Kamis 27 Aug 2020 14:34 WIB

Efek Samping Kombinasi Obat Hydroxychloroquine-Azithromycin

Ada risiko efek samping serius dari kombinasi hydroxychloroquine dan azithromycin.

Rep: Idealisa Masyrafina/ Red: Reiny Dwinanda
Obat-obatan (Ilustrasi). Peneliti mengingatkan agar berhati-hati dalam menggunakan hydroxychloroquine dan azithromycin secara bersamaan.
Foto: Republika/Prayogi
Obat-obatan (Ilustrasi). Peneliti mengingatkan agar berhati-hati dalam menggunakan hydroxychloroquine dan azithromycin secara bersamaan.

REPUBLIKA.CO.ID, WASHINGTON -- Kombinasi hydroxychloroquine (HCQ) dan azithromycin (AZM) telah dikaitkan dengan risiko kardiovaskular yang signifikan, termasuk kematian. Hal itu terungkap dalam studi keamanan terbesar yang pernah dilakukan pada hydroxychloroquine dan hydroxychloroquine plus azithromycin.

Pada pasien dengan rheumatoid arthritis, pengobatan hydroxychloroquine dalam jangka pendek (30 hari) ditemukan tidak membawa risiko komplikasi yang berlebihan terkait dengan penggunaannya. Tetapi, dalam jangka panjang, pemberian hydroxychloroquine mendatangkan peningkatan relatif 65 persen pada kematian terkait kardiovaskular jika dibandingkan dengan pemberian sulfasalazine.

Baca Juga

Kombinasi hydroxychloroquine dan azithromycin memiliki risiko kematian kardiovaskular 2,19 kali lebih tinggi dibandingkan pengobatan komparatif, bahkan dalam jangka pendek berdasarkan temuan dari lebih dari 320 ribu pengguna terapi kombinasi tersebut. Perawatan ini juga menghasilkan peningkatan tingkat angina atau nyeri dada dan gagal jantung sebesar 15 sampai 20 persen.

Dilansir Times Now News, Kamis (27/8), studi yang pertama kali dipublikasikan di MedRxiv ini telah membuat dampak signifikan dalam komunitas perawatan kesehatan. Pada tanggal 23 April, European Medicines Agency (EMA) mengutip studi tersebut dalam peringatan tentang risiko efek samping yang serius dengan chloroquine dan hydroxychloroquine.

Pada bulan Juli, EMA kembali menyoroti studi tersebut, di antara upaya lain dalam komunitas OHDSI, dalam revisi kedelapan dari The European Network of Centers for Pharmacoepidemiology and Pharmacovigilance (ENCePP) Guide on Methodological Standards in Pharmacoepidemiology.

Ini adalah studi pertama yang diterbitkan yang dihasilkan dari OHDSI Covidd Study-a-thon, upaya global pada bulan Maret untuk menetapkan dasar bagi upaya OHDSI untuk merancang dan melaksanakan studi observasi jaringan seputar karakterisasi, prediksi tingkat pasien, dan estimasi efek tingkat populasi untuk menginformasikan pengambilan keputusan seputar pandemi global. Sejumlah studi, beberapa di antaranya akan disorot kemudian, telah diposting ke MedRxiv dan saat ini sedang dalam tinjauan sejawat.

Hydroxychloroquine, obat yang biasa digunakan dalam pengobatan malaria, lupus, dan rheumatoid arthritis (RA), mendapat perhatian awal selama pandemi sebagai pengobatan potensial Covid-19. Profil keamanan jangka pendek (kurang dari 30 hari) tidak mengidentifikasi risiko berlebih pada salah satu dari 16 efek samping yang parah dibandingkan dengan obat RA serupa, sulfasalazine (SSZ). Terapi hydroxychloroquine jangka panjang dikaitkan dengan peningkatan 65 persen pada mortalitas kardiovaskular dibandingkan dengan SSZ.

"Hydroxychloroquine, baik tunggal maupun dalam kombinasi dengan azitromisin, mendapat pertimbangan kuat sebagai pengobatan Covid-19 potensial tanpa studi skala besar tentang profil keamanannya secara keseluruhan," kata Daniel Prieto-Alhambra PhD, penulis senior studi ini.

Menurut Prieto-Alhambra, timnya memiliki akses ke jumlah data yang belum pernah terjadi sebelumnya tentang obat ini. Pihaknya lega karena tidak menemukan efek samping yang mengkhawatirkan dalam penggunaan jangka pendek hydroxychloroquine. Namun, ketika diresepkan dalam kombinasi dengan azitromisin, hal itu dapat menyebabkan gagal jantung dan kematian kardiovaskular.

"Kami mendesak agar berhati-hati dalam menggunakan keduanya secara bersamaan," kata Daniel.

Studi ini memeriksa lebih dari 950 ribu pengguna hydroxychloroquine melalui catatan kesehatan elektronik yang tidak teridentifikasi dan data klaim administratif selama periode 20 tahun.

Catatan dikumpulkan dari 14 database berbeda yang mencakup enam negara (Jerman, Jepang, Belanda, Spanyol, Inggris, Amerika Serikat) dan kemudian dipetakan ke Model Data Umum OMOP untuk menghasilkan analisis skala besar ini.

"Di sekolah kedokteran kami diajari untuk 'pertama-tama tidak membahayakan' dan bagi saya, studi kami berfokus pada keyakinan inti kedokteran modern ini. OHDSI memiliki kekuatan untuk menyelidiki pertanyaan ini dengan cara yang sangat teliti dan melalui langkah-langkah yang ketat,"  kata Jennifer Lane MD, yang menulis studi ini bersama dengan Jamie Weaver.

Peneliti melihat pasien dari populasi umum. Itulah mengapa sangat penting untuk melihat data dari berbagai negara.

Studi ini dikembangkan dan dilaksanakan oleh komunitas OHDSI (Observational Health Data Sciences and Informatics), sebuah kolaborasi multistakeholder, interdisipliner untuk mengeluarkan nilai data kesehatan melalui analitik skala besar. Semua solusi bersifat open-source dan tautan ke protokol studi, kode, dan hasil diunggah agar bisa diakses masyarakat.

Menurut peneliti, diperlukan upaya global untuk menghasilkan tingkat bukti dunia nyata yang dapat direproduksi dan dapat diandalkan ini untuk menginformasikan pengambilan keputusan seputar pengobatan Covid-19. Standarisasi data untuk hampir 1 juta pasien yang menggunakan hydroxychloroquine memberikan keyakinan pada temuan ini.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement