendapatan. Karyawan bisa di-PHK, usaha berpotensi lesu, juga risiko pencari nafkah utama dalam keluarga sakit atau meninggal dunia.

Risiko berikutnya, pola pengeluaran untuk kebutuhan hidup belum tentu berkurang, bahkan bisa bertambah jika tidak melakukan penghematan. Karena itu, perlu ada perubahan pola hidup yang berkaitan dengan keuangan supaya tetap bisa bertahan.

Eko menyarankan untuk melakukan rencana aksi, khususnya bagi yang sudah terdampak dari sisi pendapatan. Pertama, mengubah pola hidup menjadi mode darurat atau mode minimalis, dengan membuat anggaran pengeluaran rutin bulanan prioritas.

"Tunda atau batalkan rencana pengeluaran untuk kebutuhan sekunder, tersier, hiburan, dan kesenangan. Tetap upayakan menabung rutin dari pendapatan yang ada untuk dialokasikan sebagai tabungan darurat," ungkap Eko.

Lewat pernyataan resminya yang diterima Republika.co.id, Eko juga menyarankan untuk memanfaatkan fitur "Smart Saving" di aplikasi Halofina. Gunanya, mempersiapkan tabungan darurat dalam bentuk reksadana pasar uang.

Tips lain yakni membuat catatan untuk mengetahui aset/kekayaan apa yang dimiliki saat ini serta besarnya sisa saldo utang yang masih menjadi kewajiban. Tidak masalah jika harus melepas aset finansial yang mudah dicairkan seperti emas dan kendaraan demi kondisi darurat.

Aset atau kekayaan lain yang masih ada perlu dialokasikan untuk kebutuhan hidup masa depan sesuai prioritas dan jangka waktu realisasinya. Bagi yang mengalami penurunan atau kehilangan pendapatan, harus segera mencari sumber penghasilan baru.

Mendapat pekerjaan baru mungkin akan sulit dalam kondisi pandemi seperti ini, karenanya disarankan mencari alternatif untuk pendapatan baru, seperti berjualan atau merintis usaha. Memang tidak mudah, namun ikhtiar sungguh-sungguh pasti akan mendapat solusi.

"Bagi yang tidak terdampak dari sisi penghasilan dan sudah memiliki cukup dana darurat, manfaatkan penghematan pengeluaran dengan pola hidup minimalis untuk berinvestasi guna memenuhi kebutuhan hidup keluarga di masa depan," tutur Eko.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement