Kamis 13 Aug 2020 17:55 WIB

PGN Perluas Pemanfaatan Gas Bumi Melalui Sinergi BUMN

Penyerapan gas PGN terbesar dilakukan oleh pembangkit listrik PLN

Untuk mendukung program Pemerintah pada penyediaan listrik 35.000 MW di Indonesia, PGN memperkuat sistem kelistrikan DKI Jakarta dan Jawa - Bali dengan penyaluran Gas Bumi di Wilayah Jawa Barat untuk pembangkit IP Priok, PJB Muara Karang, PJB Muara Tawar dan IP Cilegon.
Foto: PGN
Untuk mendukung program Pemerintah pada penyediaan listrik 35.000 MW di Indonesia, PGN memperkuat sistem kelistrikan DKI Jakarta dan Jawa - Bali dengan penyaluran Gas Bumi di Wilayah Jawa Barat untuk pembangkit IP Priok, PJB Muara Karang, PJB Muara Tawar dan IP Cilegon.

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN) sebagai bagian dari holding PT Pertamina (Persero) melakukan sinergi BUMN dalam upaya memperluas pemanfaatan gas bumi melalui pembangunan infrastruktur dan memberikan pelayanan gas bumi di seluruh sektor.

"Dalam pembangunan infrastruktur dan pengembangan bisnis gas bumi, bagi PGN Group tidak semuanya bisa berjalan sendiri. Kerja sama dan dukungan dengan berbagai pihak, termasuk sesama BUMN, sangat penting untuk menyelaraskan dengan misi PGN," kata Sekretaris Perusahaan PGN Rachmat Hutama dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis.

Sinergi BUMN yang dilakukan antara lain dengan PT PLN (Persero), PT Krakatau Steel (Persero) Tbk hingga Pupuk Indonesia Group. Rachmat mengatakan penyerapan gas PGN terbesar dilakukan oleh pembangkit listrik PLN selaku penyedia listrik nasional. Pada sektor ini, telah terserap sekitar 41 persen dari total penyaluran gas bumi PGN per hari.

Pada triwulan I 2020, PGN menyalurkan gas ke pembangkit listrik lebih dari 200 BBTUD dan mampu menghasilkan kapasitas listrik lebih dari 960 MW, yang didukung oleh fasilitas pipa gas maupun regasifikasi LNG. Implementasi penurunan harga gas juga berdampak pada sektor kelistrikan sesuai dengan Kepmen ESDM 91K/2020.

Melalui implementasi kebijakan tersebut, diyakini akan mendorong penghematan biaya pokok produksi PLN, sehingga dapat tersedia biaya listrik yang terjangkau bagi masyarakat dan menciptakan dampak ganda untuk percepatan pertumbuhan ekonomi nasional. "PLN merupakan konsumen terbesar PGN dan tanggung jawabnya juga besar untuk menyediakan energi listrik nasional," ujar Rachmat.

 

"Maka dari itu, PGN senantiasa berupaya optimal dalam menjaga kualitas infrastruktur dan keamanan pasokan gas. Proyek strategis regasifikasi LNG untuk pembangkit listrik yang saat ini sudah mulai dikerjakan, harapannya dapat semakin mendukung keandalan penyediaan sumber energi yang merata di berbagai wilayah. Proses pembangunan saat ini, pada tahap Quick Win untuk PLTMG Tanjung Selor, Nias, dan Sorong," jelas Rachmat.

Selain pembangkit listrik PLN, sektor industri dan komersial juga merupakan konsumen yang banyak menyerap gas. PGN sendiri pada beberapa waktu lalu telah menandatangani Perjanjian Jual Beli Gas dengan PT Krakatau Steel (Persero) Tbk, dengan harga yang kompetitif sesuai Kepmen ESDM 89K/2020. Gas bumi dengan volume sebesar 300.000-450.000 MMBTU atau setara dengan 10-15 BBTUD akan dipasok PGN untuk Kawasan Industri Krakatau Industrial Estate Cilegon (KIEC) di Banten.

"Kiprah PT Krakatau Steel sebagai kontributor pada proyek-proyek pembangunan strategis nasional maupun swasta, menjadi peluang bagi PGN sebagai subholding gas dalam memperkuat layanan gas bumi pada sektor baja. PGN berharap, Krakatau Steel dapat memaksimalkan volume pemakaian gas pada kegiatan bisnisnya sesuai kontrak yang telah disepakati. Dengan menggunakan gas bumi, PT Krakatau Steel akan mendapatkan nilai lebih dari pemakaian energi yang efisien," terang Rachmat.

Menurut Rachmat, dengan penurunan harga sesuai Kepmen ESDM 89K/2020, diharapkan akan berdampak pada penurunan biaya operasi di PT Krakatau Steel sebesar 7 persen. Dengan demikian, efisiensi perseroan bisa didorong dan produk baja nasional semakin kompetitif di pasar.

"PT Krakatau Steel dan industri baja yang lain menjadi salah satu prioritas pemerintah untuk didorong produktivitasnya. Jadi kami rasa, PGN juga harus mendukungnya. Selain jual beli gas, PT Pertagas selaku anak perusahaan PGN, juga bekerja sama dengan PT Krakatau Steel untuk keperluan material baja pada proyek pembangunan pipa minyak Rokan," imbuhnya.

Rachmat menambahkan implementasi Kepmen ESDM 89.K/2020 juga bermanfaat bagi mitra PGN di sektor pupuk, termasuk PT Pupuk Indonesia (Persero) Group. Dengan harga gas 6 dolar AS per MMBTU diharapkan akan dapat meningkatkan daya saing produk karena biaya produksi lebih efisien dan memaksimalkan ekspansi bisnis yang tengah dijalankan.

"Dengan penurunan harga menjadi 6 dolar AS/MMBTU, pada PT Petrokimia Gresik yang memproduksi pupuk Urea, ZA, dan NPK akan menghemat biaya produksi sekitar 700 miliar dolar AS per tahun. Sekaligus menurunkan biaya subsidi pupuk yang harus dibayarkan oleh pemerintah, sehingga ada dampak positif pada ketahanan pangan nasional," katanya.

Rachmat mengatakan pihaknya terus termotivasi untuk memperluas pengembangan bisnis dan kebermanfaatan gas bumi di seluruh sektor. Menurut dia, sinergi BUMN menjadi salah satu upaya, agar penyaluran manfaat gas bumi bisa tepat sasaran dan menjangkau masyarakat secara masif.

Selain juga dapat membantu pemerintah dalam hal efisiensi. Rachmat menambahkan PGN membuka kerja sama yang sebesar-besarnya dengan seluruh pihak dalam pembangunan infrastruktur dan meningkatkan kualitas layanan gas bumi, agar menjamin pemenuhan kebutuhan gas bumi untuk pertumbuhan perekonomian nasional.

sumber : antara
Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement