Saturday, 2 Jumadil Awwal 1444 / 26 November 2022

Pabrikan China Kembangkan EV dengan Fitur Battery Swap

Kamis 27 Aug 2020 00:27 WIB

Red: Dwi Murdaningsih

Ilustrasi Mobil Listrik

Ilustrasi Mobil Listrik

Foto: Foto : MgRol_94
Saat baterai habis, pengguna bisa menukar dengan baterai yang sudah penuh.

REPUBLIKA.CO.ID, NEW YORK--Pengembangan mobil listrik masih terus mencari bentuk yang paling pas. Salah satu pengembangan yang paling vital adalah pada aspek pengsian ulang kapasitas baterai.

Dilansir dari Car and Driver pada Rabu (26/8), pengembangan itu pun dilakukan oleh pabrikan electric vehicle (EV) dari China bernama Nio. Demi menghadirkan EV yang praktis, Nio pun mengembangkan EV yang dilengkapi dengan fitur battery swap.

Baca Juga

Lewat fitur ini, saat kapasitas baterai mulai menipis, maka pengendara dapat dengan mudah melakukan penukaran baterai yang telah terisi penuh. Artinya, pengendara tak lagi dipusingkan soal stasiun pengisian ulang yang biasanya membutuhkan waktu pengisian yang relatif lama.

Fitur ini dikembangkan lewat sistem langganan bernama Battery as a Service (BaaS). Skema ini sendiri perlu ditunjang oleh infrastruktur mutakhir bernama Power Swap stations.

Lewat Power Swap stations, pengendara dapat melakukan penggantian baterai dengan otomatis. Prosesnya pun hanya memakan waktu sekitar lima menit. Tentu ini jauh lebih cepat dibandingkan teknologi fast charging dari pabrikan manapun saat ini.

Dengan sitem langganan, artinya pengendara tak diwajibkan memiliki baterai pribadi. Sehingga, pengendara dapat membeli EV tanpa baterai. Hal ini pun otomatis mampu menekan harga EV hingga sekitar 10 ribu dolar AS.

Saat berlangganan, pengendara pun dapat memilih paket kapasitas baterai sesuai dengan kebutuhan. Biaya berlangganan yang dipatok adalah sekitar 140 dolar AS untuk enam kali ganti baterai per bulan.

Tapi, saat ini sepertinya setiap negara dan pabrikan masih terus menimbang cara pengisian baterai yang paling efektif. Apalagi, sistem dalam Power Swap stations yang bekerja secara otomatis juga pasti memerlukan investasi yang tak sedikit.

Meskipun, skema ini terbukti cukup efektif di Cina dan telah mulai beroperasi sejak 2014. Bahkan, saat ini, sudah terdapat 500 ribu Power Swap stations yang beroperasi di Cina.

sumber : antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA