Monday, 11 Zulqaidah 1442 / 21 June 2021

Monday, 11 Zulqaidah 1442 / 21 June 2021

IDI Pastikan Penularan Covid-19 Masih Terus Terjadi

Senin 24 Aug 2020 17:12 WIB

Red: Indira Rezkisari

 Pada Senin (24/8), penambahan konfirmasi positif mencapai 1.877 kasus. Sedangkan kasus sembuh bertambah 3.560 orang. IDI meminta masyarakat tetap waspadai penularan Covid-19.

Pada Senin (24/8), penambahan konfirmasi positif mencapai 1.877 kasus. Sedangkan kasus sembuh bertambah 3.560 orang. IDI meminta masyarakat tetap waspadai penularan Covid-19.

Foto: Prayogi/Republika
IDI minta kecepatan testing dan tracing kasus Covid-19 ditingkatkan.

REPUBLIKA.CO.ID, oleh Rr Laeny Sulistyawati, Dessy Suciati Saputri, Antara

Pengurus Besar (PB) Ikatan Dokter Indonesia (IDI) menilai tren kasus baru positif terinfeksi virus corona SARS-CoV2 (Covid-19) cenderung meningkat. Jumlah kasus harian yang lebih dari 2.000 selama beberapa waktu terakhir harus menjadi satu pertanda.

Penularan Covid-19 masih terus terjadi. Banyak orang yang terinfeksi namun belum mengetahuinya dan kemudian menularkan ke yang lain.

Ketua Umum PB IDI Daeng M Faqih mengatakan, data yang dihimpun pemerintah kemudian dilaporkan ke publik terungkap bahwa kasus baru Covid-19 masih terjadi, bahkan di atas 2 ribu kasus per hari dalam beberapa hari terakhir. "Kalau memang kasus (Covid-19) terus naik berarti infeksinya masih terus terjadi, penularannya terus berjalan. Artinya banyak komunitas kita yang belum mengetahui (tertular Covid-19) dan belum diisolasi kemudian menularkan ke yang lain," ujarnya saat ditemui di kantornya, di Jakarta, Senin (24/8).

Bahkan, ia menyebutkan data bahwa satu orang yang terinfeksi Covid-19 di Jakarta berpotensi menularkan ke sembilan orang lainnya. Padahal, ia mengingatkan organisasi kesehatan dunia (WHO) telah menargetkan tidak ada lagi penularan.

"Jadi kita harus kerja lebih keras supaya orang yang telah terinfeksi virus tidak menularkan ke banyak orang," ujarnya.

Ia menyebutkan beberapa upaya yarus dikerjakan yaitu melakukan testing untuk menemukan kasus baru dan diisolasi. Ia menambahkan, pihak yang jadi garda terdepan testing, tracing, treatment adalah petugas kesehatan dan meminta meminta kecepatan melakukan testing bisa lebih baik.

Caranya adalah dengan terus menemukan kasus baru di lapangan. Kemudian begitu menemukan yang terinfeksi, dia melanjutkan, maka segera lakukan isolasi dan lokalisir supaya tidak menularkan ke yang laim.

Sementara itu, dia menambahkan, masyarakat yang sehat harus menerapkan protokol kesehatan supaya tidak sakit. Artinya, dia melanjutkan, aplikasi protokol kesehatan ini sebagai aspek pencegahan dan masyarakat jadi garda terdepan.

Tak hanya itu, ia meminta pimpinan masyarakat seperti pemerintah, hingga organisasi profesi juga ikut bergerak memberikan pemahaman, pengertian, pengaruh atau perintah kepada komunitasnya supaya disiplin dalam melakukan protokol kesehatan.  "Upaya ini perlu terus digenjot karena mungkin jalannya kurang kencang, apalagi di tengah masyarakat yang hoaksnya luar biasa," katanya.

Meski ada tren kenaikan jumlah kasus Covid-19, IDI menilai kapasitas rumah sakit (RS) yang menangani pasien terinfeksi corona di Tanah Air masih aman karena baru terisi 60 persen. Kendati demikian, IDI meminta Dinas Kesehatan (Dinkes) di masing-masing wilayah mengantisipasi membludaknya pasien dengan menghitung pertambahan kasus baru, kapasitas RS yang terisi, dan tempat tidur yang tersisa.

Daeng M Faqih mengatakan, meski IDI tidak memiliki data khusus jumlah kapasitas RS rujukan Covid-19, laporan dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) menyebutkan kapasitas tempat tidur untuk pasien Covid-19  masih tersedia sekitar 40 persen. Jadi, dia menambahkan, kapasitas RS yang menangani pasien Covid-19 yang terisi sebanyak 60 persen.

"Ini memang belum mengkhawatirkan tetapi harus ada langkah antisipasi karena kasusnya bertambah lebih dari 2 ribu per hari dan kalau konsisten terjadi maka salam sebulan bisa bertambah 70 ribu kasus baru. Jadi, Dinas Kesehatan harus menghitung pertambahan kasus Covid-19 baru, kapasitas RS yang terisi, dan yang tersisa," ujarnya.

Ia menyontohkan di beberapa daerah yang terjadi banyak kasus Covid-19 seperti DKI Jakarta harusnya menghitung berapa pertumbuhan kasusnya, berapa total kapasitas kamar, dan ruangan yang masih tersisa. Kemudian, dia melanjutkan, Dinas Kesehatan masing-masing wilayah juga harus memetakan yang berpotensi masuk RS berapa. Ia menegaskan upaya penghitungan ini harus dilakukan untuk antisipasi penuhnya ruangan pasien.

"Dinkes masing-masing daerah yang menghitungnya karena mereka yang tahu," katanya. Jika dihitung ternyata ada kelebihan kapasitas RS, ia meminta Dinas Kesehatan membuat beberapa skenario.

Pertama, ruangan di rumah sakit yang sudah menangani pasien Covid-19 dimodifikasi supaya ditambah kapasitas ruangannya, alat, dan pemerintah daerah ikut membantu menyediakannya. Kemudian, dia melanjutkan, kalau memang RS rujukan sudah penuh dan tidak memungkinkan menambah ruangan maka ia meminta Dinkes harus menerapkan strategi kedua yaitu RS yang lain non-rujukan Covid-19 bisa diminta untuk ikut menerima pasien.

Laporan harian yang dirilis Satuan Tugas Penanganan Covid-19 menunjukkan pada Senin (24/8) pukul 12.00 WIB, penambahan konfirmasi positif mencapai 1.877 kasus. Sedangkan kasus sembuh bertambah 3.560 orang.

Dengan penambahan itu, maka total konfirmasi positif Covid-19 di Indonesia menjadi 155.412 kasus dan yang sembuh menjadi 111.060 orang. Sementara itu, kasus meninggal dunia bertambah 79 orang sehingga total kasus meninggal akibat Covid-19 menjadi 6.759 orang.



Pada Ahad (23/8) pukul 12.00 WIB hingga Senin pukul 12.00 WIB, jumlah spesimen yang diperiksa oleh 320 laboratorium di seluruh Indonesia mencapai 19.395 spesimen dari 16.185 orang, sehingga total spesimen yang sudah diperiksa mencapai 2.056.166 spesimen dari 1.173.369 orang.

Provinsi dengan penambahan konfirmasi positif tertinggi adalah DKI Jakarta (633 kasus), Jawa Timur (320 kasus), Jawa Tengah (152 kasus), Jawa Barat (137 kasus), dan Papua (83 kasus). Sementara itu, provinsi dengan penambahan pasien sembuh terbanyak adalah DKI Jakarta (1.896 orang), Papua (408 orang), Jawa Timur (321 orang), Jawa Barat (208 orang), dan Jawa Tengah (99 orang).

Terdapat empat provinsi yang melaporkan tidak ada penambahan konfirmasi positif baru yaitu Bangka Belitung, Jambi, Nusa Tenggara Timur, dan Gorontalo. Jumlah suspek yang masih dipantau mencapai 76.745 orang, sedangkan konfirmasi positif Covid-19 yang masih diawasi mencapai 155.412 orang.

Sementara itu, Ketua DPR RI Puan Maharani meminta pemerintah mewaspadai meningkatnya kasus Covid-19 pascacuti bersama atau liburan Tahun Baru Islam 1442 H pada 20-23 Agustus 2020. Menurut dia, pada masa liburan itu, banyak masyarakat bepergian ke luar kota atau ke tempat-tempat wisata, sehingga rentan pada aktivitas yang membuat tertular atau menularkan.

"Kami meminta pemerintah meningkatkan pencegahan penyebaran Covid-19, utamanya selama sepekan ini, karena adanya hari libur di mana banyak orang bepergian ke luar kota atau ke tempat wisata," kata Puan dalam keterangannya di Jakarta, Senin.

Dia mengutip data dan catatan Jasa Marga, terdapat 153.806 kendaraan kembali menuju Jakarta pada H+2 Tahun Baru Islam, atau Sabtu (22/8), jika dibandingkan waktu normal, volume kendaraan yang kembali menuju Jakarta naik 41,4 persen. Puan menegaskan bahwa DPR RI meminta pemerintah tetap melakukan sosialisasi pencegahan penyebaran Covid-19 dengan penerapan pola hidup bersih dan sehat, jaga jarak aman, hindari keramaian orang, dan lakukan tes kesehatan.

"Jumlah kasus aktif di Indonesia sampai hari ini sejumlah 39.355 kasus. Secara nasional total kesembuhan kini mencapai 107.500 kasus, dan suspek sebanyak 75.552, serta spesimen 22.152. Wilayah sebaran Covid-19 saat ini terjadi di 34 provinsi dan 485 kabupaten/kota," ujarnya.

Puan mengatakan dengan data tersebut, perlu dilakukan memperketat prosedur tracking, terutama di level RT/RW, untuk melacak riwayat perjalanan orang-orang yang baru bepergian semasa libur. "Waspadai klaster-klaster baru di level keluarga. Kami merasakan kekhawatiran masyarakat akibat pandemik Covid-19," ujarnya.

Dia menilai Pemerintah harus bisa meningkatkan penanganan Covid-19, termasuk memberikan insentif untuk menunjang kesehatan tenaga medis dan nonmedis yang melayani pasien Covid-19.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta kepala daerah agar serius dan bekerja keras menangani pandemi di masing-masing daerahnya. Ia menginstruksikan Komite Penanganan Covid dan juga Menteri Dalam Negeri agar kembali mengingatkan satuan tugas di tiap daerah terkait upaya menghadapi krisis saat ini.

“Agar komite juga dalam hal ini Mendagri mengingatkan kembali pada satgas di daerah, kepada gubernur, kepada bupati, kepada wali kota agar betul-betul serius dan kerja keras dalam rangka penanganan Covid ini,” ujar Jokowi, Senin (24/8).

Presiden meminta agar kepala daerah fokus pada strategi untuk menyeimbangkan antara gas dan rem dalam upaya penanganan Covid-19 serta masalah ekonominya. Jokowi menyebut, dalam beberapa hari terakhir ini, peningkatan kasus Covid yang cukup besar kembali terjadi di sejumlah negara lainnya.

Seperti di negara-negara Eropa yakni Spanyol, Prancis, Jerman serta di sejumlah negara di kawasan Asia seperti India, Filipina, Bangladesh, Iran, Nepal, dan juga Korea Selatan. Presiden meminta agar perkembangan kasus di negara-negara lain pun turut diwaspadai.

“Saya baca kemarin. Ini perkembangan negara-negara lain ini juga perlu diwaspadai sehingga kita tidak kehilangan kendali atas manajemen yang ada dalam menangani ini, utamanya di daerah dan juga di pusat,” ungkapnya.

 

Baca Juga

photo
Mengapa Vaksin Itu Penting? - (UGM)






BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA