Sabtu 22 Aug 2020 10:56 WIB

Sekolah Vokasi IPB Dorong Digitalisasi Penyuluh Pertanian

Di era new normal, penyuluh pertanian perlu menguasai media dan teknologi.

Buruh sawah usai menanam padi varietas melon di persawahan Desa Argomulyo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta, Jumat (7/8). Memasuki musim kemarau beberapa wilayah yang menggunakan irigasi masih bisa menanam padi. Namun, untuk sawah tadah hujan sudah berlatih ke palawija.
Foto: Wihdan Hidayat / Republika
Buruh sawah usai menanam padi varietas melon di persawahan Desa Argomulyo, Cangkringan, Sleman, Yogyakarta, Jumat (7/8). Memasuki musim kemarau beberapa wilayah yang menggunakan irigasi masih bisa menanam padi. Namun, untuk sawah tadah hujan sudah berlatih ke palawija.

REPUBLIKA.CO.ID, BOGOR --  Program Studi Teknologi Produksi dan Pengembangan Masyarakat Pertanian, Sekolah Vokasi (SV) IPB University mendorong proses  digitalisasi penyuluh pertanian. 

Terhadap hal ini, Prof Dr Sumardjo, dosen IPB University yang merupakan guru besar di bidang penyuluhan pembangunan mengatakan, skill yang harus dikuasai para penyuluh pertanian di era new normal adalah penguasaan media dan teknologi hingga kemampuan komunikasi yang efektif.

“Tantangan para penyuluh di era digital ini yaitu harus adaptif, timbal balik terhadap informasi dan memanfaatkannya untuk kegiatan penyuluhan serta mengenalkan pemanfaatan trik kepada para petani. Cyber Extension dan Media Forum merupakan wujud sinergi sistem penyuluhan dan komunikasi pembangunan,” ujarnya dalam rilis yang diterima Republika.co.id, Jumat (21/8).

Sementara itu penyuluh pertanian sekaligus blogger, Evrina Budiastuti SP berpendapat bahwa ada empat aspek dalam upaya improvisasi sistem informasi digital sebagai pendukung penyuluh pertanian. Keempatnya adalah media sosial, teleconference, vlog dan juga blog.

"Saya melihat Cyber Extension ini seperti balai penyuluhan digital. Cyber Extension merupakan mimbar pertanian untuk penyampaian materi dan informasi membantu fasilitas pelaku penyuluhan,” ujarnya.

Alumni muda IPB University yang merupakan Duta Petani Milenial Kementerian Pertanian, Sandi Octa Susila berpesan kepada anak-anak muda agar dapat berpikir jauh lebih cepat dalam menjawab tantangan perkembangan zaman.

Sandi memaparkan teknologi range selter, sebuah teknologi digitalisasi program hasil kerja sama dengan Telkom Indonesia yang diterapkan di lahan uji coba. Teknologi berbasis web tersebut memungkinkan penggunanya melihat kondisi setiap lahan yang sedang dibudidayakan.

"Digitalisasi sangat memungkinkan kita aplikasikan di lapangan, namun tidak bisa dilakukan hanya bersama petani tetap harus ada keterlibatan milenial farmer," tutupnya.

 

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement