Friday, 20 Zulhijjah 1442 / 30 July 2021

Friday, 20 Zulhijjah 1442 / 30 July 2021

Hindari Karantina, Ribuan Turis Asing Tinggalkan Prancis

Ahad 16 Aug 2020 04:22 WIB

Rep: Farah Norsativa/ Red: Nidia Zuraya

Turis berjalan-jalan sambil memakai payung di pelantaran Trocadero di depan Menara Eiffel saat hujan mengguyur Paris, Prancis, pada 30 Mei 2016.

Turis berjalan-jalan sambil memakai payung di pelantaran Trocadero di depan Menara Eiffel saat hujan mengguyur Paris, Prancis, pada 30 Mei 2016.

Foto: Reuters/Charles Platiau
Kebijakan karantina bagi turis asing diberlakukan di Prancis mulai 15 Agustus 2020.

REPUBLIKA.CO.ID, PARIS -- Otoritas Prancis memberlakukan kebijakan kesehatan baru yang akan diberlakukan mulai Sabtu (15/8). Kebijakan itu adalah sebuah persyaratan untuk isolasi selama 14 hari bagi wisatawan yang datang dari Inggris, Belanda, Monako, Malta, Kepulauan Turks dan Caicos, dan Aruba.

Oleh karenanya, dilansir di laman BBC, Sabtu (15/8), ribuan wisatawan asal Inggris yang ada di Prancis pun berbondong-bondong bergegas kembali ke Inggris sebelum Sabtu. Mereka menghindari karantina yang merupakan kebijakan kesehatan baru itu.

Hal itu tercermin kepada penjualan kereta Eurotunnel yang terjual habis pada Jumat (14/8) waktu setempat. Para pelancong yang menggunakan alat transportasi udara pun menghadapi harga yang tinggi. Sementara, jumlah pengguna kapal feri pun meningkat.

Belanda pun memperingatkan warganya dan para pelancong, agar tidak melakukan perjalanan keluar Belanda. Namun mereka mengecualikan perjalanan penting ke Inggris, setelah pembatasan perjalanan antarnegara diberlakukan pada Sabtu (15/8). Belnda pun tak akan menerapkan tindakan timbal balik.

Menurut Sekretaris Transportasi Grant Shapps, negara-negara itu menjadi sasaran pembatasan karantina karena tingkat infeksi mereka melebihi 20 kasus per 100.000 orang selama tujuh hari. “Ada sekitar 160 ribu wisatawan Inggris di Prancis, dan hal terakhir yang ingin kami lakukan adalah membuat orang kembali dan membawa infeksi dengan mereka,” kata dia kepada BBC.

Tenggat waktu tersebut membuat banyak pelancong terburu-buru untuk membeli tiket pesawat, kereta api, atau feri seharga ratusan pound. Termasuk Tom Duffell, yang menjalankan bisnis kecil yang tengah berlibur bersama istri dan dua anaknya ke Nice.

Adanya kebijakan baru tersebut mempersingkat liburannya menjadi empat hari. Dia pun memesan penerbangan pulang pada menit-menit terakhir.

"Kami menikmati koktail yang enak tadi malam dan tiba-tiba sebuah berita muncul dan berebut untuk memesan penerbangan. Kami harus mengeluarkan sekitar 800 poundsterling karena kami tidak mampu mengambil cuti dua pekan lagi,” kata dia.

Pada saat perjalanan pulang pun, dia menyebut tak ada lagi jaga jarak sosial di bandara. Dia juga juga mendapati banyak antrian panjang serta kerumunan di bandara.

Pihak keret Eurotunnel mengatakan 12.000 orang mencoba memesan tiket untuk kereta Terowongan Channelnya satu jam setelah aturan baru diumumkan, pada Kamis (12/8) lalu, dibandingkan dengan biasanya yang hanya ratusan.

"Tidak ada antrian besar. Sepertinya banyak orang yang memutuskan untuk tinggal di Prancis," ungkap Juru bicara Eurotunnel John Keefe.

BACA JUGA: Update Berita-Berita Politik Perspektif Republika.co.id, Klik di Sini
 
 
 
 
 
 

Dapatkan Update Berita Republika

BERITA LAINNYA