Monday, 5 Jumadil Akhir 1442 / 18 January 2021

Monday, 5 Jumadil Akhir 1442 / 18 January 2021

Mufti Agung Mesir Ingatkan Soal Perlakukan Muslim ke Anjing

Jumat 21 Aug 2020 11:50 WIB

Rep: Imas Damayanti/ Red: Muhammad Hafil

Mufti Agung Mesir Ingatkan Soal Perlakukan Muslim ke Anjing. Foto ilustrasi: Ketika memutuskan memeliharaan anjing, pemilik harus memperhatikan sejumlah hal termasuk cara menjalin kedekatan dengan peliharaannya.

Mufti Agung Mesir Ingatkan Soal Perlakukan Muslim ke Anjing. Foto ilustrasi: Ketika memutuskan memeliharaan anjing, pemilik harus memperhatikan sejumlah hal termasuk cara menjalin kedekatan dengan peliharaannya.

Foto: Zabur Karuru/Antara
Mufti Agung Mesir menyebut dimungkinkan anjing dan manusia hidup berdampingan.

REPUBLIKA.CO.ID,  KAIRO -- Muslim dan anjing sesungguhnya dapat hidup berdampingan. Menurut Mufti Agung Mesir, Grand Mufti Shawky Allam, semua makhluk hidup itu suci dan masyarakat percaya bahwa anjing itu najis. Maka pengaturan perlakuan kepada anjing pun disuarakan.

Dilansir di Arab News, Jumat (21/8), Grand Mufti Shawky Allam membuat pernyataan di saluran Sada Al-Balad, bahwa terdapat perbedaan pendapat di antara para ulama mengenai anjing. Menurutnya, masyarakat kerap memandang anjing sebagai hewan yang tidak murni tetapi berdasarkan Imam Maliki mengatakan bahwa anjing merupakan hewan yang murni. 

Dia berkata bahwa Madzhab Maliki sampai pada kesimpulan ini dari logika mereka bahwa setiap binatang yang hidup adalah suci. “Kami mengadopsi doktrin Maliki di sini di Dar Al-Iftaa (badan penasihat Islam Mesir) dan telah memutuskan masalah ini berdasarkan itu,” tambahnya.

Dia menjelaskan bahwa dimungkinkan manusia untuk hidup berdampingan dengan seekor anjing dan tetap menyembah Tuhan. Jika seseorang dalam kondisi wudhu dan ada air liur dari anjing di tubuh atau pakaian seseorang, kata dia, tidak ada salahnya berdoa dan tidak perlu mengulang wudhu atau mencuci pakaian.

Status anjing di Mesir adalah sumber perselisihan, sebagian besar antara pemilik dan peternak anjing serta kelompok garis keras yang beragama. Ada kontroversi ketika orang-orang di media sosial mengedarkan gambar penasihat agama presiden Osama Al-Azhari berjabat tangan dengan seekor anjing.

Dia menjadi sasaran penghinaan. Untuk memperjelas posisinya, dia menjelaskan bahwa dia mengikuti Ashabul Kahfi yang merupakan sekelompok pemuda yang bersembunyi di gua untuk menghindari penganiayaan agama dan muncul ratusan tahun kemudian. Mereka adalah contoh tertinggi dari kebaikan dan ketuhanan dan tidak malu memelihara anjing. 

Tak hanya itu, Vokalis Mahmoud Al-Tohamy menjadi sasaran pelecehan verbal tahun lalu. Di mana dia turun ke Facebook untuk mempertahankan posisinya, membagikan fotonya dengan seekor anjing bernama Costa dan menyertai ini dengan bukti tentang kemurnian anjing. 

"Siapa pun yang mengatakan seekor anjing tidak murni, beri tahu mereka bahwa Tuhan tidak menciptakan sesuatu yang tidak murni," kata Al-Tohamy saat itu.

Menurutnya, jika Ashabul Kahfi bersentuhan dengan air liur anjing najis, pakaiannya akan dicuci, kemudian mereka akan berwudhu dan berdoa seperti biasa. Namun sebagaimana diketahui, anjing Ashabul Kahfi mati di sebelah mereka dan tetap menjadi pendamping mereka sepanjang hidup mereka. 

"Dan orang tidak keberatan dengan itu,” tambah Al-Tohamy.

Profesor Yurisprudensi Komparatif dan Hukum Islam di Universitas Al-Azhar, Ahmed Karima, mengatakan,   orang harus kembali ke kitab suci karena Tuhan mengizinkan anjing pemburu dan anjing penjaga. Dia juga mengungkapkan kekagumannya atas keputusan Imam Malik bin Anas bahwa setiap makhluk hidup adalah suci.

Artinya, dia menjabarkan, terdapat kemungkinan besar bagi umat Muslim untuk dapat memelihara anjing. Terlebih, anjing merupakan hewan yang mana kemurniannya pun telah disinggung oleh Imam Maliki.

“Di Dar Al-Iftaa, kami berusaha membuat kehidupan orang-orang menjadi lebih canggih dan, di masa sekarang, orang-orang menjadi sangat terikat dengan hewan peliharaan. Kami mengambil doktrin Maliki karena menganggap bahwa setiap makhluk hidup itu suci,” kata Sekretaris Jenderal Fatwa di Dar Al-Iftaa Omar Al-Wardani.

Pernyataan mufti itu disambut baik, terutama oleh pemilik anjing dan asosiasi hewan peliharaan. Kendati demikian, kalangan kaum garis keras masih mengkritiknya. Sebab perbedaan pendapat di kalangan ulama terkait perlakuan manusia ke anjing ataupun menjadikan anjing sebagai hewan peliharaan masih menjadi silang pendapat. 

Sumber:

https://www.arabnews.com/node/1721396/middle-east

Baca Juga

BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA