Rabu 12 Aug 2020 16:47 WIB

Perdagangan Sawit Semester I Tumbuh Positif

Selama 2019, total nilai ekspor sawit Indonesia mencapai 20,2 miliar dolar AS.

Rep: Dedy Darmawan Nasution/ Red: Nidia Zuraya
Petani memetik tandan buah segar (TBS) kelapa sawit. ilustrasi
Foto: ANTARA /Syifa Yulinnas
Petani memetik tandan buah segar (TBS) kelapa sawit. ilustrasi

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki) menyatakan, meski di tengah pandemi virus corona, kinerja industri sawit khususnya dalam perdagangan global masih bisa mencatatkan kinerja positif. Hingga akhir tahun 2020, kinerja industri sawit diyakini masih bisa bertahan dan bisa menyamai kinerja 2019.

Ketua Umum Gapki, Joko Supriyono, mengatakan, nilai ekspor sawit kurun semester I 2020 mencapai 10,06 miliar dolar AS. Hingga akhir 2020, ia memperkirakan nilai ekspor setidaknya bisa mencapai level 20 miliar dolar AS.

Baca Juga

Sebagai catatan, selama 2019, total nilai ekspor sawit mencapai 20,2 miliar dolar AS. "Mestinya sampai akhir tahun tidak jauh beda dari tahun lalu. Kita bersyukur operasional masih berjalan normal, walaupun tetap ada perbedaan dibanding kondisi sebelum pandemi," kata Joko dalam konferensi pers virtual, Rabu (12/8).

Naiknya nilai ekspor sawit salah satunya didorong oleh kenaikan harga crude palm oil (CPO) secara global. Rata-rata harga CPO hingga Juni sebesar 602 dolar AS per ton-Cif Rotterdam atau naik dari posisi Mei sebesar 526 dolar AS.

Meski nilai ekspor meningkat, ia mengatakan, volume ekspor sawit mengalami kontraksi. Sepanjang semester I 2020, total volume ekspor mencapai 15,5 juta ton, turun dari periode sama tahun lalu yang mencapai 17,5 juta ton.

Menurut Joko, turunnya volume ekspor sudah diprediksi oleh para pengusaha sejak awal tahun ini. Pasalnya, 70 persen produksi sawit dari Indonesia setiap tahun menempati pasar ekspor.

Namun, akibat pandemi Covid-19, hampir semua negara tujuan ekspor mengalami pelemahan permintaan akibat kontraksi perekonomian. "Sejak Februari mereka sudah duluan menerapkan lockdown, pasar utama seperti Eropa, India, China, turun. Jadi demand secara global memang mengalami pelemahan sangat signifikan," kata dia.

Adapun untuk konsumsi minyak sawit domestik mengalami kenaikan tipis. Sepanjang semester I 2020, total konsumsi mencapai 8,6 juta ton, meningkat dari semester I 2019 yang sebanyak 8,4 juta ton.

Menurut dia, tren kenaikan itu bisa dicapai karena Indonesia baru menerapkan kebijakan Pembatasan Sosial Skala Besar (PSBB) menjelang akhir semester I. "Pasar domestik sejauh ini punya market share sampai 37 persen, biasanya hanya 30 persen. Mudah-mudahan ada upaya penguatan pasar domestik sehingga nanti akan mencapai titik keseimbangan," kata dia.

Lantara pangsa pasar minyak sawit didominasi oleh pasar luar negeri, Joko memaparkan produksi minyak sawit secara akumulasi tetap mengalami kontraksi. produksi total minyak sawit semester I 2020 mengalami kontraksi sekitar 10 persen. Hingga Juni 2020, akumulasi produksi sebesar 23,5 juta ton, angka itu lebih rendah dibanding periode sama tahun lalu yang mencapai 25,8 juta ton.

Joko mengatakan, Gapki belum dapat memperkirakan seperti apa kegiatan produksi hingga akhir tahun. Sebab situasi sangat dinamis. Menurutnya, penurunan produksi bukan hanya dipengaruhi oleh dampak pandemi.

Namun, dampak turunan dari tahun lalu di mana terjadi musim kering berkepanjangan juga rentetan kejadian tahun 2018 yang menekan produksi. "Kita tidak tahu, sampai akhir tahun bagaimana, tapi yang jelas sejak awal tahun kita sudah minus 10 persen," katanya menambahkan.

Advertisement
Berita Lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement