Sunday, 3 Zulqaidah 1442 / 13 June 2021

Sunday, 3 Zulqaidah 1442 / 13 June 2021

Mahfud: Soekarno Seorang Santri, Bukan Penganut Sekularisme

Selasa 18 Aug 2020 19:11 WIB

Red: Andri Saubani

Pekerja menutup patung Ir Soekarno dengan plastik saat dilakukan renovasi di Museum Perumusan Naskah Proklamasi di Jalan Imam Bonjol, Jakarta, Selasa (18/8/2020). Tempat perumusan naskah Proklamasi yang kini menjadi museum Perumusan Naskah Proklamasi tersebut dulunya merupakan kediaman seorang perwira Jepang Laksamana Muda Tadashi Maeda.

Pekerja menutup patung Ir Soekarno dengan plastik saat dilakukan renovasi di Museum Perumusan Naskah Proklamasi di Jalan Imam Bonjol, Jakarta, Selasa (18/8/2020). Tempat perumusan naskah Proklamasi yang kini menjadi museum Perumusan Naskah Proklamasi tersebut dulunya merupakan kediaman seorang perwira Jepang Laksamana Muda Tadashi Maeda.

Foto: Antara/Aprillio Akbar
"Bung Karno pada dasarnya santri," kata Mahfud MD.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan Mahfud MD menyebutkan bahwa Soekarno atau Bung Karno bukan penganut sekularisme. Karena, menurut Mahfud, Soekarno pada dasarnya adalah seorang santri.

"Bung Karno pada dasarnya santri. Kalau santri diistilahkan dengan orang Islam yang menjalankan ajaran agamanya, seperti melaksanakan shalat lima waktu, naik haji, puasa, dan sebagainya. Dari sudut itu Bung Karno santri," kata Mahfud, Selasa (18/8).

Hal tersebut disampaikan Mahfud saat webinar nasional bertema "Kontekstualiasi Nilai-Nilai Pancasila sebagai Dasar Negara, Falsafah Hidup Bangsa dan Ideologi Negara" dan peluncuran buku karya Prof Dr Hamka Haq berjudul "Asas Kehidupan Berbangsa dan Bernegara: Jejak Pemikiran Soekarno" yang disiarkan secara daring.

Mahfud menjelaskan, bahwa dalam pandangan tokoh Islam ketika itu ada dua aliran, yakni mereka yang menginginkan bahwa Islam harus membentuk negara agar Islam maju, seperti diwakili oleh M Nasir. Akan tetapi, kata dia, ada pula tokoh yang berpandangan agar Islam maju harus dipisahkan dari negara, termasuk salah satunya adalah Bung Karno.

Jejak pemikiran Bung Karno tentang Islam, kata Mahfud, bisa ditelusuri pada tulisan-tulisannya di Majalah Pandji Islam sejak tahun 1938, antara lain "Memudakan Pengertian Islam", "Apa Sebab Turki Memisah Agama dari Negara", "Masyarakat Onta dan Masyarakat Kapal Udara, dan "Islam Sontoloyo".

Pemikiran-pemikiran Bung Karno itu, kata dia, justru menunjukkan sifat dan semangat Presiden pertama RI itu dalam membangun Islam tanpa dikaitkan dengan negara. Namun, Mahfud mengatakan Bung Karno menyadari bahwa kedua pandangan itu perlu dipertemukan dan dikompromikan.

"Terjadilah dialektika, ketemu, dikompromi, jadilah Pancasila. Jadi, Bung Karno itu bukan penganut sekularisme. Tetapi, bagaimana membangun Islam di sebuah Negara Kesatuan Republik Indonesia, lahirlah Pancasila itu," katanya.

Menurut Mahfud, buku yang ditulis oleh Ketua Umum Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi), sayap organisasi PDI Perjuangan itu menjelaskan tentang asas-asas kehidupan negara yang disampaikan oleh Bung Karno. Padahal, seperti diketahui, kata dia, Bung Karno di dalam perumusan dasar negara adalah orang yang paling terkemuka, termasuk yang mengetuai Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) dan Panitia Sembilan yang menghasilkan Piagam Jakarta.

sumber : Antara
BACA JUGA: Ikuti News Analysis News Analysis Isu-Isu Terkini Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA