Kamis 27 Aug 2020 13:43 WIB

Ini Alasan Ahli Mesin Mercedes F1 Hengkang

Andy Cowell adalah sosok kunci kejayaan mesin balap Mercedes.

Rep: Anggoro Pramudya/ Red: Gilang Akbar Prambadi
Pembalap Formula Satu (F1) dari tim Mercedes Lewis Hamilton pada sesi tes pramusim di Barcelona.
Foto: EPA-EFE/ENRIC FONTCUBERTA
Pembalap Formula Satu (F1) dari tim Mercedes Lewis Hamilton pada sesi tes pramusim di Barcelona.

REPUBLIKA.CO.ID, BRACKLEY -- Sejak memutuskan meninggalkan Tim Mercedes AMG Petronas pada bulan Juni lalu, mantan kepala pengembangan mesin, Andy Cowell, belum juga memutuskan karier selanjutnya.

Cowell dikreditkan sebagai sosok penting dalam mengembangkan mesin hybrid milik Mercedes V6 yang mampu menunjang tim untuk meraih enam gelar juara konstruktor dan pembalap berturut-turut sejak 2014 silam.

Krusialnya peran Cowell bersama 'the Silver Arrow' bukan main-main. Pasalnya, ia telah mengabdi selama 16 tahun bersama Mercedes AMG.

Meski resmi akan angkat koper dari Mercedes, Cowell masih akan memperkuat tim asal Brackley, Inggris hingga akhir tahun nanti. Nantinya, posisi pria asal Inggris itu akan digantikan Hywel Thomas, yang bertanggung jawab pada pengembangan mesin.

"Sudah waktunya untuk perubahan. Mercedes adalah perusahaan tempat saya bekerja dengan sangat bangga. Orang-orang di sini adalah sekelompok orang yang luar biasa, dan saya akan merindukan mereka. Tetapi 16 tahun terasa seperti periode waktu yang lama untuk melakukan hal yang sama," kata Cowell kepada podcast Beyond the Grid F1, Kamis (27/8).

Lebih lanjut, pria berkacamata tersebut menjelaskan, inspirasi di balik Project Pitlane yang akhirnya membantunya meyakinkan bahwa dia telah membuat pilihan yang tepat untuk meninggalkan Mercedes dan mencari tantangan baru.

Usaha kolektif tersebut membuat Mercedes dan enam tim F1 lainnya yang berbasis di Inggris bersatu dan menggunakan keunggulan kolektif mereka dalam bidang teknik untuk membantu mengembangkan ventilator dan mesin tekanan saluran napas positif (CPAP) yang berkelanjutan untuk membantu merawat pasien Covid-19.

"Proyek Pitlane adalah mencoba sesuatu yang baru. Jadi itulah tantangan yang saya inginkan. Saya menganggap diri saya memiliki salah satu pekerjaan terbaik di planet saat ini," sambung pria berusia 51 asal Blackpool, Inggris ini.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Terpopuler
1
Advertisement
Advertisement