Sunday, 6 Ramadhan 1442 / 18 April 2021

Sunday, 6 Ramadhan 1442 / 18 April 2021

Pertamina Proyeksikan Penjualan BBM Capai 44,16 Juta KL

Selasa 18 Aug 2020 14:21 WIB

Rep: Intan Pratiwi/ Red: Nidia Zuraya

SPBU Pertamina

SPBU Pertamina

Foto: blogspot.com
Sampai akhir 2020 diprediksi konsumsi BBM nasional akan semakin meningkat.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Pertamina (Persero) memproyeksikan penjualan BBM hingga akhir 2020 mencapai 44,16 juta KL, atau empat persen lebih tinggi dibanding Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2020 revisi skenario tiga Covid sebesar 42,31 juta KL. 

Direktur Regional dan Marketing Subholding Commercial & Trading Pertamina, Jumali mengatakan saat ini penjualan BBM mulai meningkat, namun belum kembali normal seperti sebelum Covid-19. Pertamina sepanjang 2019 mencatat penjualan BBM sebesar 51,3 juta KL. Artinya, penjualan BBM tahun ini 14 persen lebih rendah dibanding realisasi 2019.

“Sampai akhir 2020 kami prediksi konsumsi BBM akan semakin meningkat. Kita targetkan melampaui RKAP, namun masih di bawah angka 2019,” kata Jumali, Selasa (18/8).

Menurut Jumali, saat mulai diberlakukan kebijakan new normal yang dimulai work from office (WFO) secara bertahap dan pelonggaran PSBB (pembatasan sosial berskala besar), penjualan BBM mulai meningkat. Pertamina mencatat penjualan BBM mulai Juli 2020 rata-rata harian mulai naik 17 persen menjadi 121.980 KL per hari dibanding selama masa Covid-19 periode Maret-Juni 2020 sekitar 104.890 KL per hari.

Saat kondisi pandemi Covid-19, permintan BBM turun 25 persen dibanding kondisi normal sebesar 140.550 di akhir 2019. Hal ini disebabkan adanya kebijakan work from home dan stay at home serta kebijakan PSBB yang membatasi mobilisasi masyarakat.  “Penurunan demand BBM cukup signifikan terjadi pada bulan Maret – Juni 2020 menjadi hanya 104.890 KL per hari,” kata Jumali.

Jumali mengatakan ritel atau sektor transportasi menjadi kontributor utama penjualan BBM Pertamina, yakni mencapai 70-80 persen. Sisanya, berasal dari penjualan BBM ke sektor industri.

Kondisi berbeda terjadi pada konsumsi LPG. Kondisi pandemi Covid-19 membuat permintaan LPG naik sekitar dua persen dibandingkan kondisi normal. Hal ini disebabkan kebijakan WFH, sehingga kegiatan masyarakat kebanyakan dilakukan di rumah.

“WFH justru meningkatkan konsumsi LPG karena semua tinggal di rumah. Walaupun sebenarnya ada penurunan di sektor rumah makan atau restoran,” kata Jumali.

Mengingat daya beli konsumen turun 13 persen selama masa pandemi Covid-19, diprognosakan hingga akhir 2020 penjulan LPG hanya tumbuh 1,3 persen menjadi 7,84 juta matrik ton (MT) dibanding kondisi normal seperti akhir 2019 sebesar 7,75 juta MT.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
  • Komentar 0

Dapatkan Update Berita Republika

 

BERITA LAINNYA