Sunday, 22 Zulhijjah 1442 / 01 August 2021

Sunday, 22 Zulhijjah 1442 / 01 August 2021

Perubahan Iklim Diyakini Jadi Sebab Kebakaran di Kalifornia

Senin 24 Aug 2020 16:02 WIB

Rep: Febryan A/ Red: Dwi Murdaningsih

 Petugas pemadam kebakaran Kapten Kelvin Patterson memadamkan titik api sekaligus melindungi rumah saat kebakaran yang terjadi di Hutan Nasional Angeles, California, utara Santa Clarita pada Kamis, (13/8/2020).

Petugas pemadam kebakaran Kapten Kelvin Patterson memadamkan titik api sekaligus melindungi rumah saat kebakaran yang terjadi di Hutan Nasional Angeles, California, utara Santa Clarita pada Kamis, (13/8/2020).

Foto: AP / Noah Berger
Kebakaran di Kalifornia kali ini memang yang terbesar dalam sejarah.

REPUBLIKA.CO.ID, CALIFORNIA -- Negara Bagian Kalifornia di Amerika Serikat (AS) dilanda kebakaran besar dalam sepekan terakhir. Lebih dari 300 ribu hektare hutan dan lahan terbakar. Akibatnya, enam orang meninggal dan ratusan ribu warga dievakuasi.

Menurut pihak pemadam kebakaran, 560 titik api di Kalifornia muncul karena dipicu oleh 12 ribu sambaran petir. Namun demikian, sejumlah pihak meyakini, penyebab utamanya adalah perubahan iklim.

Salah satunya Andrew Freedman, editor dari Capital Weather Gang Washington Post. Menurut dia, perubahan iklim memberikan dampak yang signifikan pada pola dan ukuran lahan yang terbakar di Kalifornia.

Kebakaran di Kalifornia kali ini memang yang terbesar dalam sejarah negara bagian tersebut. Menurut Freedman, kebakaran kali ini akan menghadirkan banyak kondisi diluar dugaan. Dan itu akan membahayakan petugas pemadam kebakaran.

Perubahan iklim, yang memperbesar kebakaran, mewujud dalam bentuk peningkatan suhu global. "Beberapa ahli yang saya ajak bicara tentang kebakaran ini mengatakan bahwa perubahan iklim membuat suhu di California setidaknya dua hingga empat derajat Fahrenheit di atas apa yang akan terjadi tanpa perubahan iklim," kata Freedman dalam wawancara dengan PBS News Hour, Ahad (23/8).

Menurut Freedman, sejauh mana perubahan iklim terjadi bisa ditentukan oleh umat manusia. Selalu ada pilihan yang bisa kita buat.

"Ilmuwan top yang saya ajak bicara selalu mengatakan, 'Anda tahu, ini tentang konsekuensi seperti apa dalam hal seberapa parah kita menginginkannya'," kata dia

Dia menjelaskan, jika ingin mengurangi peningkatan suhu global, manusia harus mulai mengurangi emisi gas rumah kaca. Semakin cepat melakukannya, dampak buruk dari perubahan iklim akan semakin cepat dikurangi. Terutama dalam beberapa dekade ke depan.

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA