Thursday, 14 Zulqaidah 1442 / 24 June 2021

Thursday, 14 Zulqaidah 1442 / 24 June 2021

Jerman Minta Rusia Selidiki Kasus Peracunan Tokoh Oposisi

Selasa 25 Aug 2020 09:27 WIB

Rep: Kamran Dikarma/ Red: Christiyaningsih

Alexei Navalny merupakan tokoh oposisi terkemuka di Rusia dan diracun saat di pesawat. Ilustrasi.

Alexei Navalny merupakan tokoh oposisi terkemuka di Rusia dan diracun saat di pesawat. Ilustrasi.

Foto: AP
Alexei Navalny merupakan tokoh oposisi terkemuka di Rusia dan diracun saat di pesawat

REPUBLIKA.CO.ID, BERLIN -- Kanselir Jerman Angela Merkel meminta Rusia menyelidiki kasus dugaan peracunan tokoh oposisi Rusia Alexei Navalny. Rumah sakit di Berlin yang kini tengah menangani Navalny telah menemukan indikasi zat beracun di tubuhnya.

"Mengingat peran penting yang dimainkan oleh Navalny dalam oposisi politik di Rusia, pihak berwenang di sana sekarang diminta untuk menyelidiki kejahatan ini hingga detail terakhir dan melakukannya dalam transparansi penuh," kata Merkel dalam pernyataan bersama dengan Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas pada Senin (24/8).

Merkel mengatakan mereka yang terlibat harus diidentifikasi dan dimintai pertanggungjawaban. Saat ini Navalny dalam keadaan koma dan sedang menjalani perawatan di Berlin’s Charite Hospital. Tim dokter telah melakukan pemeriksaan secara mendetail sejak Navalny tiba di sana pada Sabtu (22/8) pekan lalu.

"Temuan klinis menunjukkan keracunan dengan zat dari kelompok penghambat kolinesterase. Zat spesifik yang terlibat masih belum diketahui dan serangkaian pengujian komprehensif lebih lanjut telah dimulai," kata Berlin’s Charite Hospital dalam sebuah pernyataan.

Pejabat kesehatan Rusia membantah diagnosis tersebut. Menurut mereka Navalny telah dites negatif untuk penghambat kolinesterase ketika dia dirawat di rumah sakit di Omsk pekan lalu. Selain itu, mereka mengklaim bahwa Navalny tidak menunjukkan tanda-tanda keracunan sebelum dirujuk ke Berlin.

Penghambat kolinesterase adalah sekelompok senyawa kimia yang digunakan untuk berbagai hal, mulai dari senjata kimia hingga pestisida. Senyawa itu turut dipakai untuk memproduksi obat meringankan gejala Alzheimer dan jenis demensia lainnya. Gas saraf dan yang disebut kelompok bahan kimia 'Novichok' juga merupakan penghambat kolinesterase.

Menurut dokter yang merawatnya kini, meski kondisinya serius nyawa Navalny tidak terancam akibat keracunan. Namun efek jangka panjang, terutama pada sistem saraf, tidak dapat dikesampingkan.

Navalny diduga diracun di pesawat saat melakukan perjalanan ke Siberia pekan lalu. Dia pingsan setelah meminum teh yang disajikan kepadanya. Kremlin mengatakan tidak jelas apa yang menyebabkan Navalny jatuh sakit dan tes awal tidak menunjukkan dia diracun.

Navalny merupakan tokoh oposisi terkemuka di Rusia. Selama lebih dari satu dekade, dia telah dianggap sebagai "duri" oleh pemerintah. Navalny vokal menyuarakan kritik-kritiknya terhadap pemerintah, termasuk mengungkap kasus dugaan korupsi tingkat tinggi. Navalny kerap memobilisasi kelompok pemuda untuk berpartisipasi dalam unjuk rasa.

Dia telah berulang kali ditahan karena mengatur pertemuan publik dan demonstrasi. Navalny dilarang mencalonkan diri dalam pemilihan presiden pada 2018.

sumber : Reuters
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA