Kamis 20 Aug 2020 10:16 WIB

Kebakaran Hutan dan Lahan Jatim Masih Terkendali

Hingga pertengahan Agustus 2020, ada lebih dari 300 hektare lahan dan hutan terbakar.

Rep: Dadang Kurnia/ Red: Agus Yulianto
Asap dari kebakaran hutan Gunung Merapi Ungup-Ungup membubung ke udara di Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (24/10/2019).
Foto: Antara/Budi Candra Setya
Asap dari kebakaran hutan Gunung Merapi Ungup-Ungup membubung ke udara di Banyuwangi, Jawa Timur, Kamis (24/10/2019).

REPUBLIKA.CO.ID, SURABAYA -- Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur Suban Wahyudiono menyebut, hingga pertengahan Agustus 2020, ada lebih dari 300 hektare lahan dan hutan yang terbakar di wilayah setempat. Namun, dia menegaskan, kesemuanya itu bisa dikendalikan. Titik kebakaran hutan dan lahan tersebut terpantau di beberapa daerah seperti Nganjuk dan Banyuwangi.

"Ada beberapa daerah yang kebakaran hutan dan lahan. Beberapa kali ada di Nganjuk, Banyuwangi," ujar Suban dikonfirmasi Kamis (20/8).

Suban berharap, luasan kebakaran hutan dan lahan tersebut bisa ditekan, dan jumlahnya tidak seluas tahun lalu. Dimana pada 2019, dari luas lahan Perhutani di Jatim yang mencapai 1,3 juta hektare, sebanyak 23 ribu hektare lahan mengalami kebakaran.

"Semoga tahun ini agak lebih sedikit. Sampai hari ini sudah 300 sekian hektare yang kebakar (hutan dan lahan)" ujarnya. 

Suban mengakui, kebakaran hutan dan lahan tahun 2019 terbilang cukup parah. Titik api tersebar hampir merata di sejumlah daerah di Jatim. Bahkan tujuh gunung dengan ketinggian 1.000-1.500 meter di atas permukaan laut (MDPL) nyaris terbakar secara bersamaan. Situasi itu yang diakui Suban menimbulkakesulitan dalam upaya pemadaman.

"Pemadaman secara manual tidak mungkin kita berangkat ke ketinggian itu. Butuh waktu 6-8 jam perjalanan. Semoga tahun ini. ya kalaupun ada kebakaran, tapi letaknya tidak berada di ketinggian," kata dia. 

Laporan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) yang diterima BPBD Jatim, saat ini wilayah setempat sudah memasuki puncak musim kemarau. Meski sudah masuk masa puncak, namun Suban tidak berani berspekulasi soal kebakaran. Menurutnya, bencana tidak bisa diprediksi dan bisa kapanpun terjadi. 

"Jadi kita ketahui bersama bahwa kejadian bencana kita tak tahu kapan di mana. Tapi bencana punya siklus. Ada ulangan setiap satu tahun seperti banjir di Gresik. Ada yang lima tahun bahkan ratusan," ujarnya. 

BPBD Jatim diakuinya sudah menyiapkan peralatan sebagai bentuk kesiapsiagaan dalam menghadapi kebakaran hutan dan lahan. Mulai dari mobil tanki air hingga sepeda motor telah disiagakan. Peralatan ini untuk membantu kebakaran hutan dan lahan di wilayah dataran rendah, atau medan yang mudah terjangkau. 

"Tapi kalau seperti tahun lalu itu di ketinggian 1.000-1.500 di tebing rasanya kemiringan 60 derajat susah dijangkau. Makanya, kemarin pinjam heli dari TNI," kata dia.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement