Friday, 17 Safar 1443 / 24 September 2021

Friday, 17 Safar 1443 / 24 September 2021

Kremlin: Penyelidikan Dugaan Keracunan Navalny tak Perlu

Rabu 26 Aug 2020 10:54 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Christiyaningsih

Tokoh oposisi Rusia, Alexei Navalny. Ia diduga sengaja diracun dan kini dalam kondisi koma di sebuah rumah sakit di Jerman.

Tokoh oposisi Rusia, Alexei Navalny. Ia diduga sengaja diracun dan kini dalam kondisi koma di sebuah rumah sakit di Jerman.

Foto: AP
Kremlin mengatakan pihaknya tak perlu menyelidiki penyebab dugaan keracunan Navalny.

REPUBLIKA.CO.ID, MOSKOW -- Kremlin mengatakan pihaknya tidak perlu menyelidiki penyebab dugaan keracunan yang dialami oleh pemimpin oposisi, Alexei Navalny. Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengatakan rumah sakit di Jerman belum secara pasti mengidentifikasi zat yang diduga telah meracuni Navalny.

“Pasti ada alasan untuk melakukan investigasi. Untuk saat ini, yang Anda dan saya lihat adalah pasien dalam keadaan koma," kata Peskov.

Peskov menerangkan jika keracunan telah ditetapkan sebagai penyebab, maka hal ini akan menjadi alasan untuk penyelidikan. Peskov juga membantah dugaan keterlibatan Presiden Vladimir Putin dalam upaya meracuni Navalny. "Itu tidak benar dan omong kosong yang tidak dianggap serius oleh Kremlin," ujar Peskov.

Peskov menanggapi adanya perbedaan diagnosis antara dokter di rumah sakit di Omsk dan dokter di rumah sakit Charite, Jerman. Menurut Peskov, para dokter di rumah sakit di Omsk telah berjuang selama tiga hari untuk merawat Navalny dan kemungkinan telah menyelamatkan nyawa dia.

"Kami tidak mengerti kenapa kolega kami di Jerman terburu-buru dengan kata meracuni," ujar Peskov.

Ketua majelis rendah parlemen Rusia mengatakan salah satu komite akan meluncurkan penyelidikan untuk menentukan apakah pasukan asing berperan dalam upaya dugaan meracuni Navalny. Insiden dugaan keracunan yang dialami oleh Navalny telah menjadi sorotan dunia internasional.

Kanselir Jerman Angela Merkel meminta Rusia untuk menyelidiki dugaan keracunan tersebut. Selain itu, diplomat Uni Eropa Josep Borell juga meminta Rusia untuk melakukan penyelidikan.

Tim dokter rumah sakit Charite di Berlin telah melakukan pemeriksaan terhadap Navalny secara detail. Mereka menemukan zat beracun yang termasuk dalam kelompok penghambat kolinesterase dalam tubuh Navalny.

Tim dokter menyatakan Navalny sedang menjalani perawatan intensif dan dalam keadaan koma namun tetap stabil. Penghambat kolinesterase adalah sekelompok senyawa kimia yang digunakan dalam segala hal, mulai dari senjata kimia hingga pestisida.

Baca Juga

Zat ini dirancang untuk membunuh serangga dan dapat digunakan sebagai obat untuk meringankan gejala Alzheimer dan jenis demensia lainnya. Zat tersebut dapat langsung menyerang saraf pusat.

Rumah sakit Charite menyatakan Navalny saat ini dirawat dengan obat penawar atropin. Itu adalah obat yang sama yang digunakan oleh dokter Inggris untuk merawat mantan agen ganda Rusia Sergei Skripal dan putrinya Yulia. Keduanya diracun dengan zat yang menyerang saraf pada 2018 di Salisbury, Inggris.

Navalny diduga mengalami keracunan ketika berada dalam penerbangan ke Moskow pada Kamis (20/8). Dia langsung mendapatkan perawatan intensif setelah pesawatnya melakukan pendaratan darurat di kota Omsk, Siberia. Navalny diyakini sengaja diracun melalui teh yang diminumnya dalam penerbangan.

Ia kemudian dibawa ke Jerman untuk mendapatkan perawatan lebih lanjut. Dokter yang merawat Navalny di rumah sakit di Omsk menyatakan hasil tes menunjukkan bahwa dia tidak diracun dan tidak ditemukan "penghambat kolinesterase". Hal ini bertentangan dengan hasil tes yang ditemukan oleh tim dokter di Jerman.

Navalny tidak menunjukkan tanda-tanda ketika menjalani perawatan dan pemeriksaan di rumah sakit di Omsk. Kementerian Kesehatan regional Omsk menyebut hasil tes menemukan kandungan kafein dan alkohol dalam urine Navalny, tetapi tidak ditemukan racun sintetis.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti Serial Sejarah dan Peradaban Islam di Islam Digest , Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA