Friday, 10 Safar 1443 / 17 September 2021

Friday, 10 Safar 1443 / 17 September 2021

Pemimpin Oposisi Rusia Diduga Diracun Zat Serang Saraf

Selasa 25 Aug 2020 13:34 WIB

Rep: Rizky Jaramaya/ Red: Teguh Firmansyah

Tampak luar Rumah Sakit Charite di Berlin, Jerman, Senin (24/8), tempat tokoh oposisi Rusia Alexei Navalny dirawat. Navalny dirawat akibat dugaan diracun dalam perjalanan pesawat menuju Moskow.

Tampak luar Rumah Sakit Charite di Berlin, Jerman, Senin (24/8), tempat tokoh oposisi Rusia Alexei Navalny dirawat. Navalny dirawat akibat dugaan diracun dalam perjalanan pesawat menuju Moskow.

Foto: AP
Penggunaan zat serupa pernah digunakan untuk meracuni kritikus Kremlin lainnya.

REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN -- Tim dokter rumah sakit Charite di Berlin mengungkapkan bahwa pemimpin oposisi Rusia, Alexei Navalny diduga telah diracun oleh zat beracun yang termasuk dalam kelompok penghambat kolinesterase dalam tubuhnya. Zat tersebut dapat mempengaruhi sistem saraf pusat.

Pernyataan dari tim dokter rumah sakit Charite adalah pembuktian medis pertama dari dugaan keracunan yang dialami oleh Navalny. Hal ini menandai ada kemungkinan bahwa kritikus Kremlin itu menghadapi percobaan pembunuhan.

Tim dokter rumah sakit Charite mengatakan, Navalny terkena kontaminasi dari inhibitor kolinesterase atau penghambat kolinesterase yang dapat memblokir enzim diperlukan untuk fungsi sistem saraf. Zat ini dirancang untuk membunuh serangga, dan dapat digunakan sebagai obat untuk meringankan gejala Alzheimer dan jenis demensia lainnya.

Dokter mengatakan, mereka secara spesifik belum mengetahui jenis zat beracun itu dan sedang melakukan pengujian lanjutan yang lebih komprehensif. "Prognosis Alexei Navalny masih belum jelas, kemungkinan efek jangka panjang, terutama yang mempengaruhi sistem saraf. Ini tidak dapat dikesampingkan," ujar tim dokter rumah sakit Charite dalam sebuah pernyataan, dilansir the Guardian, Selasa (25/8).

Seorang ahli senjata kimia dan biologi, Hamish de Bretton-Gordon mengatakan, ditemukannya kadar kolinesterase yang tinggi menunjukkan bahwa Navalny kemungkinan telah diracuni dengan zat menyerang saraf. Penggunaan zat serupa juga pernah digunakan untuk meracuni kritikus Kremlin lainnya yakni Sergei Skripal pada 2018. Ketika itu, Skripal diracun dengan zat saraf novichok.

Seorang sekutu Angkatan Laut, Leonid Volkov mengatakan, penghambat kolinesterase paling terkenal di dunia disebut dengan novichok. Juru bicara Navalny, Kira Yarmysh meyakini temuan hasil pemeriksaan oleh dokter di Jerman telah menunjukkan bahwa Navalny telah diracun. "Kami yakin Alexei telah diracuni. Sekarang dugaan keracunannya telah dikonfirmasi. Ini bukan hipotesis lagi, ini fakta medis," ujar Yarmysh.

Rumah sakit Charite menyatakan, Navalny saat ini dirawat dengan obat penawar atropin. Ini adalah obat yang sama yang digunakan oleh dokter Inggris untuk merawat mantan agen ganda Rusia, Sergei Skripal dan putrinya Yulia. Keduanya diracun dengan zat yang menyerang saraf pada 2018 di Salisbury, Inggris. Pemerintah Jerman mengerahkan pengamanan ketat di rumah sakit Charite untuk menjaga keselamatan Navalny.

Para pemimpin internasional telah menyuarakan keprihatinan atas kesehatan Navalny. Kanselir Jerman, Angela Merkel meminta Rusia melakukan penyelidikan terhadap dugaan keracunan yang dialami oleh Navalny. Jerman juga meminta pertanggungjawaban kepada para pelaku. Sementara Duta Besar AS untuk Moskow, John Sullivan mengatakan, konfirmasi keracunan Navalny akan menjadi momen penting bagi Rusia.

Para pendukung Navalny meyakini bahwa Kremlin berada di balik serangan itu. Sekutu Angkatan Laut, Lyubov Sobol mengatakan, pada 2016 suaminya ditusuk dengan sebuah jarum suntik hingga membuatnya kejang.

Baca Juga

Sobol mengatakan kepada the Guardian bahwa zat serangga semacam ini adalah ciri khas Kremlin. Sobol percaya, serangan racun yang dialami oleh Navalny hanya dapat diizinkan oleh pejabat senior Rusia dengan sepengetahuan Presiden Vladimir Putin.

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA